Jumat, 25 Agustus 2023

[Cernak] Asyik, Aku Sekolah Lagi Karya Imi Fadhil



Gambar: Canva apk.

Pagi itu, matahari tak seperti biasanya. Malu-malu, bersembunyi di balik awan yang gagah memenuhi nabastala. Aqilla pun tampak mendung. Bocah tujuh tahun itu menyerah tidak masuk sekolah karena semalaman sakit di bagian lidahnya. Tengorokannya pun agak sakit saat menelan makanan. Aqilla duduk di ruang tunggu klinik menunggu giliran menemui dokter.

“Aqilla!” panggil petugas medis seraya menyambut Aqilla dan Mama yang menghampirinya.

Mama menjelaskan keluhan yang dialami Aqilla pada Mbak petugas itu seterang-terangnya. Aqilla ditimbang berat badannya lalu diukur tinggi badannya. Tak lama, Mbak petugas mengantar Aqilla dan Mama ke ruangan dokter. Mama menerangkan kembali gejala-gejala yang dialami Aqilla pada dokter cantik di klinik itu. 

“Sebenarnya boleh kok makan es krim atau yang lainnya, tapi jangan berlebihan. Misal dijadwal seminggu sekali, “ terang dokter.

Mama memperhatikan nasihat dokter dengan saksama. Sambil memberi isyarat pada anaknya, perhatikan apa kata dokter. Aqilla memang kebanyakan makan es krim kemarin. Setelah diperiksa, Aqilla diiberi vitamin dan obat lalu bisa pulang.

Hanya dua hari tidak masuk sekolah untuk istirahat, Aqilla pun kembali semangat sekolah sampai akhir pekan. Bahkan di hari itu Aqilla dan kakaknya pulang dengan jalan kaki dengan ceria. Mereka menyambut hari libur dengan suka cita. Berolahraga pagi dan siang harinya berenang di kolam renang di belakang rumah.

Di malam harinya hujan deras mengguyur tanah. Kilat dan petir bergemuruh menyambar-nyambar bersahutan. Listrik pun padam menambah ketegangan suasana kala itu. Terdengar suara tangisan Aqilla dari kamar. Mama segera menghampiri kamarnya.

Setelah dicek, badan Aqilla demam sampai menggigil. Mama menyelimuti Aqilla dengan selimut. Mama sedih, Aqilla sakit lagi. Sepertinya, Aqilla kecapean setelah beraktivitas berat di hari libur. Setelah dibujuk, Aqilla mau minum obat penurun panas dari dokter yang Mama simpan di kotak obat. Alhamdulillah, panasnya turun. Aqilla pun bisa terlelap kembali.

Besok paginya, Aqilla dibawa Mama Papa ke dokter senior langganan keluarga. Keluarga Aqilla sudah sering ke dokter itu, bahkan dari Papa masih kecil. Dokter yang penyayang yang Aqilla panggil dengan sebutan “Nenek Dokter”.

“Kenapa Aqilla? Langsung tidurkan di Kasur? pinta Nenek Dokter saat Aqilla baru saja tiba di ruangan serba putih itu.

“Demam, Nenek Dokter,” jawab Mama singkat.

“Cuacanya sedang tidak enak, harus pintar-pintar jaga kesehatan, ya Aqilla?” ucap Nenek Dokter. Dijawab dengan anggukan Aqilla: tanda paham.

Cuaca akhir-akhir ini memang sedang tak menentu. Pagi-pagi sampai siang panas mentereng, cocok sekali untuk menjemur pakaian. Namun, tiba-tiba setelah Zuhur, sore atau malamnya hujan mengguyur bumi. Adakalanya dari pagi hujan gerimis tak berhenti-henti seharian. Sering pula mendung, tapi tak turun hujan. 

“Kemarin, Aqilla berenang di kolam belakang rumah bersama kakak dan sepupu-sepupunya, Nenek dokter,” terang Mama.

“Oh, ya?! Jangan dulu ya, Cantik! Di cuaca sekarang ini kalau mau renangnya di air hangat dulu. 

Aqilla kembali mengangguk. Mama mengusap kepalanya yang ditutupin kerudung merah. Lalu mencium keningnya tanda sayang. Hatinya berdoa: semoga Allah segera menyembuhkan anaknya.

Tiba di rumah, Aqilla minum obat resep dokter. Agak susah, tapi terus dibujuk. Kalau Aqilla mau sembuh dan masuk sekolah lagi berarti harus mau minum obat agar cepat sembuh. Mama begitu telaten merawat dan menjaga Aqilla. Mama mengusap-usap perut Aqilla yang sakit, menemani dan memeluknya hingga tidur dan lupa sakitnya. Memotong kuku-kuku tangan dan kakinya yang panjang. Mama juga membersihkan telinganya yang sudah kotor, serta menyisir rambut Aqilla yang ikal. Kalau hari biasa sangat sulit karena Aqilla jarang diam di rumah, sekolah ibtidaiyah dan diniah, serta mengaji di masjid. Di luar sekolah dan belajar Aqilla sering main di luar. Aqilla senang sekali diperhatikan oleh Mama, tapi tentu saja lebih senang kalau sembuh. 

“Akak, kangen sekolah ya? tanya Mama.

 “Iya, Ma. Kangen belajar, kangen teman-teman di sekolah.” Aqilla jujur pada Mama.

“Kalau begitu, Akak harus semangat sehat ya. tuntas minum obat dan ingat-ingat nasihat Nenek Dokter. Apa coba?” tes Mama.

“Jaga kesehatan, jangan kecapean, dan jangan jajan sembarangan,” ungkap Aqilla semangat.

“Pintar anak Mama,” puji Mama. Disambut senyuman keduanya.

**

“Assalamu’alaikum!” seru Papa masuk rumah.

“Wa’alaikum salam warrahmatullah!” jawab Mama.

Papa membawa hadiah spesial untuk Aqilla. Sebuah tas dorong berwarna ungu dengan gambar unicorn kesukaan Aqilla.

“Sayang, coba lihat apa yang dibawa Papa?” Mama mencoba memberi kabar baik pada Aqilla yang tengah terbaring. Kini badannya sudah mulai enakan setelah beberapa hari istirahat dan rutin minum obat. Aqilla semringah.

“Bilang apa, Sayang?” tegur Mama.

“Alhamdulillah, terima kasih Papa.” Aqilla bersyukur dan memeluk papanya.

“Besok, Akak sudah bisa masuk sekolah pakai tas baru ini,” jelas Mama.

“Asyik, aku sekolah lagi.” Aqilla gembira tak terkira. Tak tahan untuk melepas rindu dengan teman-teman sekolah. Sudah terbayang bagaimana belajar di kelas dan bermain saat istirahat tiba.

Aqilla sudah sehat menyambut hari pertamanya kembali ke sekolah dengan penuh semangat. Ia bangun lebih pagi, wudu lalu salat Subuh. Kemudian mandi dengan air hangat, mengenakan seragam merah putih sendirian. Tidak lupa sarapan dan menyiapkan buku catatan dan pelajaran. Aqilla menggendong tas baru lalu pamit mencium tangan Mama untuk berangkat sekolah diantar Papa. 

 Tiba-tiba adiknya, Ziya memain-mainkan tas Aqilla. Ia senang karena tas Aqilla menyala-nyala berwarna-warni. 

“Dede mau juga tas seperti Akak?” goda Mama.

 “Mau … mau … Ma ….” Ziya menjawab spontan. Semua tertawa renyah.***


Bionarasi:

Ilmi Fadillah, lahir di Bandung 26 Maret 1990. Penulis adalah suri rumah dan ibu bahagia dari tiga putri jelita. Ia juga lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Selain tugas domestik, ia juga merupakam pendidik di Muallimin PPI 45 Rahayu. Ia gemar menulis dan aktif di beberapa komunitas literasi. Mimpinya mempunyai segudang karya dan bermanfaat bagi sesama. Tentunya bisa dikenang di dunia dan di akhirat kelak. Yuk mampir di Instagram @imifadhil dan blog pribadi ilmifadillah.blogspot.com.

Deskripsi Ilustrasi: 

Anak kecil yang terbaring sakit sedang membayangkan dirinya sedang masuk sekolah, belajar dan bermain bersama teman-teman sekolahnya.


*Cerpen ini merupakan salah satu cernak dari buku Aku Mau Bersekolah yang diterbitkan Sekolah Menulis Indonesia 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar