Minggu, 31 Mei 2020

Ponsel Berenang di Mesin Cuci

Jumat berkah. Seperti jumat biasanya. Suami mandi lalu memakai koko dan sarung rapi. Beliau pun pergi ke masjid untuk salat jumat. Kebetulan si kecil lagi anteng juga. Saya pun cuci baju. Semua pakaian kotor yang ada di tempat cucian saya bereskan. Tak terkecuali pakaian suami.

Saya pun mengambil semua pakaian kotor yang menggantung di kamar mandi. Punya suami yang baru dipakainya sebelum mandi. Brush! Semua masuk ke mesin cuci bersama pakaian yang lain.

Sepulang jumatan, suami nampak kebingungan mencari sesuatu. Masuk kamar mandi. Keluar lagi. Matanya menerawang ke segala arah.

"Cari apa?" tanyaku.
"Celana, tadi digantung di kamar mandi." Pak suami menjelaskan.
"Oh itu, tuh sudah dicuci." Mataku menunjuk mesin cuci yang tengah berputar.

Suamiku malah melongo dan berkata, "Ada Hp di saku celananya."
"Serius?!"
"Dua rius!"

Celana pun diambil tergesa. Tak mengindahkan mesin cuci yang sedang berputar. Dirogohnya benda pipih berkulit hitam-merah itu. Benar saja. Ponsel pun basah kuyup. Panas. Wassalam. Entah bagaimana nasibnya.

Sabtu, 30 Mei 2020

Rekomendasi di Berbagai Media Sosial: Faktor Drama Korea Ditonton Penggemarnya #2

Beres juga nonton drama Korea The World of The Married. Episode 1-3 nonton di vidio masih gratis. Episode 4-14 di tautan via facebook. Cukup menguras kuota saya dan suami, 🤭 dua episode terakhir ngunduh dulu di drakorindo. Ternyata lebih irit ngunduh dulu dan bisa diulang-ulang tanpa takut ngabisin kuota. Selain itu, nontonnya lebih enak karena layar laptop lebih lebar.

Setelah nonton Crash Landing on You, akhirnya penasaran sama drama yang hits banget. Di negara asalnya dapat rating tertinggi, bahkan memecahkan rekor. Kenapa? Karena ratingnya mengalahkan drama rating tertinggi sebelumnya. Sampai seorang Setia Furqon Kholid pun nonton dan review pesan moralnya. Stasiun televisi swasta pun meminangnya dan menayangkan setiap senin sampai jumat pukul 19.00 WIB. Beberapa kali menonton di televisi dan membuat semakin penasaran.

Alasan berikutnya kenapa seseorang memutuskan menonton drama korea tertentu adalah karena banyak rekomendasi di media sosial. Banyak yang menonton dan ratingnya bagus. Tidak salah kalau Anda juga penasaran dengan TWoTM yang mengisahkan pelakor Da Kyung.. Hihihihi...

Jumat, 29 Mei 2020

Aktor atau Aktris: Faktor Drama Korea Ditonton Penggemarnya #1



Drama Korea sangat populer di dunia, termasuk di negara +62 Indonesia tercinta. Alasan seseorang gemar menonton drama Korea Selatan itu pastilah bermacam-macam.

Salah satunya karena aktor atau Aktris yang bermain dalam drama tersebut.
Berikut ilustrasinya. 

A: Kamu udah nonton the heirs?
B: emang rame?
A: banget!
B: emang siapa pemainnya?
A: Lee Min Hoo sama Park Shin Hye
B: wah masa? Beneran Lee Min hoo?
A: iya.
B: Wajib nonton nih!

Intinya seseorang bisa memutuskan nonton atau enggak ditentukan siapa
aktor atau aktris yang membintangi drama tersebut. Sebaliknya, jika si B tidak menyukai atau bukan fans Lee Min Hoo maka belum tentu berminat untuk menonton The Heirs.

Bagaimana dengan kamu? Apa sama?

Jumat, 22 Mei 2020

Usai

Dug! Dug! Dug! Suara ketukan pintu sangat kentara di tengah malam.
"Dul! Buka, Dul! Papah bilang buka!
Tak ada respon sedikit pun dari dalam ruangan yang diketuk.

"Ada apa, Pak?" tanyaku penasaran.
"Ini, Abdul." Seorang bapak berdasi dan jas membalas cemas.

"Iya, kenapa Abdul, Pak?" uangku bertanya.

"Abdul mengunci diri di dalam," jelas bapak itu. "Ponselnya pun tak bisa dihubungi."

Tok! Tok! Tok! Kuketuk pintu itu.
"Dul, buka!" teriakku.

"Memang Abdul kenapa? Sampai mengurung diri begitu?" Kutanya lagi.
"Entahlah, padahal bapak mau kasih tahu kabar gembira."

Tok! Tok! Tok! Pintu kuketuk kembali.
"Dul!" panggilku agak jengkel.

Krek! Krek! Suara kunci diputar. Lalu terbukalah pintu itu.

Alhamdulillah, akhirnya Abdul pintu dibuka. Namun, tampaknya Abdul langsung kembali ke posisinya. Berlutut di ujung ruangan dengan memnenamkan wajahnya. Ponselnya berserakan di bawah. Tutup dan baterainya terpisah-pisah.

Bapak itu pun masuk lalu memeluk Abdul.
"Bapak bangga sama kamu, Nak. Kamu lulus! Lulus ITB!" ujarnya menepak-nepak bahu Abdul.

Aku malah baru tahu. Kalau pengumuman sudah rebut. Aku pun lari meninggalkan mereka berdua. Aku cek nomor peserta punyaku di salah satu komputer sekolah.
"Data yang Anda cari, tidak ditemukan"
Berkali-kali kucoba yang muncul hanya kalimat mengecewakan itu. Lututku melemas. Brukkk! Aku pun terjatuh di lantai.
"Al!" teriak teman-teman di sekelilingku kompak.
***

Rabu, 20 Mei 2020

Munajat

Hari keenam sampai ketujuh aku habiskan dengan bermunajat pada Allah. "Allahu akbar!"
Kukumandangkan takbir di setiap dua pertiga malam. Sebelas rakaat dijalankan dengan tumaninah. Haru biru. Kututup dengan salam. Assalamu'alaikum warahmatullah. Kutengok ke kanan dengan senyum lebar. Betapa tentramnya hati ini. Assalamu'alaikum warahmatullah. Air mataku berlinang mengingat dosa-dosaku. Terutama dosaku pada ibu. Aku teringat sebuah hadits riwayat Imam at-Tirmidzi.

"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”

Usai salat malam, aku menuju kamar ibu.  Aku bersimpuh di hadapannya. Air mata bercucuran semakin deras dan membanjiri mukena ibu.

"Kenapa, Nak?" tanya ibu heran.
"Maafkan aku, Bu! Aku anak yang durhaka."
Hiks! Hiks! Hiks!

"Sudahlah! Ibu senantiasa memaafkanmu, Nak. Bahkan, sebelum kamu meminta maaf. Maafkan ibu juga, tidak bisa sepenuhnya mendukung cita-citamu. Hanya doa terbaik untukmu."

Pagi tampak lebih cerah dari biasa. Langit ikut senang menyaksikan peristiwa hamba Allah yang saling memaafkan.
***
Setahun kemudian.
"Ayo, sekarang giliranmu mengecek." Ahmad menunjuk hidungku.
Aku maju perlahan. Duduk di hadapan layar 14 inch di ruangan kelas. Kulantunkan basmalah dengan penuh keyakinan. Kutekan satu-satu angka di keyboard komputer sesuai dengan nomor peserta yang tertera di kartu. Tak lama munculah di layarnya:

"Selamat, Anda diterima di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia."
***
TAMAT


Senin, 18 Mei 2020

Sesal di Penghujung luka


Dua sampai tiga hari, pikiranku menelusuri kejadian-kejadian beberapa bulan yang lalu. Tepatnya rangkaian ingatan saat tes SNMPTN itu berlangsung, ditambah sebelum dan sesudah tes tersebut.

"Mau pinjamnya berapa?" tanya pegawai BMT. 

"Dua ratus ribu rupiah, Teh."

Aku yang tengah duduk di depan meja admin menjawab malu-malu. Lalu aku menjelaskan untuk apa dan ke mana rupiah itu akan aku teruskan. Ahmad--temanku yang merekomendasikan untuk meminjam ke BMT yang berada di halaman sekolah itu. Aku sempat beberapa kali menabung di sana, tapi tak banyak. Tak cukup pula meski sekadar untuk membayar formulir SNMPTN.

Setelah memegang uang pendaftaran, aku pun bersama teman lainnya menuju Universitas Padjajaran, kampus Dipatiukur. Antrean berderet cukup panjang. Beberapa menit mendekati satu jam lamanya, tibalah aku di barisan paling depan. Aku lekas menyerahkan uang yang telah disiapkan dalam saku rok abu-abu. Mbak-mbak cantik itu pun memberikan 1 map kertas dan buku panduan sebesar buku kampus. Hanya lebih tebal. Di dalamnya terdapat formulir isian dan petunjuk serta daftar pilihan perguruan tinggi negeri (PTN) di seluruh Indonesia lengkap dengan jurusannya.

Kala itu hidup penuh dengan ujian. Bukan hanya ujian masuk PTN, tapi juga ujian hidup yang sesungguhnya. Ibu dan bapak mengalami kecelakaan motor yang menyebabkan keduanya tak bisa berjalan. Itu pula yang menyebabkan aku susah dan tak fokus melakukan apa pun.

Tempat tes pun dipilih panitia ujian. Aku kebagian di SMPN 14 di jalan Supratman. Sebelum hari itu tiba, aku harus pastikan tahu di mana ruang dan tempat duduk yang akan kutempati esok harinya. 

Biasanya bapak selalu siap sedia mengantarkanku ke mana pun. Namun, tak mungkin untuk kali ini. Aku pun memilih menaiki kendaraan umum. Naik bus Damri jurusan Leuwi Panjang-Cicaheum.

Aku sudah hafal betul lokasi tes karena setiap hari aku lewati kalau pergi atau pulang sekolah. Aku pun turun persis di persimpangan menuju jalan Supratman. Selanjutnya bisa naik angkot sekali lagi untuk tepat sampai di lokasi tujuan.

"Kiri, Mang! Kiri!" ujarku setengah berteriak. 

Mang supir pun menggerakkan angkotnya ke pinggir jalan lalu memberhentikannya. Aku rogoh saku celana dan memberikan recehan pada supir angkot.

Aku bergegas memasuki gerbang langsung tertuju pada papan pengumuman yang bertengger di halaman sekolah di balik pohon rindang. Kutelusuri kertas-kertas yang menempel pada papan triplek berlapis putih itu. Ada daftar nama peserta. Ada pula denah lokasi. Setelah menemukan apa yang kucari, aku lekas mencari di mana ruangan itu berada.

"Kamu tes di ruangan mana?" tanyaku seorang gadis manis berkucir kuda yang berdiri di sebelahku memandangi papan besar itu.

"Ruangan 11," balaski menyungging senyum. 

"Kebetulan aku juga sama, bareng yuk!" ajaknya.

"Ha ... Hayu!" Aku menerima usulannya agak terbata-bata.

Aku hanya merasa aneh. Aku belum kenal orang itu, begitu pun sebaliknya. Namun, dengan mudahnya dia mengajak orang lain. Tepatnya orang asing. Entahlah, seperti digiring untuk mengikutinya. Aku pun membuntuti gadis itu. Tak salah keputusanku untuk mengekornya. Kami langsung menemukan ruangan yang dicari.

"Nah, ini tempat dudukku." Dia tampak senang menemukannya. 

Aku pun tak lama mendapati meja dan kursi panasku. Barisan kedua di ujung sebelah kanan. Ternyata kami duduk bersebelahan. Kebetulan sekali.

"Oh, iya! Perkenalkan saya Sofi." Dia mengulurkan tangannya.

Kuraih tangan hangat itu, "Aku Ilmi! Salam kenal juga."

Tanpa diminta, ia bercerita panjang lebar. Ternyata Sofi adalah alumni SMPN 14. Sofi juga kenal Tama--teman sekolahku yang juga alumni sekolah ini. Bahkan, ia bergosip tentang Tama. Katanya, Tama banyak digandrungi para siswi. Ya, pantas saja Tama memang anak yang tampan, pintar, jago bermain basket, dan pandai bersosialisasi. Termasuk Sofi juga mengagumi sosok Tama juga. Tama sudah tenang masuk ITB dengan beasiswa penuh. 
Oke berhenti membicarakan soal Tama. Tidak penting. Bukan tokoh utama dalam cerita ini.

Aku dan Sofi pun berpisah. Sofi sepertinya merasa cukup telah mengetahui tempat duduk untuk tes esok pagi. Sementara aku masih ingin memastikan letak toilet dan musala atau masjid di lingkungan sekolah ini. Siapa tahu aku membutuhkannya besok. Banyak petunjuk di kertas-kertas terpampang tanda panah dan bertuliskan toilet dan musala. Sehingga mudah saja untuk menemukannya.

Aku menuju toilet, lalu menuju musala. Dua rakaat salat syukrul wudhu sukses membuat hati ini tenang. Alhamdulillah. Kulanjutkan dengan memohon kemudahan dan kelancaran untuk tes besok. Aku minta yang terbaik, Robb. Aku selalu ingat nasihat Pak Risydi sebelum tes berlangsung. "Do your best, save the rest for Allah."

Empat ke lima hari mulai merenung dan flasback kejadian sebelumnya. Jauh sebelum tes ujian itu.

"Percuma pinter dan masuk ITB atau UPI, tapi durhaka pada orang tua. Gak akan berkah!" teriak ibu dengan penuh murka.

"Astagfirullah!"
Tetiba aku tebangun. Kalimat itu sungguh mencabik-cabik kalbu. Sampai terbawa mimpi. Ya, itu adalah serapah yang keluar dari mulut wanita mulia. Bagaimana aku bisa mengabaikannya.

"Astaghfirullah! Astaghfirullahal 'adziim" Aku mengulang-ulang istigfar. Ampuni aku ya Allah. Maafkan aku ibu. Aku sungguh menyesal.

Minggu, 17 Mei 2020

Luluh Lantak

Di sisi lain meronta. Kufur terhadap kebenaran yang jelas Allah kabarkan. Betapa teganya Allah padaku. Padahal aku sudah berusaha dan mengerahkan semua kemampuanku untuk agar mimpi itu terwujud nyata. Down. Serasa dunia ini akan berakhir. Hancur sehancur-hancurnya.

Itulah yang aku rasakan beberapa saat setelah dinyatakan tidak lulus tes masuk perguruan tinggi negeri.

"Assalamu'alaikum!" ucapku datar sambil membuka pintu rumah.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," balas ibu yang kebetulan sedang berada di ruang tengah.

Samar-samar kudengar doa itu, karena aku bergegas menuju kamar. Kututup pintu dengan kasar. Bleug! Aku mendarat di kasur yang empuk dengan telungkup. Kumatikan telepon genggamku. Kuharap tak ada seorang pun yang mengganggu ratapan hatiku.

Tok! Tok! Tok! suara pintu kamarku diketuk kasar. Tak lama suara lantang merambat menembus kayu jati itu.
"Teteh! Kata ibu makan dulu!"

Itu suara adik bungsuku. Tak mau membuat ibu khawatir, aku teriak dari dalam, "Iya!"

Selama kurang lebih seminggu, aku bersemedi di kamar tidur. Sesekali turun hanya untuk makan sekadar mengisi perut agar tetap sehat dan waras. salat lima waktu? Tentu saja tak pernah kulewatkan. Ya, itu adalah kewajiban yang tak bisa kutinggalkan.

Satu-dua hari, pikiranku masih kosong. Kucoba hidupkan telepon genggamku. Tak lama ada panggilan masuk. Ada panggilan dari Ningrum--teman sekelasku. Aku pun mengangkatnya. Hal yang nantinya kusesali.

"Hallo, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam," jawabnya dari sebrang sana.

Dia menanyakan hasil tesku. Entah memang tidak tahu aku tidak lulus atau hanya kura-kura dalam perahu. Lalu mengabarkan bahwa ia lulus masuk Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Oke, fiks! doi hanya Pamer. Ya Allah, kenapa aku terburu-buru menyimpulkan dan terlalu dini berprasangka buruk padanya.

"Oh, ya! Selamat ya! Barakallahu fiik! Turut bersenang hati." ucapku menutup perbincangan.

Tanpa mendengarkan tanggapannya, kusambung dengan salam dan menutup teleponnya. Bukan hanya menekan tombol bergambar telepon warna merah, tapi aku pun mematikan dan membanting telepon ke kasur.