Jumat, 25 Agustus 2023

[Cernak] Doremi Karya Imi Fadhil



Gambar: Canva Apk

Di jalanan menuju pulang aku bergegas setengah berlari karena aku tahu kalau hari ini jadwal Bapak pulang. Hampir setengah tahun Bapak meninggalkan kami untuk pekerjaanya di negeri sakura, Jepang.

“Assalamu’alaikum!” ucapku sambil membuka pintu.

“Waalaikum salam warahmatullah!” jawab Ibu dan Bapak serentak.

Aku langsung berlari ke arah Bapak berdiri. Aku langsung memeluknya dengan erat.

“Bapak, kenapa lama pulangnya?” protesku.

Bapak hanya tersenyum.

“Sudah, Nak. Lepaskan! Bapakmu capek mau istirahat,” saran Ibu.

“Ya, sudah. Aku ke kamar dulu.” Aku kecewa karena masih kangen Bapak.

Aku pun menaiki tangga, tapi saat aku naik satu-dua anak tangga. Aku teringat sesuatu. Ada satu hal yang aku lupakan. Aku pun berbalik arah, menengok ke arah Bapak lagi.

“Pak, mana oleh-oleh untukku?” tagihku.

“Sudah Ibu simpan di kamarmu, bawel.” Ibu bantu menjawab pertanyaan yang sebenarnya kutunjukkan ke Bapak.

“Oke! He..he..he..!” Aku tertawa kecil.

Aku lanjutkan langkah kecilku menuju surgaku. Kamar kecil tempatku merebahkan raga ini. Segenap rehat dari aktivitas dan rutinitas. Tahun ini, aku kelas 2 SD. Sepanjang langkahku menuju kamar aku berpikir hadiah apa yang Bapak berikan padaku.

“Kok deg-degan ya?” pikirku dalam hati.

Perlahan aku membuka pintu. Tetiba ada yang menyapaku.

“Selamat datang, Dilah! Selamat datang, Dilah!”

“Kamu siapa? Ini kan kamarku,” tanya Dilah pada makhluk aneh itu.

“Aku Doremi,” jawabnya.

“Hah? Siapanya Doraemon?” candaku.

“Aku cucu Doraemon.”

Aku makin bingung. Aku pun menghampiri makhluk aneh yang mengaku cucunya Doraemon itu. Doremi berkata lagi, “Aku adalah hadiah dari Bapakmu, asli jepang.”

“Kamu bisa apa aja?” introgasiku.

“Banyak.” Balasnya.

“Ya, apa?” aku tanya balik.

“Apa saja. Aku bisa apa saja.” Jelasnya.

Aku masih aneh. Aku pun langsung menuju ranjangku. Aku tak sedikit pun memedulikan makhluk itu. Aku hanya capek. Aku ingin istirahat.

Doremi pun mengeluarkan sebuah pintu dalam kantongnya.

“Pintu ajaib!” kata Doremi.

Aku terperanjat dari tempat tidur.

“Aku mau ke masa depan, bisa kah?” tanyaku.

“Tentu saja bisa,” jawab manis Doremi.

Doremi bentuk perempuan dari Doraemon. Mungkin, memang benar bahwa ia masih keturunan Doraemon. Bapak membelinya dari jepang. Seperti Doraemon, Doremi pun punya kantong ajaib yang punya banyak benda ajaib.

Aku pun masuk ke pintu ajaib bersama Doremi. Saat membukanya terasa angin besar, sangat besar menyibak kerudung putihku. Aku langkahkan satu kakiku. Aku mulai merasakan dimensi yang berbeda. Dimensi waktu yang tak biasa.

Aku tiba di jalan raya yang sangat modern. Tak ada motor berkeliaran, yang membuat jalanan macet. Yang ada hanya tranportasi umum. mobil, bus dan kereta api yang jauh berbeda dari jangkauan ingatanku selama ini.

“Ini Indonesia?” tanyaku pada Doremi.

“Iya, ini Indonesia. Is it wonderful right?” kata Doremi.

Aku mengangguk. Aku benar-benar takjub dan tak habis pikir, di mana aku berada. Kemudian aku melihat ada layar berjalan bertuliskan 26 Maret 2099. Di situ aku tahu kalau aku sedang berada di tahun 2099. Sembilan puluh dua tahun dari sebelum masuk ke pintu ajaib punya Doremi.

Doremi mengajakku naik angkot. Jangan kamu bayangkan angkotnya seperti angkot jurusan Cipatik-Tegalega berwarna kuning. Tidak juga seperti angkot jurusan Soreang-Leuwi Panjang, berwarna hijau. Angkot di tahun 2099 tidak mengenal ‘ngetem’. Penumpang yang hendak naik angkot harus pergi ke sebuah tempat semacam halte. Tak susah mendapati halte yang aku maksud.

Aku dan Doremi pun menuju halte hanya lima meter dari tempat kami pertama berdiri. Halte memang ada di tiap dua puluh lima meter saja di tiap tepi jalan. Aku pun memencet tombol tujuan agar mobil angkutan umum berhenti di tempat kami.

Tak sampai lima menit, mobil angkutan umum pun berhenti. Pintunya terbuka, menyambut kami.

“Silakan masuk, nona!” mobil itu bersuara.

Kami pun masuk. Aku duduk di kursi sebelah kanan. Doremi duduk di sampingku. Kursinya sangat empuk. Bahkan, bisa disebut sofa. Hanya beberapa orang yang ada dalam angkutan tersebut. Sepertinya semua pelajar. Semua seperti kaku. Aku tak tahu itu robot atau manusia. Raganya memang sangat mirip manusia, tapi rasa kemanusiaannya sama sekali tak ada. seperti tak ada kehidupan dalam angkutan tersebut. Hal itu membuat saya bosan. Waktu terasa berjalan lebih lama.

Dalam mobil tak ada kondektur, bahkan supirnya pun ternyata tidak ada. Semua dikendalikan oleh mesin jauh dari stasiun pusat pengendalian angkutan umum. Tak ada jalanan macet. Adapun jika mecet, roda akan berdiri sejajar, mobil pun menaik di atas udara sekitar dua meter atau lebih tinggi sesuai dengan kebutuhan. Jalanan macet pun dilalui tanpa hambatan.

Kulihat bus pun sama begitu. Melayang di udara jika macet terjadi. Dengan ditopang ban yang sejajar dan ramping. Jika jalanan tak macet lagi mobil atau bus kembali ke keadaan semula. Namun, bus adalah kendaraan untuk kebutuhan transportasi jarak jauh.

Manusia yang aku temui semua muda, tak ada seorang pun kakek atau nenek. Hal itu karena, kata Doremi, manusia di masa ini usianya terhenti di umur dua puluh lima tahun.

“Manusia, dengan otaknya yang hebat sudah menemukakan penawar tua,” tambah Doremi.

“Masya Allah! Yang paling adalah hebat Allah yang menciptakan otak manusia.” Decakku kagum.

“Itu apa Doremi?” aku menunjuk benda yang melintas cepat di udara, tapi masih ada dalam satu garis lintasan.

“Itu, kereta api, Dilah.” Doremi menjelaskan.

“Kalau Dilah mau ke Surabaya, cukup 5 menit saja, bisa sampai di sana.”

Aku tak hentinya berdecak kagum.

“Aku ingin tahu rumah sakit di tahun 2099 seperti apa?” gumamku.

Doremi mendengarkan gumamanku dan langsung menimpali, ”Di sini tak ada rumah sakit.”

“Kenapa?” tanyaku terheran-heran.

“Semua penyakit sudah ada penangkalnya maka tak perlu ada lagi rumah sakit.”

“O..la..la!” aku menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.

“Kamu mau rekreasi ke luar angkasa?” saran Doremi.

“Caranya?” tanyaku.

Tak jauh dari tempatku turun dari mobil angkutan umum ada tempat peristirahatan pesawat ulang alik, yang akan mengantarkan kita ke angkasa luar. Ada yang sekadar rekreasi. Ada pula yang ingin menetap di planet lain, seperti mars.

Aku lihat anak-anak TK dan SD berbondong-bondong ke sana. Aku tertarik, tapi tiba-tiba aku rindu keluargaku dan teman-temanku di 2020.

“Aku mau pulang, Doremi,” pintaku.

Kata Doremi, masih banyak hal yang belum aku saksikan di tahun ini, 2099. Namun, aku lebih memilih untuk pulang. Di sini aku memang dimudahkan dengan berbagai fasilitas yang serba lengkap dan praktis. Namun, aku merasa sepi. Aku merasa sendiri. Manusia tidak lagi seperti manusia, yang ramah dan baik hati. Manusia tidak jauh dengan robot, yang kaku dan tak peka. Di sini, di tahun 2099. Aku mungkin tak akan punya teman selain Doremi. Ya, Dia adalah Doremiku tahun 2099.

Doremi pun mengeluarkan pintu ajaibnya dalam kantong. Menuntunku masuk lagi ke duniaku yang sebenarnya di tahun 2007. Baru saja sampai kamar. Ibu mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil-manggil namaku.

“Dilah! Dilah!”

***

“Dilah! Dilah!

Suara itu samar-samar terdengar di telingaku. Perlahan aku membuka mata. Aku pun terduduk. Tak megindahkan suara Ibu di balik pintu. Aku lihat kalender, 26 Maret 2020. Aku lihat jam weker, menunjukkan pukul 05.00 WIB. Rupanya aku bermimpi.

***

T A M A T


Imie Fadhil adalah nama pena dari Ilmi Fadillah. Penulis tinggal di Jl. Cigondewah Hilir no. 264 Kp. Cikeueus RT 07 RW 06 Desa Rahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung, Kode 

Pos 40218. Penulis bisa dihubungi di nomor 08987441029. IG: @imifadhil

[Cernak] Berkunjung ke Pameran Buku Karya Imi Fadhil



Gambar: Canva Apk.

Sharliz menutup telinganya rapat-rapat. Ia duduk di ujung papan tulis—penjuru kelasnya—dengan penuh ketakutan. Begitulah ia, kerap kali ibu guru membacakan cerita. Cerita apa pun, bukan hanya cerita yang memang menakutkan. Kabar itu juga sampai pada bundanya. Hal itu tidak lantas membuat Bunda menjauhkan Sharliz dari buku-buku cerita.

“Tok! Tok! Tok! Paket,” terdengar suara dari balik gerbang rumah Sharliz. Bunda pun membuka dan mengambil bungkusan dari abang kurir. Tak lupa membubuhkan tanda tangan di atas secarik kertas, tanda Bunda sudah benar-benar menerima paketan tersebut.

“Coba, apa ya isinya?” Suara Bunda menarik perhatian anak sulungnya.

“Emang apa, Bun?” tanya Sharliz penasaran. 

Mereka pun membukanya bersama-sama. Ternyata sebuah buku cerita berjudul, “Princess Lathifa dan Sepeda Roda Tiga” karya teman Bunda saat kuliah dulu.

“Ini hadiah karena Kakak sudah menjadi anak manis buat Bunda dan Ayah,” rayu Bunda.

Awalnya Sharliz tampak sangat cemberut. Namun, saat Bunda membacakan pesan dari penulisnya, Sharliz merasa menjadi anak yang istimewa. Coretan di awal halaman buku itu berisi:

Teruntuk Kakak Sharliz,

Selamat membaca, semoga menjadi anak salehah dan sayang pada adiknya.

Pesan itu pun sempurna karena ditandatangani penulisnya. Sharliz dengan senang hati menerima hadiahnya. Jadilah buku pertama dan terfavorit bagi Sharliz. Setiap malam sebelum tidur, bunda selalu membacakannya untuk Sharliz. Walau di awal, ia minta bagian tertentu diloncat karena takut pada salah satu gambar tokoh dalam cerita. Namun hanya sebentar, rasa penasaran Sharliz lebih besar daripada ketakutannya. Alhasil, ingin membaca keseluruhan.

Entah berapa puluh kali Bunda mengulang cerita putri itu. Sharliz tidak pernah bosan. Ia malah menyalin ulang seluruh cerita di buku hariannya. Sampai-sampai Sharliz lancar membaca. Alami tanpa dipaksa. Bunda pun bersemangat membelikan buku baru untuk Sharliz. Satu-dua-tiga sampai banyak koleksi buku Sharliz di rumah. Walaupun begitu, Sharliz selalu kehabisan stok bacaan. 

Setiap bulan, Bunda selalu menyisihkan sedikit gajinya untuk jatah membeli buku. Buku untuknya pribadi, untuk Sharliz dan adiknya. Biar adil. Kalau tidak, Sharliz suka mencuri-curi bacaan Bunda. Tahu-tahu ia sudah menenteng novel tebal koleksi Bundanya. 

“Sayang, itu bukan bacaan untuk anak-anak!” Bunda mengingatkan seraya menyimpannya kembali ke rak buku. 

“Ah, Bunda … lagi seru,” sanggahnya kecewa.

“Nanti kita jalan-jalan ke pameran buku, ya,” janji Bunda.

“Horre! Benar ya, Bun. Aku mau komik sama novel,” pinta Sharliz. Bunda hanya mengangkat kedua jempolnya—mengiakan permintaan si sulung—untuk membelikan buku lagi.

Tibalah saatnya, Sharliz menagih janji Bundanya. Ada pameran di Landmark, Jalan Braga.Waktunya hanya seminggu saja. Bunda meminta Ayah untuk menemani mereka berkunjung ke surganya pecinta buku-buku.

“Maaf, Ayah tidak bisa soalnya sedang banyak kerjaan di bengkel,” mohon Ayah. Sharliz tentu saja sangat kecewa mendengarnya. Semalaman Sharliz susah tidur karena diperkirakan akan gagal menambah koleksi buku baru.

Bunda menghampiri Sharliz di kamarnya. Seakan paham apa yang ia rasakan, Bunda datang memberikan kejutan untuk Sharliz.

“Besok, kita jadi kok jalan-jalan ke Braga …” belum selesai Sharliz memotong perkataan Bunda, mencecar dengan banyak pertanyaan “Benarkah, Bun? Ayah kan gak bisa anter? Terus gimana kita bisa ke sana?”

Bunda menghela nafas panjang, “Kita kan bisa naik taksi online.” Bunda memberikan solusi. “Anak-anak didik Bunda juga ikut kok, kita berangkat rombongan,” pungkas Bunda diiringi teriakan bahagia Sharliz. 

Sesampainya di sana, Sharliz benar-benar bahagia. Ini pengalamanya pertama kali mengunjungi pameran buku. Banyak buku yang mereka bawa pulang. Bunda membeli sepaket buku pelajaran untuk mengajar, novel dan buku pengetahuan. Sharliz mendapatkan beberapa komik dan novel yang diincarnya, juga buku pengetahuan pendamping belajar di sekolah. Tak ketinggalan membawa buah tangan untuk adik dan sepupunya di rumah. 

Saking senangnya, buku-buku yang dibeli sudah habis dilahapnya sebelum pulang. Saat orang lain khusuk menonton pertunjukkan yang dipersembahkan di panggung utama pameran, Sharliz malah asyik sendiri membaca bukunya. Kala perjalanan pulang pun Sharliz menuntaskan buku-bukunya hingga khatam tak tersisa. Jadilah PR untuk Bunda yang harus mencarikan buku baru lagi untuk Sharliz.

Setiap malam setelah mengaji, Bunda pasti membacakan anak-anaknya cerita: pengalaman atau buku bacaan. Terkadang, Sharliz meminta ia sendiri yang membacakannya untuk Bunda dan adiknya. Kalau kehabisan bacaan, Bunda bisa mencarikan buku di perpustakaan digital, salah satunya di Ipusnas. Banyak sekali bacaan menarik di sana. Semuanya gratis.

Kegemaran membaca buku membuatnya mudah menulis cerita sendiri, walau hanya untuk tugas sekolah atau catatan harian pribadi saja. Sharliz juga sering mengajak teman-temannya untuk membaca buku-buku koleksinya di hari libur sekolah. Rak bukunya sengaja ia pindahkan ke teras rumah. Setiap anak membawa buku yang ia sukai. Mereka membacanya dengan riang. Sharliz senang bisa berbagi. Berbagi ternyata bukan hanya sekadar materi.

Sharliz dan teman-temannya membuktikan bahwa membaca ternyata bukan hal yang menakutkan. Anak-anak pada dasarnya gemar membaca, asalkan difasilitasi dengan baik.

“Bunda, hali ini aku belum baca,” ujar polos adik yang baru berusia dua tahun sambal menenteng buku bergambar kesukaannya.

***



Bionarasi:

Ilmi Fadillah, lahir di Bandung 26 Maret 1990. Penulis adalah suri rumah dan ibu bahagia dari tiga putri jelita. Ia juga lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Selain tugas domestik, ia juga merupakam pendidik di Muallimin PPI 45 Rahayu. Ia gemar menulis dan aktif di beberapa komunitas literasi. Mimpinya mempunyai segudang karya dan bermanfaat bagi sesama. Tentunya bisa dikenang di dunia dan di akhirat kelak. Yuk mampir di Instagram @imifadhil dan blog pribadi ilmifadillah.blogspot.com.

Deskripsi Ilustrasi: 

Anak-anak sedang asyik membaca buku di sebuah teras rumah.


*Cerpen merupakan salah satu antologi dari Buku Aku Mau Jadi Anak Baik dari Sekolah Menulis Indonesia.

[Cernak] Asyik, Aku Sekolah Lagi Karya Imi Fadhil



Gambar: Canva apk.

Pagi itu, matahari tak seperti biasanya. Malu-malu, bersembunyi di balik awan yang gagah memenuhi nabastala. Aqilla pun tampak mendung. Bocah tujuh tahun itu menyerah tidak masuk sekolah karena semalaman sakit di bagian lidahnya. Tengorokannya pun agak sakit saat menelan makanan. Aqilla duduk di ruang tunggu klinik menunggu giliran menemui dokter.

“Aqilla!” panggil petugas medis seraya menyambut Aqilla dan Mama yang menghampirinya.

Mama menjelaskan keluhan yang dialami Aqilla pada Mbak petugas itu seterang-terangnya. Aqilla ditimbang berat badannya lalu diukur tinggi badannya. Tak lama, Mbak petugas mengantar Aqilla dan Mama ke ruangan dokter. Mama menerangkan kembali gejala-gejala yang dialami Aqilla pada dokter cantik di klinik itu. 

“Sebenarnya boleh kok makan es krim atau yang lainnya, tapi jangan berlebihan. Misal dijadwal seminggu sekali, “ terang dokter.

Mama memperhatikan nasihat dokter dengan saksama. Sambil memberi isyarat pada anaknya, perhatikan apa kata dokter. Aqilla memang kebanyakan makan es krim kemarin. Setelah diperiksa, Aqilla diiberi vitamin dan obat lalu bisa pulang.

Hanya dua hari tidak masuk sekolah untuk istirahat, Aqilla pun kembali semangat sekolah sampai akhir pekan. Bahkan di hari itu Aqilla dan kakaknya pulang dengan jalan kaki dengan ceria. Mereka menyambut hari libur dengan suka cita. Berolahraga pagi dan siang harinya berenang di kolam renang di belakang rumah.

Di malam harinya hujan deras mengguyur tanah. Kilat dan petir bergemuruh menyambar-nyambar bersahutan. Listrik pun padam menambah ketegangan suasana kala itu. Terdengar suara tangisan Aqilla dari kamar. Mama segera menghampiri kamarnya.

Setelah dicek, badan Aqilla demam sampai menggigil. Mama menyelimuti Aqilla dengan selimut. Mama sedih, Aqilla sakit lagi. Sepertinya, Aqilla kecapean setelah beraktivitas berat di hari libur. Setelah dibujuk, Aqilla mau minum obat penurun panas dari dokter yang Mama simpan di kotak obat. Alhamdulillah, panasnya turun. Aqilla pun bisa terlelap kembali.

Besok paginya, Aqilla dibawa Mama Papa ke dokter senior langganan keluarga. Keluarga Aqilla sudah sering ke dokter itu, bahkan dari Papa masih kecil. Dokter yang penyayang yang Aqilla panggil dengan sebutan “Nenek Dokter”.

“Kenapa Aqilla? Langsung tidurkan di Kasur? pinta Nenek Dokter saat Aqilla baru saja tiba di ruangan serba putih itu.

“Demam, Nenek Dokter,” jawab Mama singkat.

“Cuacanya sedang tidak enak, harus pintar-pintar jaga kesehatan, ya Aqilla?” ucap Nenek Dokter. Dijawab dengan anggukan Aqilla: tanda paham.

Cuaca akhir-akhir ini memang sedang tak menentu. Pagi-pagi sampai siang panas mentereng, cocok sekali untuk menjemur pakaian. Namun, tiba-tiba setelah Zuhur, sore atau malamnya hujan mengguyur bumi. Adakalanya dari pagi hujan gerimis tak berhenti-henti seharian. Sering pula mendung, tapi tak turun hujan. 

“Kemarin, Aqilla berenang di kolam belakang rumah bersama kakak dan sepupu-sepupunya, Nenek dokter,” terang Mama.

“Oh, ya?! Jangan dulu ya, Cantik! Di cuaca sekarang ini kalau mau renangnya di air hangat dulu. 

Aqilla kembali mengangguk. Mama mengusap kepalanya yang ditutupin kerudung merah. Lalu mencium keningnya tanda sayang. Hatinya berdoa: semoga Allah segera menyembuhkan anaknya.

Tiba di rumah, Aqilla minum obat resep dokter. Agak susah, tapi terus dibujuk. Kalau Aqilla mau sembuh dan masuk sekolah lagi berarti harus mau minum obat agar cepat sembuh. Mama begitu telaten merawat dan menjaga Aqilla. Mama mengusap-usap perut Aqilla yang sakit, menemani dan memeluknya hingga tidur dan lupa sakitnya. Memotong kuku-kuku tangan dan kakinya yang panjang. Mama juga membersihkan telinganya yang sudah kotor, serta menyisir rambut Aqilla yang ikal. Kalau hari biasa sangat sulit karena Aqilla jarang diam di rumah, sekolah ibtidaiyah dan diniah, serta mengaji di masjid. Di luar sekolah dan belajar Aqilla sering main di luar. Aqilla senang sekali diperhatikan oleh Mama, tapi tentu saja lebih senang kalau sembuh. 

“Akak, kangen sekolah ya? tanya Mama.

 “Iya, Ma. Kangen belajar, kangen teman-teman di sekolah.” Aqilla jujur pada Mama.

“Kalau begitu, Akak harus semangat sehat ya. tuntas minum obat dan ingat-ingat nasihat Nenek Dokter. Apa coba?” tes Mama.

“Jaga kesehatan, jangan kecapean, dan jangan jajan sembarangan,” ungkap Aqilla semangat.

“Pintar anak Mama,” puji Mama. Disambut senyuman keduanya.

**

“Assalamu’alaikum!” seru Papa masuk rumah.

“Wa’alaikum salam warrahmatullah!” jawab Mama.

Papa membawa hadiah spesial untuk Aqilla. Sebuah tas dorong berwarna ungu dengan gambar unicorn kesukaan Aqilla.

“Sayang, coba lihat apa yang dibawa Papa?” Mama mencoba memberi kabar baik pada Aqilla yang tengah terbaring. Kini badannya sudah mulai enakan setelah beberapa hari istirahat dan rutin minum obat. Aqilla semringah.

“Bilang apa, Sayang?” tegur Mama.

“Alhamdulillah, terima kasih Papa.” Aqilla bersyukur dan memeluk papanya.

“Besok, Akak sudah bisa masuk sekolah pakai tas baru ini,” jelas Mama.

“Asyik, aku sekolah lagi.” Aqilla gembira tak terkira. Tak tahan untuk melepas rindu dengan teman-teman sekolah. Sudah terbayang bagaimana belajar di kelas dan bermain saat istirahat tiba.

Aqilla sudah sehat menyambut hari pertamanya kembali ke sekolah dengan penuh semangat. Ia bangun lebih pagi, wudu lalu salat Subuh. Kemudian mandi dengan air hangat, mengenakan seragam merah putih sendirian. Tidak lupa sarapan dan menyiapkan buku catatan dan pelajaran. Aqilla menggendong tas baru lalu pamit mencium tangan Mama untuk berangkat sekolah diantar Papa. 

 Tiba-tiba adiknya, Ziya memain-mainkan tas Aqilla. Ia senang karena tas Aqilla menyala-nyala berwarna-warni. 

“Dede mau juga tas seperti Akak?” goda Mama.

 “Mau … mau … Ma ….” Ziya menjawab spontan. Semua tertawa renyah.***


Bionarasi:

Ilmi Fadillah, lahir di Bandung 26 Maret 1990. Penulis adalah suri rumah dan ibu bahagia dari tiga putri jelita. Ia juga lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Selain tugas domestik, ia juga merupakam pendidik di Muallimin PPI 45 Rahayu. Ia gemar menulis dan aktif di beberapa komunitas literasi. Mimpinya mempunyai segudang karya dan bermanfaat bagi sesama. Tentunya bisa dikenang di dunia dan di akhirat kelak. Yuk mampir di Instagram @imifadhil dan blog pribadi ilmifadillah.blogspot.com.

Deskripsi Ilustrasi: 

Anak kecil yang terbaring sakit sedang membayangkan dirinya sedang masuk sekolah, belajar dan bermain bersama teman-teman sekolahnya.


*Cerpen ini merupakan salah satu cernak dari buku Aku Mau Bersekolah yang diterbitkan Sekolah Menulis Indonesia