Jumat, 25 Agustus 2023

[Cernak] Doremi Karya Imi Fadhil



Gambar: Canva Apk

Di jalanan menuju pulang aku bergegas setengah berlari karena aku tahu kalau hari ini jadwal Bapak pulang. Hampir setengah tahun Bapak meninggalkan kami untuk pekerjaanya di negeri sakura, Jepang.

“Assalamu’alaikum!” ucapku sambil membuka pintu.

“Waalaikum salam warahmatullah!” jawab Ibu dan Bapak serentak.

Aku langsung berlari ke arah Bapak berdiri. Aku langsung memeluknya dengan erat.

“Bapak, kenapa lama pulangnya?” protesku.

Bapak hanya tersenyum.

“Sudah, Nak. Lepaskan! Bapakmu capek mau istirahat,” saran Ibu.

“Ya, sudah. Aku ke kamar dulu.” Aku kecewa karena masih kangen Bapak.

Aku pun menaiki tangga, tapi saat aku naik satu-dua anak tangga. Aku teringat sesuatu. Ada satu hal yang aku lupakan. Aku pun berbalik arah, menengok ke arah Bapak lagi.

“Pak, mana oleh-oleh untukku?” tagihku.

“Sudah Ibu simpan di kamarmu, bawel.” Ibu bantu menjawab pertanyaan yang sebenarnya kutunjukkan ke Bapak.

“Oke! He..he..he..!” Aku tertawa kecil.

Aku lanjutkan langkah kecilku menuju surgaku. Kamar kecil tempatku merebahkan raga ini. Segenap rehat dari aktivitas dan rutinitas. Tahun ini, aku kelas 2 SD. Sepanjang langkahku menuju kamar aku berpikir hadiah apa yang Bapak berikan padaku.

“Kok deg-degan ya?” pikirku dalam hati.

Perlahan aku membuka pintu. Tetiba ada yang menyapaku.

“Selamat datang, Dilah! Selamat datang, Dilah!”

“Kamu siapa? Ini kan kamarku,” tanya Dilah pada makhluk aneh itu.

“Aku Doremi,” jawabnya.

“Hah? Siapanya Doraemon?” candaku.

“Aku cucu Doraemon.”

Aku makin bingung. Aku pun menghampiri makhluk aneh yang mengaku cucunya Doraemon itu. Doremi berkata lagi, “Aku adalah hadiah dari Bapakmu, asli jepang.”

“Kamu bisa apa aja?” introgasiku.

“Banyak.” Balasnya.

“Ya, apa?” aku tanya balik.

“Apa saja. Aku bisa apa saja.” Jelasnya.

Aku masih aneh. Aku pun langsung menuju ranjangku. Aku tak sedikit pun memedulikan makhluk itu. Aku hanya capek. Aku ingin istirahat.

Doremi pun mengeluarkan sebuah pintu dalam kantongnya.

“Pintu ajaib!” kata Doremi.

Aku terperanjat dari tempat tidur.

“Aku mau ke masa depan, bisa kah?” tanyaku.

“Tentu saja bisa,” jawab manis Doremi.

Doremi bentuk perempuan dari Doraemon. Mungkin, memang benar bahwa ia masih keturunan Doraemon. Bapak membelinya dari jepang. Seperti Doraemon, Doremi pun punya kantong ajaib yang punya banyak benda ajaib.

Aku pun masuk ke pintu ajaib bersama Doremi. Saat membukanya terasa angin besar, sangat besar menyibak kerudung putihku. Aku langkahkan satu kakiku. Aku mulai merasakan dimensi yang berbeda. Dimensi waktu yang tak biasa.

Aku tiba di jalan raya yang sangat modern. Tak ada motor berkeliaran, yang membuat jalanan macet. Yang ada hanya tranportasi umum. mobil, bus dan kereta api yang jauh berbeda dari jangkauan ingatanku selama ini.

“Ini Indonesia?” tanyaku pada Doremi.

“Iya, ini Indonesia. Is it wonderful right?” kata Doremi.

Aku mengangguk. Aku benar-benar takjub dan tak habis pikir, di mana aku berada. Kemudian aku melihat ada layar berjalan bertuliskan 26 Maret 2099. Di situ aku tahu kalau aku sedang berada di tahun 2099. Sembilan puluh dua tahun dari sebelum masuk ke pintu ajaib punya Doremi.

Doremi mengajakku naik angkot. Jangan kamu bayangkan angkotnya seperti angkot jurusan Cipatik-Tegalega berwarna kuning. Tidak juga seperti angkot jurusan Soreang-Leuwi Panjang, berwarna hijau. Angkot di tahun 2099 tidak mengenal ‘ngetem’. Penumpang yang hendak naik angkot harus pergi ke sebuah tempat semacam halte. Tak susah mendapati halte yang aku maksud.

Aku dan Doremi pun menuju halte hanya lima meter dari tempat kami pertama berdiri. Halte memang ada di tiap dua puluh lima meter saja di tiap tepi jalan. Aku pun memencet tombol tujuan agar mobil angkutan umum berhenti di tempat kami.

Tak sampai lima menit, mobil angkutan umum pun berhenti. Pintunya terbuka, menyambut kami.

“Silakan masuk, nona!” mobil itu bersuara.

Kami pun masuk. Aku duduk di kursi sebelah kanan. Doremi duduk di sampingku. Kursinya sangat empuk. Bahkan, bisa disebut sofa. Hanya beberapa orang yang ada dalam angkutan tersebut. Sepertinya semua pelajar. Semua seperti kaku. Aku tak tahu itu robot atau manusia. Raganya memang sangat mirip manusia, tapi rasa kemanusiaannya sama sekali tak ada. seperti tak ada kehidupan dalam angkutan tersebut. Hal itu membuat saya bosan. Waktu terasa berjalan lebih lama.

Dalam mobil tak ada kondektur, bahkan supirnya pun ternyata tidak ada. Semua dikendalikan oleh mesin jauh dari stasiun pusat pengendalian angkutan umum. Tak ada jalanan macet. Adapun jika mecet, roda akan berdiri sejajar, mobil pun menaik di atas udara sekitar dua meter atau lebih tinggi sesuai dengan kebutuhan. Jalanan macet pun dilalui tanpa hambatan.

Kulihat bus pun sama begitu. Melayang di udara jika macet terjadi. Dengan ditopang ban yang sejajar dan ramping. Jika jalanan tak macet lagi mobil atau bus kembali ke keadaan semula. Namun, bus adalah kendaraan untuk kebutuhan transportasi jarak jauh.

Manusia yang aku temui semua muda, tak ada seorang pun kakek atau nenek. Hal itu karena, kata Doremi, manusia di masa ini usianya terhenti di umur dua puluh lima tahun.

“Manusia, dengan otaknya yang hebat sudah menemukakan penawar tua,” tambah Doremi.

“Masya Allah! Yang paling adalah hebat Allah yang menciptakan otak manusia.” Decakku kagum.

“Itu apa Doremi?” aku menunjuk benda yang melintas cepat di udara, tapi masih ada dalam satu garis lintasan.

“Itu, kereta api, Dilah.” Doremi menjelaskan.

“Kalau Dilah mau ke Surabaya, cukup 5 menit saja, bisa sampai di sana.”

Aku tak hentinya berdecak kagum.

“Aku ingin tahu rumah sakit di tahun 2099 seperti apa?” gumamku.

Doremi mendengarkan gumamanku dan langsung menimpali, ”Di sini tak ada rumah sakit.”

“Kenapa?” tanyaku terheran-heran.

“Semua penyakit sudah ada penangkalnya maka tak perlu ada lagi rumah sakit.”

“O..la..la!” aku menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.

“Kamu mau rekreasi ke luar angkasa?” saran Doremi.

“Caranya?” tanyaku.

Tak jauh dari tempatku turun dari mobil angkutan umum ada tempat peristirahatan pesawat ulang alik, yang akan mengantarkan kita ke angkasa luar. Ada yang sekadar rekreasi. Ada pula yang ingin menetap di planet lain, seperti mars.

Aku lihat anak-anak TK dan SD berbondong-bondong ke sana. Aku tertarik, tapi tiba-tiba aku rindu keluargaku dan teman-temanku di 2020.

“Aku mau pulang, Doremi,” pintaku.

Kata Doremi, masih banyak hal yang belum aku saksikan di tahun ini, 2099. Namun, aku lebih memilih untuk pulang. Di sini aku memang dimudahkan dengan berbagai fasilitas yang serba lengkap dan praktis. Namun, aku merasa sepi. Aku merasa sendiri. Manusia tidak lagi seperti manusia, yang ramah dan baik hati. Manusia tidak jauh dengan robot, yang kaku dan tak peka. Di sini, di tahun 2099. Aku mungkin tak akan punya teman selain Doremi. Ya, Dia adalah Doremiku tahun 2099.

Doremi pun mengeluarkan pintu ajaibnya dalam kantong. Menuntunku masuk lagi ke duniaku yang sebenarnya di tahun 2007. Baru saja sampai kamar. Ibu mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil-manggil namaku.

“Dilah! Dilah!”

***

“Dilah! Dilah!

Suara itu samar-samar terdengar di telingaku. Perlahan aku membuka mata. Aku pun terduduk. Tak megindahkan suara Ibu di balik pintu. Aku lihat kalender, 26 Maret 2020. Aku lihat jam weker, menunjukkan pukul 05.00 WIB. Rupanya aku bermimpi.

***

T A M A T


Imie Fadhil adalah nama pena dari Ilmi Fadillah. Penulis tinggal di Jl. Cigondewah Hilir no. 264 Kp. Cikeueus RT 07 RW 06 Desa Rahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung, Kode 

Pos 40218. Penulis bisa dihubungi di nomor 08987441029. IG: @imifadhil

[Cernak] Berkunjung ke Pameran Buku Karya Imi Fadhil



Gambar: Canva Apk.

Sharliz menutup telinganya rapat-rapat. Ia duduk di ujung papan tulis—penjuru kelasnya—dengan penuh ketakutan. Begitulah ia, kerap kali ibu guru membacakan cerita. Cerita apa pun, bukan hanya cerita yang memang menakutkan. Kabar itu juga sampai pada bundanya. Hal itu tidak lantas membuat Bunda menjauhkan Sharliz dari buku-buku cerita.

“Tok! Tok! Tok! Paket,” terdengar suara dari balik gerbang rumah Sharliz. Bunda pun membuka dan mengambil bungkusan dari abang kurir. Tak lupa membubuhkan tanda tangan di atas secarik kertas, tanda Bunda sudah benar-benar menerima paketan tersebut.

“Coba, apa ya isinya?” Suara Bunda menarik perhatian anak sulungnya.

“Emang apa, Bun?” tanya Sharliz penasaran. 

Mereka pun membukanya bersama-sama. Ternyata sebuah buku cerita berjudul, “Princess Lathifa dan Sepeda Roda Tiga” karya teman Bunda saat kuliah dulu.

“Ini hadiah karena Kakak sudah menjadi anak manis buat Bunda dan Ayah,” rayu Bunda.

Awalnya Sharliz tampak sangat cemberut. Namun, saat Bunda membacakan pesan dari penulisnya, Sharliz merasa menjadi anak yang istimewa. Coretan di awal halaman buku itu berisi:

Teruntuk Kakak Sharliz,

Selamat membaca, semoga menjadi anak salehah dan sayang pada adiknya.

Pesan itu pun sempurna karena ditandatangani penulisnya. Sharliz dengan senang hati menerima hadiahnya. Jadilah buku pertama dan terfavorit bagi Sharliz. Setiap malam sebelum tidur, bunda selalu membacakannya untuk Sharliz. Walau di awal, ia minta bagian tertentu diloncat karena takut pada salah satu gambar tokoh dalam cerita. Namun hanya sebentar, rasa penasaran Sharliz lebih besar daripada ketakutannya. Alhasil, ingin membaca keseluruhan.

Entah berapa puluh kali Bunda mengulang cerita putri itu. Sharliz tidak pernah bosan. Ia malah menyalin ulang seluruh cerita di buku hariannya. Sampai-sampai Sharliz lancar membaca. Alami tanpa dipaksa. Bunda pun bersemangat membelikan buku baru untuk Sharliz. Satu-dua-tiga sampai banyak koleksi buku Sharliz di rumah. Walaupun begitu, Sharliz selalu kehabisan stok bacaan. 

Setiap bulan, Bunda selalu menyisihkan sedikit gajinya untuk jatah membeli buku. Buku untuknya pribadi, untuk Sharliz dan adiknya. Biar adil. Kalau tidak, Sharliz suka mencuri-curi bacaan Bunda. Tahu-tahu ia sudah menenteng novel tebal koleksi Bundanya. 

“Sayang, itu bukan bacaan untuk anak-anak!” Bunda mengingatkan seraya menyimpannya kembali ke rak buku. 

“Ah, Bunda … lagi seru,” sanggahnya kecewa.

“Nanti kita jalan-jalan ke pameran buku, ya,” janji Bunda.

“Horre! Benar ya, Bun. Aku mau komik sama novel,” pinta Sharliz. Bunda hanya mengangkat kedua jempolnya—mengiakan permintaan si sulung—untuk membelikan buku lagi.

Tibalah saatnya, Sharliz menagih janji Bundanya. Ada pameran di Landmark, Jalan Braga.Waktunya hanya seminggu saja. Bunda meminta Ayah untuk menemani mereka berkunjung ke surganya pecinta buku-buku.

“Maaf, Ayah tidak bisa soalnya sedang banyak kerjaan di bengkel,” mohon Ayah. Sharliz tentu saja sangat kecewa mendengarnya. Semalaman Sharliz susah tidur karena diperkirakan akan gagal menambah koleksi buku baru.

Bunda menghampiri Sharliz di kamarnya. Seakan paham apa yang ia rasakan, Bunda datang memberikan kejutan untuk Sharliz.

“Besok, kita jadi kok jalan-jalan ke Braga …” belum selesai Sharliz memotong perkataan Bunda, mencecar dengan banyak pertanyaan “Benarkah, Bun? Ayah kan gak bisa anter? Terus gimana kita bisa ke sana?”

Bunda menghela nafas panjang, “Kita kan bisa naik taksi online.” Bunda memberikan solusi. “Anak-anak didik Bunda juga ikut kok, kita berangkat rombongan,” pungkas Bunda diiringi teriakan bahagia Sharliz. 

Sesampainya di sana, Sharliz benar-benar bahagia. Ini pengalamanya pertama kali mengunjungi pameran buku. Banyak buku yang mereka bawa pulang. Bunda membeli sepaket buku pelajaran untuk mengajar, novel dan buku pengetahuan. Sharliz mendapatkan beberapa komik dan novel yang diincarnya, juga buku pengetahuan pendamping belajar di sekolah. Tak ketinggalan membawa buah tangan untuk adik dan sepupunya di rumah. 

Saking senangnya, buku-buku yang dibeli sudah habis dilahapnya sebelum pulang. Saat orang lain khusuk menonton pertunjukkan yang dipersembahkan di panggung utama pameran, Sharliz malah asyik sendiri membaca bukunya. Kala perjalanan pulang pun Sharliz menuntaskan buku-bukunya hingga khatam tak tersisa. Jadilah PR untuk Bunda yang harus mencarikan buku baru lagi untuk Sharliz.

Setiap malam setelah mengaji, Bunda pasti membacakan anak-anaknya cerita: pengalaman atau buku bacaan. Terkadang, Sharliz meminta ia sendiri yang membacakannya untuk Bunda dan adiknya. Kalau kehabisan bacaan, Bunda bisa mencarikan buku di perpustakaan digital, salah satunya di Ipusnas. Banyak sekali bacaan menarik di sana. Semuanya gratis.

Kegemaran membaca buku membuatnya mudah menulis cerita sendiri, walau hanya untuk tugas sekolah atau catatan harian pribadi saja. Sharliz juga sering mengajak teman-temannya untuk membaca buku-buku koleksinya di hari libur sekolah. Rak bukunya sengaja ia pindahkan ke teras rumah. Setiap anak membawa buku yang ia sukai. Mereka membacanya dengan riang. Sharliz senang bisa berbagi. Berbagi ternyata bukan hanya sekadar materi.

Sharliz dan teman-temannya membuktikan bahwa membaca ternyata bukan hal yang menakutkan. Anak-anak pada dasarnya gemar membaca, asalkan difasilitasi dengan baik.

“Bunda, hali ini aku belum baca,” ujar polos adik yang baru berusia dua tahun sambal menenteng buku bergambar kesukaannya.

***



Bionarasi:

Ilmi Fadillah, lahir di Bandung 26 Maret 1990. Penulis adalah suri rumah dan ibu bahagia dari tiga putri jelita. Ia juga lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Selain tugas domestik, ia juga merupakam pendidik di Muallimin PPI 45 Rahayu. Ia gemar menulis dan aktif di beberapa komunitas literasi. Mimpinya mempunyai segudang karya dan bermanfaat bagi sesama. Tentunya bisa dikenang di dunia dan di akhirat kelak. Yuk mampir di Instagram @imifadhil dan blog pribadi ilmifadillah.blogspot.com.

Deskripsi Ilustrasi: 

Anak-anak sedang asyik membaca buku di sebuah teras rumah.


*Cerpen merupakan salah satu antologi dari Buku Aku Mau Jadi Anak Baik dari Sekolah Menulis Indonesia.

[Cernak] Asyik, Aku Sekolah Lagi Karya Imi Fadhil



Gambar: Canva apk.

Pagi itu, matahari tak seperti biasanya. Malu-malu, bersembunyi di balik awan yang gagah memenuhi nabastala. Aqilla pun tampak mendung. Bocah tujuh tahun itu menyerah tidak masuk sekolah karena semalaman sakit di bagian lidahnya. Tengorokannya pun agak sakit saat menelan makanan. Aqilla duduk di ruang tunggu klinik menunggu giliran menemui dokter.

“Aqilla!” panggil petugas medis seraya menyambut Aqilla dan Mama yang menghampirinya.

Mama menjelaskan keluhan yang dialami Aqilla pada Mbak petugas itu seterang-terangnya. Aqilla ditimbang berat badannya lalu diukur tinggi badannya. Tak lama, Mbak petugas mengantar Aqilla dan Mama ke ruangan dokter. Mama menerangkan kembali gejala-gejala yang dialami Aqilla pada dokter cantik di klinik itu. 

“Sebenarnya boleh kok makan es krim atau yang lainnya, tapi jangan berlebihan. Misal dijadwal seminggu sekali, “ terang dokter.

Mama memperhatikan nasihat dokter dengan saksama. Sambil memberi isyarat pada anaknya, perhatikan apa kata dokter. Aqilla memang kebanyakan makan es krim kemarin. Setelah diperiksa, Aqilla diiberi vitamin dan obat lalu bisa pulang.

Hanya dua hari tidak masuk sekolah untuk istirahat, Aqilla pun kembali semangat sekolah sampai akhir pekan. Bahkan di hari itu Aqilla dan kakaknya pulang dengan jalan kaki dengan ceria. Mereka menyambut hari libur dengan suka cita. Berolahraga pagi dan siang harinya berenang di kolam renang di belakang rumah.

Di malam harinya hujan deras mengguyur tanah. Kilat dan petir bergemuruh menyambar-nyambar bersahutan. Listrik pun padam menambah ketegangan suasana kala itu. Terdengar suara tangisan Aqilla dari kamar. Mama segera menghampiri kamarnya.

Setelah dicek, badan Aqilla demam sampai menggigil. Mama menyelimuti Aqilla dengan selimut. Mama sedih, Aqilla sakit lagi. Sepertinya, Aqilla kecapean setelah beraktivitas berat di hari libur. Setelah dibujuk, Aqilla mau minum obat penurun panas dari dokter yang Mama simpan di kotak obat. Alhamdulillah, panasnya turun. Aqilla pun bisa terlelap kembali.

Besok paginya, Aqilla dibawa Mama Papa ke dokter senior langganan keluarga. Keluarga Aqilla sudah sering ke dokter itu, bahkan dari Papa masih kecil. Dokter yang penyayang yang Aqilla panggil dengan sebutan “Nenek Dokter”.

“Kenapa Aqilla? Langsung tidurkan di Kasur? pinta Nenek Dokter saat Aqilla baru saja tiba di ruangan serba putih itu.

“Demam, Nenek Dokter,” jawab Mama singkat.

“Cuacanya sedang tidak enak, harus pintar-pintar jaga kesehatan, ya Aqilla?” ucap Nenek Dokter. Dijawab dengan anggukan Aqilla: tanda paham.

Cuaca akhir-akhir ini memang sedang tak menentu. Pagi-pagi sampai siang panas mentereng, cocok sekali untuk menjemur pakaian. Namun, tiba-tiba setelah Zuhur, sore atau malamnya hujan mengguyur bumi. Adakalanya dari pagi hujan gerimis tak berhenti-henti seharian. Sering pula mendung, tapi tak turun hujan. 

“Kemarin, Aqilla berenang di kolam belakang rumah bersama kakak dan sepupu-sepupunya, Nenek dokter,” terang Mama.

“Oh, ya?! Jangan dulu ya, Cantik! Di cuaca sekarang ini kalau mau renangnya di air hangat dulu. 

Aqilla kembali mengangguk. Mama mengusap kepalanya yang ditutupin kerudung merah. Lalu mencium keningnya tanda sayang. Hatinya berdoa: semoga Allah segera menyembuhkan anaknya.

Tiba di rumah, Aqilla minum obat resep dokter. Agak susah, tapi terus dibujuk. Kalau Aqilla mau sembuh dan masuk sekolah lagi berarti harus mau minum obat agar cepat sembuh. Mama begitu telaten merawat dan menjaga Aqilla. Mama mengusap-usap perut Aqilla yang sakit, menemani dan memeluknya hingga tidur dan lupa sakitnya. Memotong kuku-kuku tangan dan kakinya yang panjang. Mama juga membersihkan telinganya yang sudah kotor, serta menyisir rambut Aqilla yang ikal. Kalau hari biasa sangat sulit karena Aqilla jarang diam di rumah, sekolah ibtidaiyah dan diniah, serta mengaji di masjid. Di luar sekolah dan belajar Aqilla sering main di luar. Aqilla senang sekali diperhatikan oleh Mama, tapi tentu saja lebih senang kalau sembuh. 

“Akak, kangen sekolah ya? tanya Mama.

 “Iya, Ma. Kangen belajar, kangen teman-teman di sekolah.” Aqilla jujur pada Mama.

“Kalau begitu, Akak harus semangat sehat ya. tuntas minum obat dan ingat-ingat nasihat Nenek Dokter. Apa coba?” tes Mama.

“Jaga kesehatan, jangan kecapean, dan jangan jajan sembarangan,” ungkap Aqilla semangat.

“Pintar anak Mama,” puji Mama. Disambut senyuman keduanya.

**

“Assalamu’alaikum!” seru Papa masuk rumah.

“Wa’alaikum salam warrahmatullah!” jawab Mama.

Papa membawa hadiah spesial untuk Aqilla. Sebuah tas dorong berwarna ungu dengan gambar unicorn kesukaan Aqilla.

“Sayang, coba lihat apa yang dibawa Papa?” Mama mencoba memberi kabar baik pada Aqilla yang tengah terbaring. Kini badannya sudah mulai enakan setelah beberapa hari istirahat dan rutin minum obat. Aqilla semringah.

“Bilang apa, Sayang?” tegur Mama.

“Alhamdulillah, terima kasih Papa.” Aqilla bersyukur dan memeluk papanya.

“Besok, Akak sudah bisa masuk sekolah pakai tas baru ini,” jelas Mama.

“Asyik, aku sekolah lagi.” Aqilla gembira tak terkira. Tak tahan untuk melepas rindu dengan teman-teman sekolah. Sudah terbayang bagaimana belajar di kelas dan bermain saat istirahat tiba.

Aqilla sudah sehat menyambut hari pertamanya kembali ke sekolah dengan penuh semangat. Ia bangun lebih pagi, wudu lalu salat Subuh. Kemudian mandi dengan air hangat, mengenakan seragam merah putih sendirian. Tidak lupa sarapan dan menyiapkan buku catatan dan pelajaran. Aqilla menggendong tas baru lalu pamit mencium tangan Mama untuk berangkat sekolah diantar Papa. 

 Tiba-tiba adiknya, Ziya memain-mainkan tas Aqilla. Ia senang karena tas Aqilla menyala-nyala berwarna-warni. 

“Dede mau juga tas seperti Akak?” goda Mama.

 “Mau … mau … Ma ….” Ziya menjawab spontan. Semua tertawa renyah.***


Bionarasi:

Ilmi Fadillah, lahir di Bandung 26 Maret 1990. Penulis adalah suri rumah dan ibu bahagia dari tiga putri jelita. Ia juga lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Selain tugas domestik, ia juga merupakam pendidik di Muallimin PPI 45 Rahayu. Ia gemar menulis dan aktif di beberapa komunitas literasi. Mimpinya mempunyai segudang karya dan bermanfaat bagi sesama. Tentunya bisa dikenang di dunia dan di akhirat kelak. Yuk mampir di Instagram @imifadhil dan blog pribadi ilmifadillah.blogspot.com.

Deskripsi Ilustrasi: 

Anak kecil yang terbaring sakit sedang membayangkan dirinya sedang masuk sekolah, belajar dan bermain bersama teman-teman sekolahnya.


*Cerpen ini merupakan salah satu cernak dari buku Aku Mau Bersekolah yang diterbitkan Sekolah Menulis Indonesia 

Senin, 19 Juni 2023

[Cerpen] Barak Pengungsian oleh Imi Fadhil



Gambar: Canva Apk.
Barak Pengungsian
Hujan tak henti-hentinya mengguyur Bandung sepanjang malam. Sebenarnya ada jeda walau tak lama. Hujan lebat. Reda. Hujan lagi. Reda. Sampai Subuh menjelang, langit gerimis. Padahal Imlek sudah lewat. Ya, mungkin musim penghujan benar-benar sudah datang. 
Manusia tak pandai bersyukur. Selalu mengeluh dan berpikiran negatif. Tuhan beri panas, "Yah, panas!" keluhnya. Tuhan kasih hujan, "Yah, hujan!” 
Anisa yang di kamar indekos sendirian, sampai tak bisa tidur dengan nyenyak. 
Tingtong! Suara notifikasi ponsel berbunyi. Anisa tak terlalu menghiraukannya. Sebuah berita masuk seperti biasa. Berita yang kadang tidak dijamin kevalidannya. Namun, kali ini Anisa penasaran. Gadis itu pun melirik gambarnya. 
Sebuah sekolah yang sangat Anisa kenal terendam banjir parah. Deg. Anisa terperanjat, ingat emaknya di kampung halaman. Perempuan renta yang sangat ia sayang. Terlebih setelah ibunya memutuskan untuk pergi menjadi TKW ke Dubai. Sebagai pengalihan karena depresi ditinggal bapaknya yang kabur dengan perempuan lain.
Kabar terakhir, Anisa melihat status ibunya di medsos. Beliau memamerkan rial yang didapat dari hasil kerjanya. Anisa tak peduli seberapa besar cuan itu. Rasa kesal lebih besar pada perempuan yang telah melahirkannya ke dunia. Jika tak ada emak yang merawatnya, entahlah, Anisa akan jadi manusia seperti apa. 
Sepuluh tahun lalu. Hari yang tak mungkin Anisa lupakan.
"Mamah teh jangan pergi! Anisa di sini sama siapa?!" 
Bocah sembilan tahun menarik-narik baju ibunya sambil menangis sejadi-jadinya. Perempuan itu hanya menjawab Anisa kecil dengan satu kata, "Maaf!" 
Tangan mungil itu pun bersikeras ia lepaskan dari rok beludrunya. Raut mukanya jelas mengguratkan banyak makna. Sedih. Rasa bersalah. Ada pula marah pada keadaan. Namun, itulah pilihan ibu Anisa. Konsekuensi yang berat harus ia terima. Kehilangan anak gadisnya, terutama hormat dan sayangnya di kemudian hari. 
Anisa sangat terpuruk. Jatuh berderai-derai. Anisa tak lagi percaya pada cinta kasih. Kasih ibu yang katanya sepanjang hayat, baginya, hanya lirik lagu belaka. Syukurlah, Anisa segera bangun dari keterpurukan. Bagaimanapun juga hidup harus terus berjalan sebagaimana mestinya. Anisa harus bertahan. Melanjutkan kerasnya terpaan dunia. 
Anisa tumbuh dan berkembang lebih dewasa dari sebayanya. Anisa cukup pintar di bangku sekolah hingga diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Bandung. Dengan berat hati, Anisa keluar dari bilik neneknya. Hidup perih di sepetak kamar tak jauh dari kampusnya. 
"Hoream ah emak mah diajar nu kararitu. Hese. Emak mah geus kolot. Gaptek" 
Emak bilang malas kalau harus belajar yang begituan (hape). Emak sudah tua. Gaptek. 
"Gak papa atuh, Mak. Kalau nanti di kota, Anisa kangen kan tinggal telepon saja." rayu Anisa.
"Mun sono, nya ka dieu weh!" Emak tertawa memperlihatkan giginya yang tinggal empat. Katanya, kalau kangen, ke sini saja. 
Anisa gereget dan memeluk erat emaknya, "Ah, emak. Bisa aja" 
**
Anisa mencoba melakukan panggilan Whatsapp. Wajah emak tetap cantik walau sudah renta. Dibalut jilbab bunga-bunga warna cokelat. Tampak bahagia dipeluk cucu sematawayangnya dalam layar ponsel Anisa. 
Sepertinya WA emak tidak aktif sudah sejak dua hari yang lalu. Mungkin, habis kuota, pikir Anisa. Anisa pun mencoba melakukan panggilan biasa. 
"Nomor telepon tidak aktif, tolong coba beberapa saat lagi!" 
Hanya suara operator yang menjawab panggilan Anisa. Hati Anisa makin tidak tentram.
**
Di dalam sebuah kantor salah satu media online ternama di Indonesia dua orang lelaki mematung saling melempar pandangan yang bingung. Bingung memulai percakapan. 
Lelaki pertama sudah paruh baya, menggunakan pakaian kantoran, berkameja lengkap dengan dasi dan jas hitam agak berantakan. Lelaki kedua, muda dan lebih supel. Kemeja panjangnya dilipat sampai siku, bercelana jeans dengan kartu tanda pengenal mengalung di lehernya bertuliskan berikut. 
Nama : Muhammad Dzaki
Jabatan : Wartawan
Sang Bos pun membuka suara tanpa basa-basi. 
"Perusahaan sedang mengalami krisis sejak pandemi ini. Dengan berat hati kami harus memberhentikan kamu, kecuali...."
"Kecuali apa, Bos?" sambung Dzaki memberanikan diri menanyakan kalimat yang terputus tadi.
"Kecuali kamu membuat berita yang unik sampai media kita naik lagi ke puncak," jelas Si Bos.
**
Anisa tak pikir panjang lagi. Menjelang Subuh ia segera tancap gas mengendarai motor matik pinjam punya temannya yang satu kosan. Hanya dalam satu jam, Anisa bisa tiba di kampung halamannya. Namun, di jalan Anisa terperangkap di tengah hujan dan banjir cukup tinggi. Anisa pun menepi di sebuah rumah teman lama. Dengan senang hati, Cucu mempersilakan Anisa berteduh di rumahnya. Setidaknya sampai hujan reda, banjir agak surut.
Anisa disediakan kamar sendiri, walau tidak besar, tapi rapi dan nyaman. Namun, mata Anisa sama sekali tak bisa rehat. Emak. Emak. Hanya Emak yang ada di pikirannya. 
Tok! Tok! Tok! 
"Masuk aja!" lantang Anisa.
Cucu tergesa-gesa menghampiri Anisa. 
"Kamu sudah lihat video yang lagi trending?"
Anisa hanya menggeleng tak paham.
"Nih, kamu lihat saja sendiri!" Cucu menyodorkan ponselnya.
"Emak? Ini beneran emak?" tanyanya sendiri.
"Iya siapa lagi?" sela Cucu.
Sebuah video berdurasi 11 menit. Seorang pemuda menggendong nenek di tengah banjir setinggi dada dewasa ke barak pengungsian. Nenek itu tak lain adalah Emak. 
"Kamu malaikat berwujud manusia," komentar salah satu warganet.
"Aku sedang cari suami baik kayak kamu, Kang," timpal yang lain.
Begitu ramai komentar positif warganet. 
Banyak tanya di benaknya. Siapa pemuda itu? Kenapa mau menolong emak? yang jelas, Anisa wajib berterima kasih pada pemuda viral itu.
Hari mulai cerah. Air genangan sudah surut. Anisa langsung berkemas menuju barak pengungsian. Saat dihidupkan, motor tak mau jalan. Anisa baru ingat kalau motornya menerobos banjir. 
"Saya mau berangkat kerja, kamu ikut aja. Saya lewat barak pengungsian itu kok," ajak Yena—Kakak Cucu.
Anisa pun mengangguk lega. 
Sesampai di barak, Yena menyilakan Anisa untuk turun dan mencari emak. Tak butuh waktu lama, Emak sudah berbaur dengan korban banjir yang lain. Anisa setengah berlari, mendatangi emak, memeluk emak dengan hangat. Bahagia tak terkira. Syukur tak terukur. Anisa bisa melihat wajah keriput emak lagi. Anisa bahagia melihat emak sehat. Tak kurang sesuatu apapun.
"Emak butuh apa? Anisa menawarkan bantuan.
"Emak lapar," lirih emak.
"Tunggu sebentar," kata Anisa.
Anisa pun keluar mencari dapur umum untuk mencari pengganjal perut emak.
Tak disangka, Anisa melihat pemuda viral tengah bercakap-cakap. Anisa mencoba mendekati mereka.
"Makasih loh, Dzak! Kamu sudah mengangkat perusahaan. Kamu tak jadi diberhentikan. Malah kamu akan naik jabatan. Kamu mau bonus apa? Sebutkan saja! Ha!Ha!Ha!" Si Bos tertawa jumawa.
Anisa hanya bisa melongo menyimak percakapan dua lelaki tersebut.
***
TAMAT
***

*)Cerpen ini termasuk dari kumpulan cerpen dari What's Wrong With Anisa dari ajang lomba cerpen tokoh Anisa.

**) Penulis empunya nama asli Ilmi Fadillah. Suri rumah bahagia yang sudah dikaruniai tiga putri yang cantik salehah, insyaallah. Pemilik akun Instagram @imifadhil ini senang sekali menulis walau belum mahir dan masih terus harus belajar. Motonya, “Menulislah! karena manusia mudah lupa dan dilupakan” 


[Cerpen] Lelaki di Balik Raungan Mesin oleh Imi Fadhil



Gambar: Canva Apk.

Bapak menangis tersungkur di lutut Emak. Tak biasanya Bapak seperti itu. Sementara Ibu, berada di samping Bapak. Memaku di lantai. Muram. Menelan suara. Entah kabar buruk apa yang hendak disampaikan Bapak siang itu. Aku mengintipnya di balik jendela kamar. Aku mencoba menyimak kata demi kata yang keluar dari mulut Bapak. 

“Semuanya habis, Mak.” Bapak membuka suara.

“Apa yang habis, Jang? Coba tenang dulu!” tanya Emak heran.

Bapak masih terengah-engah mencoba meredam emosinya. Meredakan tangisnya. 

“Sebentar, ya Jang!” seru Emak ke Bapak.

Bapak mengangguk. 

Tak lama, Emak muncul dari dapur. Emak menyodorkan segelas air putih untuk Bapak. 

“Minumlah!” pinta Emak.

“Hatur nuhun!” Bapak berterima kasih.

Bapak meneguk airnya perlahan. Sampai habis, tak tersisa setetes pun. Tampak sekali Bapak haus. Maklum perjalanan dari Cikutra ke Pagarsih cukup memakan waktu. Bapak meletakkan gelas di samping tempat duduknya. Bapak menghela napas panjang. 

“Ruko saya di Cikutra kemalingan, Mak.” Bapak menjelaskan.

“Innalillahi..” prihatin Emak.

“Tiga mesin jahit dan tiga mesin obras habis dicuri. Tinggal satu mesin jahit tua saja yang tertinggal,” terang Bapak menambahkan.

Aku masih diam di balik jendela. Aku hanya bocah SD. Tak sungguh-sungguh mengerti apa yang telah terjadi. Namun, bisa kutebak dari raut wajah Bapak, Ibu, dan Emak mereka sungguh sedih. 

***

Dua tahun yang Lalu. 

Bapak mendapat warisan sehampar sawah. Bapak menjualnya untuk modal membuka usaha jasa tailor di daerah Cikutra. Aku masih ingat namanya “Mukhlis Tailor” diambil dari nama panjang kakakku, si sulung. Keahlian Bapak memang di bidang itu. Sedari kecil Bapak sudah harus merantau dari Cilacap ke Kota Bandung. Bapak ikut paman bekerja. Dulu daerah Dago sudah cukup ramai walaupun tidak seramai sekarang. Terkenal daerah kampus dari dulu. Bapak membantu Paman menjahit pakaian. Maka dari itu, keahlian Bapak tidak bisa diragukan lagi. 

Namun, nasib baik belum berpihak pada Bapak dan keluarga kami. Bapak pernah punya beberapa karyawan. Bapak mendidik dan mengajarkan ilmu menjahit kepada mereka dari nol. Salah seorang karyawan malah curang. Setelah mereka bisa malah kabur. Bapak memang terlalu baik. 

“Yuk, Nak kita ke Bapak!” ajak Ibu suatu hari.

Aku mengangguk senang. Aku senang karena aku akan jalan-jalan bersama Ibu dan adikku yang masih bayi. Aku juga tak sabar bertemu Bapak. Sudah lama Bapak tak pulang. Makanya Ibu menyusul Bapak. 

Ibu menggendong adik dan menuntunku menuju Jamika. Di sana kami akan naik angkot berwarna oranye. Ibu pun melambaikan tangan kanannya setelah melihat ada angkot yang dituju. Angkot pun berhenti. Kami cepat-cepat menaikinya. Aku senang melewati jalanan yang masih lenggang. Banyak pohon rindang di kanan-kiri jalan. Sejuk rasanya. Aku suka Bandung tempo dulu. 

“Yuna, bangun!” Ibu menggoyang-goyangkan badanku. 

“Iya, Bu…” sahutku lemah.

“Sebentar lagi sampai,” ungkap ibu.

Aku mencoba memaksa membuka lebar mataku yang sipit. Benar saja kami sudah sampai di tempat tujuan.

“Kiri, Mang!” seru Ibu.

Sopir angkot pun memberhentikan kendaraannya. Tepat di kiri bahu jalan. Ibuku merogoh uang recehan. Ibu memberikannya ke sopir lewat jendela depan. 

Di sebrang sana sudah terlihat ruko Bapak. Bangunan kecil di antara toko dan rumah mewah. Tampak tulisan besar di kaca bangunan itu. “M-U-K-H-L-I-S T-A-I-L-O-R” aku mengejanya.

Tanganku digenggam erat oleh ibu. Ibu melirik ke kanan dan kiri jalan raya. Setelah memastikan jalanan tak ada kendaraan lewat. Kami menyebrang. 

“Assalamu’alaikum!” ucap Ibu.

Bapak tampak sedang bekerja di balik raungan mesinnya. Raungan mesin menenggelamkan suara Ibu. Suara Ibu yang parau tak bisa menandingi deru mesin jahit Bapak.

Ibu mengulangi salamnya, “Assalamu’alaikum!” Kali ini lebih keras.

“Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh!” Bapak agak terkejut.

Bapak berdiri. Aku bergegas menuju pangkuannya. Lalu memeluknya erat. Lalu Bapak menggendongku.

“Yuna, putri Bapak!” 

Kumisnya yang tipis menggelitik pipiku. 

Ibu mengecup tangan Bapak. Bapak menurunkanku dari pangkuannya. Lalu meraih adikku. Bapak menimangnya. Ibu juga menyapa karyawan Bapak dan bersalaman tanpa bersentuhan.

Ibu dan Bapak berbincang serius. Aku tak mau tahu apa yang mereka perbincangkan. Aku mengajak bermain adik yang dibaringkan di bawah. Namun, aku cepat bosan. Aku pun mengganggu Bapak.

“Bapak, mau jajan,” rengekku menarik-narik baju Bapak.

Bapak tak pernah menolak keinginanku. Apalagi hanya sekadar mau jajan. Bapak menggendongku. Aku memang sudah empat tahun, tapi Bapak masih menggendongku. 

“Mau apa?” tanya Bapak setelah sampai di toko sebelah rukonya.

Aku meraih permen nano-nano. Entahlah aku pikir itu adalah permen terenak di dunia. Kalaupun masih ada permen itu hari ini. Tak seenak dulu. Aku masih ingat slogan iklannya. “Manis, asam, asin, ramai rasanya!”

Kami kembali ke ruko Bapak. Aku dan Ibu merebahkan badan di samping adik. Di sebuah kamar sempit. Bapak melanjutkan pekerjaannya. Mengayuh mesin jahitnya. Derunya membuat kami gagal memejamkan mata. Namun, tidak dengan adik. Dia sangat menikmati suara berisik itu. Pulas sekali. Mungkin dianggapnya lagu nina bobo. 

“Teng! Teng! Teng! Teng! Teng!”

Suara tiang listrik yang dipukul bersahutan dari kejauhan. Kaki Bapak serentak berhenti. Begitu pula karyawan Bapak. Bapak segera keluar ruko melihat apa yang terjadi. 

“Ibu!” aku mendekap Ibu ketakutan.

 “Ayo, kita keluar!” ajak Bapak panik.

Ibu menggendong adik dan setengah menyeretku keluar kamar. Bapak langsung meraih lalu menggendongku. Ku lihat Bapak sempat mematikan aliran listrik dari sikringnya. Lalu meneyebrangkan Ibu sambil menggendongku. 

Ada percikan api di kabel listrik yang melintang di pinggir jalanan. Sekitar lima meter dari ruko Bapak. Kami diam di seberang jalan cukup lama. Bukan hanya kami saja. Orang-orang yang ada di sekitarnya pun berhamburan keluar. Bergerumul di tempat yang aman. Sepertinya petugas PLN segera memutus aliran listrik di daerah itu. Mungkin ada yang melapor. 

“Sudah aman,” terang Bapak. 

“Alhamdulillah!” Ibu mengusap-usap dadanya.  

Kami pun bubar dari kumpulan orang-orang. Kami kembali ke ruko Bapak. Listrik masih mati. Petugas PLN nampak sigap memperbaiki kabel listrik yang menagalami konsleting.

Hari makin sore. Di ruko Bapak gelap karena tak ada cahaya masuk.

“Kalian pulang sekarang, Ya!” lirih Bapak.

“Iya, Pak.” Ibu mengangguk.

“Nanti Bapak menyusul besok,” janji Bapak. 

Bapak mengepalkan segenggam uang pada tangan Ibu. Kami berpamitan pulang.

***

Setelah peristiwa kemalingan itu, Bapak menjual ruko. Bapak bekerja serabutan. Bapak ikut bekerja dengan Mang Sopyan—seorang supplier jaket dan topi. Jaket dan topinya dipasarkan di koperasi-koperasi pemerintahan di dalam dan luar pulau Jawa. Bapak yang menagih uang ke luar kota. Kalau berhasil membawa uang, Bapak kebagian. Kalau tidak, ya bablas. Nihil. Bapak pernah kehabisan ongkos di Kota Solo. Sampai-sampai minta bantuan polisi untuk bisa pulang ke rumah. 

Bapak pun alih profesi dengan berjualan celana perca yang dibuatnya sendiri. Tak juga berhasil. Bapak pernah juga menjajakan barang dagangan punya tetangga. Bapak menjualnya di pasar Astana Anyar setiap pagi. Aku pernah ikut bersama Bapak. Naik ke gerobak dagangan. Ikut menjajakan mug-mug di kaki lima. Hasil penjualan setiap harinya sangat minim. Tak jarang Bapak pulang tanpa ada satu pun dagangan yang terjual. Apa pun pernah dilakoni Bapak demi bertahan hidup. Menafkahi kami sekeluarga. 

Bapak pernah jadi pedagang asongan: jualan kopi dan rokok; berdagang tahu Cibuntu; menjual sayuran; menjual pakaian jadi; dan lain-lain. Aku pun lupa saking banyaknya yang Bapak coba. Semuanya belum berbuah hasil. Hidup terasa susah. Ini ujian bagi keluarga kami. Namun, kami bersyukur. Kami masih bisa makan. Kami masih bisa beribadah. Itu nikmat yang luar biasa. 

“Bu, Bapak mau menjahit lagi.”

Ibu hanya diam. Tak merespon perkataan Bapak. Ibu juga tak menghentikan kegiatannya melipat pakaian yang sudah kering dijemur. 

“Bapak bisa menjahit di pinggir jalan. Menerima permak atau memotong kain,” tambah Bapak panjang lebar.

Ibu sejenak terdiam memandang langsung kedua bola mata Bapak. 

“Ibu minta cerai,” tegas Ibu.

***

T A M A T

***

Catatan: 

Cerpen ini merupakan salah satu cerita dalam antologi Selaksa Rasa tentang Lelaki dari AE Publishing.

[Cerpen] Keinara oleh Imi Fadhil


Gambar: canva apk

Ruangan sidang hening. Kau duduk bersebelahan dengan Keinara, perempuan yang pernah kau cintai. Keinara yang pernah kau lingkarkan cincin di jari manisnya. Kalian berdua sama-sama menunggu sang hakim mengetuk palunya. Keinara yang menusuk hatimu, dengan perselingkuhanya dengan sahabatmu sediri. Apakah hubungan kalian layak dilanjutkan atau keinginanmu untuk berpisah dengan Keinara dikabulkan. 

Kau tampak tegar hari ini, tak seperti hari-hari sebelumnya. Kau sudah bulat melepas Keinaramu. Sebaliknya, perempuan di sebelahmu sangat kusut. Tak kuasa sedikit pun mengangkat wajahnya. Tampak penyesalan yang dalam, tapi sudah terlambat. Ya, Selamat! Keinginanmu ternyata terkabul.

“Maaf, ya Mas!” sesal Keinara sambil menjabat tanganmu.

Kau meraih tangannya sambil mengangguk pelan dan sedikit menyunggingkan senyum pahit. Biarkan seisi dunia memandang kau raja tega. Namun, kau sudah mengambil keputusan yang sangat tepat. Perpisahan bisa membuat dua insan memperbaiki dirinya masing-masing. Itulah tanda cintamu pada Kinara. 

Cinta memang terkadang harus melepas untuk meraih kebahagiaan sebenarnya. Semoga Keinara meraih kebahagiaannya. Kau pun bisa melanjutkan hidupmu. Toh, dengan ataupun tanpanya. Matahari tetap menyongsongmu dari ufuk timur. Langit masih senantiasa siap menghiasi harimu. Pun bumi, masih setia untuk kaupijaki. Kau pun akan menemukan kebahagiaanmu di kemudian hari. Harap akan selalu ada. 

***

6 bulan yang lalu.

Kau berbincang hangat dengan Keinara. Saat itu di meja makan, kalian sarapan sandwich isi salad, keju, dan telur setengah matang kesukaanmu. Istrimu memang jago meracik bumbu. Masakan sederhana menjadi selalu istimewa kala Keinara yang meramunya. Kau pun menutup sarapanmu dengan orange juice. 

“Aku berangkat, ya!” katamu.

“Eh, Mas!” sela Kirana.

“Iya?!” sahutmu lembut.

“Aku mau ngobrol serius, Mas!” pinta Keinara.

“OK, boleh. Pulang kantor ya?!” responmu cepat.

“OK!” jawabnya riang. 

Keinara pun menyodorkan tas kerjamu. Merapikan dasimu. Mengecup punggung tanganmu. Kau balas kecupannya dengan kecupan lembut di keningnya. Kau bahagia dan Keinara bahagia. 

***

Sepulangmu dari tempat kerjamu. Keinara menyambutmu, meraih tas dan jasmu. Dia tak lupa menagih janjimu. 

“Mas mau makan atau mandi dulu?” tawarnya.

“Aku sudah makan. Mandinya nanti saja,” jawabmu. 

“Katanya kamu mau ngorbrol serius? Silakan sampaikan sekarang!” tanyamu penasaran.

“Aku bosan, Mas. Diam di rumah terus,” tukasnya.

Kau terdiam sejenak mendengar pernyataan Keinara. Setelah dua bulan menikah, Keinara memang hanya diam di rumah. Kebetulan kau dan Keinara belum dipercaya punya momongan. 

“Terus mau kamu apa?” selidikmu.

“Aku mau kerja lagi. Agar hilang penatku, Mas.” Keinara merajuk.

“Aku mandi dulu deh,” alihmu dan berlalu ke kamar mandi. 

Keinara tampak kecewa. Wajah sumringahnya berubah kecut. Keinara adalah perempuan yang diidamkan semua lelaki, termasuk kau. Perempuan berperawakan model, cantik dan intelek. Tak ayal, kalau kau terlalu mengagumi dan mencintai Keinaramu. Kau memang beruntung berhasil meminang Keinara. 

Kau buka pintu kamar mandi. Kau mengguyur peluhmu. Kau tampak berat memikirkan perkataan Keinara. Maumu Keinara jadi ibu rumah tangga saja. Dia duduk manis di rumah menunggumu pulang kerja. Namun, kau pikir memang tak adil bagi Keinara. Di sebuah kompleks perumahan yang sangat individual, Keinara seolah mati gaya. Apalagi kehadiran sang buang hati belum kunjung tiba di tengah kalian. 

Kau pun menyelesaikan ritualmu di kamar mandi. Kau beranjak ke kamarmu dan Keinara. Kaulihat Keinara sudah terbaring dan memejam. Kau tahu, Keinara belum benar-benar tidur. Kaukecup lembut bibirnya. Keinara pun membuka kelopak matanya. 

“Kamu boleh kerja lagi,” ungkapmu meruntuhkan ego di lubuk hati.

Keinara senang bukan kepalang. Malammu dipenuhi bintang. Semesta turut merayakan kebahagian Keinara. Pun dengan kau, tak ada alasan kau tak bahagia karena bahagia Keinara adalah bahagiamu jua. 

***

Tak perlu waktu lama untuk istrimu mendapatkan pekerjaan barunya. Kecerdasannya yang di atas rata-rata membuat Keinara ditempatkan di posisi manajer di sebuah perusahaan advertisement ternama di Kota Bandung. Posisinya tak jauh dari kantormu berdiri. Oleh karena itu, kau sering menengok Keinara.

Kau menyambangi Keinara saat jam istirahat kantor. Kau janjian bertemu dengannya di lobi. Kau duduk di sofa dekat resepsionis. 

“Andra?!” sapa seseorang dari kejauhan.

“Hei!” kau pun membalas sapanya.

Dia adalah Dewa, temanmu saat SMA. Bahkan, mereka sangat dekat. 

“Dewa?! Kok, kamu di sini?” tanyamu heran. Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dijawab. Hanya basa-basi semata. Tentu saja kau tahu, kalau Dewa ada di gedung itu, dia pasti bekerja di sana.

Kalian bernostalgia sejenak. Mengingat masa-masa yang indah saat berseragam putih-abu. Keinara pun muncul.

“Kalian sudah saling kenal?” tanyanya.

“Iya!” jawabmu dan Dewa bersamaan. 

“Kenalkan, ini pendamping hidupku. Kau pasti sudah kenal juga dengan Keinara.” Kau memperkenalkan Keinara sebagai istrimu pada Dewa.

“Kau hebat, kawan! Bisa mendapatkan perempuan cantik dan intelek macam Keinara,” ledek Dewa.

“Ha.. ha.. ha.. makanya cepatlah kau cari istri!” Kau balik meledek Dewa.

Dewa hanya tertawa renyah menanggapi ledekan sahabatnya.

“Kami makan siang dulu, Wa! Kau pamit. Dibuntuti istrimu yang menyungging sedikit senyum untuk Dewa.

***

Suatu hari, kebetulan Keinara tak masuk kantor. Istrimu sedikit demam dan seharian hanya rehat di kamar. Keinara tak mau dibawa ke dokter. Malam harinya, sepulang lembur, kau pun masuk kamar. Keinara sedang di kamar kecil. Kau buka gadgetnya. Ada obrolan Istrimu dengan Dewa sedari siang tadi. Obrolannya lumayan panjang. Kau baca dalam hati.

Dewa:

Kei, kamu gak masuk kerja?

Keinara:

Iya nih, aku sedikit demam.

Dewa:

Andra gak bawa kamu ke dokter?

Keinara:

Aku cuma kecapean aja. Istirahat sebentar juga sehat lagi.

Dewa:

Oh, ya udah. Banyak yang nanya nih, kenapa kamu gak masuk kantor.

Keinara:

Bilangin aja aku gak apa-apa.

Dewa:

Banyak yang khawatir sama kamu, berarti kamu banyak yang sayang.

Keinara:

Haha ... iya syukurlah. 

Dewa:

Aku juga khawatir, berarti aku sayang juga sama kamu.

Keinara:

Makasih udah sayang sama aku.

Dewa:

Emang boleh aku sayang sama kamu, Kei?

Keinara: 

Ya boleh, silakan. Kan sebagai teman, kita harus saling menyayangi. 

Dewa:

Kalau aku sayangnya lebih dari sekadar teman gimana? Boleh?

Keinara:

Hahaha! Gak boleh, aku kan punya Mas Andra.

Tetiba Keinara muncul di hadapanmu. Kau pun segera menekan tombol kembali secepat kilat. Lalu menyimpannya kembali di tempat semula. 

“Eh, Mas sudah pulang?!” Keinara menyambar dengan retorisnya.

“Iya!” jawabmu singkat. 

Kau pun membersihkan badanmu dan segera naik ke ranjangmu. Lalu kau tidur membelakangi istrimu. Keinara mengira kau capek kerja dan butuh istirahat lebih awal. Istrimu pun menengok gadgetnya dan menghapus semua obrolannya dengan Dewa. Tak lama Keinara terlelap di atas bantal empuknya. 

Sementara di otakmu masih berkeliaran pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan Dewa dan istrimu. Dari obrolannya, tampak sekali kalau Dewa menyukai istrimu. Namun, kau luruskan keraguanmu pada istrimu. Pikirmu, Keinara dengan segala kelebihannya pasti banyak lelaki yang menyukainya. Kau pun berbaik sangka, Keinara tak akan tega melayani Dewa atau lelaki lain. kau berpikir mungkin Keinara hanya menjaga hubungan baik dengan Dewa yang notabene sahabatku. Sekaligus rekan kerjanya. Setelah clear kau pun tidur menyusul Keinara dengan posisi masih memunggunginya. 

***

Keinara semakin sibuk dengan pekerjaan kantornya. Sampai-sampai harus bermalam berhari-hari di luar kota. Kau sangat mendukung penuh karir istrimu. Kau pun sangat percaya akan kesetiaannya. Pagi itu Keinara pamit akan berangkat ke Puncak-Bogor untuk pekerjaannya selama dua hari. Entah kenapa tampaknya kau agak berat. Tak seperti biasanya. 

“Dewa berangkat juga?” tanyamu sinis.

“Enggak, emang kenapa?” Keinara merasa ada yang aneh.

“Oh, gak apa-apa,” jawabmu.

Kau pun merasa sedikit tenang melepas Keinara. Kau pun berencana untuk mengecek kebenaran ketiadakikutsertaan Dewa. Saat jam makan siang kau menuju gedung perkantoran istrimu. Kau puas saat melihat Dewa ada. Kau cepat-cepat bergegas jauh meninggalkan gedung itu. Sebelum Dewa tahu dan melihatmu. 

Malam itu kau sendirian lagi. Kau membuka album pernikahanmu dengan Keinara. Kau buka lembaran demi lembaran dengan suka cita. Kalian memang pasangan muda yang paling bahagia di momen itu. Kau tersenyum-senyum sendiri. Smartphone-mu berdering. Kau raih dengan tangan kananmu. Ada suara dari kejauhan.

“Hallo!”

“Iya, Hallo!” jawabmu.

“Istrimu ada di rumah kan?” tanyanya.

“Iy.. iy.. ya! Dia ada di kamar.” Jawabmu gelagapan. Kau mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya.

“Syukurlah! Mungkin yang barusan kulihat bersama sesorang lelaki hanya mirip saja,” tukasnya.

Dia pun menutup panggilannya. Dia adalah teman lamamu. Kau sekarang bingung. Pikiranmu kacau. Otakmu kusut tak karuan. Kau lihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 11.55. Tak mungkin kau pergi ke puncak malam-malam begitu. Kau pun memutuskan untuk pergi setelah Subuh. Malam itu kau tidak benar-benar tidur. Kau rasakan malam benar-benar lama. 

Setelah menunaikan dua rakaat wajib, kau pun menyalakan mobilmu menuju Puncak. Butuh dua jam saja untuk sampai ke sana. Jalanan memang masih lenggang. Perasaanmu tak karuan. Kau masih berharap pransangkamu salah semua. Kau langsung menuju resepsionis hotel, tempat Keinara bermalam. Posisimu sebagai suami Keinara membuat resepsionis tak berpikir panjang untuk memberi tahu nomor kamarnya. Setelah memegang nomor hotel di kepalamu, kau langsung mencari kamarnya. 

Kau beruntung bisa langsung menemukannya. Kau memilih tak langsung masuk. Kau lihat jam di tanganmu menunjukkan pukul 07.00. Tak lama pintu kamar pun terbuka. Ya, dia Dewa—temanmu. Kau setengah berlari menghampiri Dewa. Kau menyambutnya dengan tinjumu. Tanpa berkata apa-apa. Kau pun masuk kamar. 

“Kenapa masuk lagi, Mas?” suara Keinara di dalam.

“Masih kangen ya?” tambah Keinara.

Kau lihat Keinara bengong melihatmu. Keinara tak berbusana di atas ranjang kamar hotel. 

“Mas Andra?!” Keinara heran.

“Iya, Aku juga sudah meninju Dewa sebelum masuk ke sini,” terangmu ringan pada Keinara.

Setelah kau melihatnya dengan jelas. Terang semua. Bagimu sudah cukup untuk menjelaskan apa yang kau pikirkan selama ini. Kau berbalik ke arah pintu kamar untuk keluar. 

“Mas! Mas Andra!” Keinara memanggilmu, mengejar sambil menangis.

Namun, dia hanya mengikutimu sampai pintu. Tak mungkin keluar dengan keadaannya yang seperti itu. Kau benar-benar tak memedulikannya rintihannya. Keinara sangat menjijikan pagi itu. Bahkan menurutmu, lebih menjijikan dari seekor binatang. Di sana berakhirlah hubunganmu dengan Keinaramu.

***

Kau sendirian lagi. Namun, kau merasa lebih hidup sekarang. Setelah putusan pengadilan, kau merasa pikiranmu jauh lebih tenang dan bebas. Rekan-rekanmu menjodoh-jodohkanmu pada beberapa perempuan. Bahkan, banyak perempuan mendekatimu. Kau lihat wajahmu di cermin. Kau memang tampan. Tak kalah tampan dengan Dewa. Kau juga mapan dan yang paling penting adalah kau setia. Namun kau selalu menolak. Kau lebih senang melajang dulu. Kau hanya ingin fokus berkarir. 

Dua tahun sudah kau menduda. Ada pesan masuk pada akun BBM-mu, ternyata broadcast dari seorang teman lama. 

“Nisa teman gue kehilangan semua kontaknya, tolong bantu: add ulang ya PIN barunya. Thanks!”

Di sana juga tertera PIN baru yang namanya Nisa. Kau iseng klik PIN tersebut. Tak lama Nisa mengkonfirmasi undangan pertemananmu di BBM. Nisa, kau lihat ia cantik dan berhijab. Pikirmu, mungkin ini cocok untukmu. Perempuan berhijab tak mungkin melakukan affair. Tiba-tiba kau muak karena teringat Keinara dua tahun yang lalu. Kau tutup smartphone dan kembali meneruskan pekerjaanmu. 

“Ndra, malam ada pertemuan dengan klien-klien kita. Hadir ya!” teriak rekanmu. 

“OK!” jawabmu singkat. 

Malam itu kau benar-benar hadir. Pertemuan yang biasa. Hanya ngobrol-ngobrol dan makan malam. Namun spesial bagimu. Di sana kau melihat Nisa dengan teman lamamu yang dulu sempat mengiklankan PIN Nisa. Kau kagum padanya. Hanya itu. Jilbabnya yang terurai membuat kau hormat padanya. 

“Kenalin, Ndra! Ini Nisa,” dia bilang.

“Andra,” kau pun spontan mengangkat kedua tanganmu menempel di dada.

Kau pun tak mengerti kenapa melakukan hal itu. Kau pikir, mungkin seperti itu cara menghormati perempuan berhijab. Malam itu pun berlalu. Bulan menyibak bintang-bintang di langit dengan cantiknya. Kau sangat mencintai langit malam itu. 

Kau pun berangan-angan untuk membuka lembaran baru hidupmu yang lebih indah. Kau beranikan diri mengirim pesan singkat pada Nisa. 

Kau : Assalamu’alaikum. Maaf mengganngu malammu. Aku tak suka bertele-tele. Maukah kamu jadi istriku?

Nisa: 

Wa’alaikum salam. Maaf, mungkin kamu salah kirim.

Kau:

Tidak, Aku Andra memang mengajakmu untuk menikah.

Nisa:

Iya, aku tahu kamu dari temanku.                  Temanku banyak bercerita tentangmu, Kang. 

Kau:

Bagus deh, berarti kamu tahu masa laluku. Ya, sudah. Aku tak mau mengungkitnya. 

Nisa:

Oh, iya maaf, Kang. 

Kau:

Jadi kamu mau atau tidak?

Nisa:

Mau, insya Allah.

Kau:

Alhamdulillah. Syukurlah! Aku gak mau ngajak kamu pacaran.

Nisa:

Aku juga gak kan nerima kamu, Kang kalau hanya ngajak pacaran. 

He ... he ... he....

Kau mantap sekali melamar Nisa. Padahal cinta itu belum tumbuh di hatimu. Namun, kau yakin cinta akan datang sendirinya saat Allah menebar benihnya dalam hatimu. Sejak hari itu kau sering mengajak Nisa makan. Namun kalian tak pernah berdua. Selalu saja beramai-ramai. Sesekali dengan teman-temanmu. Sesekali juga dengan teman-teman Nisa. 

Kau pun makin merasa cocok. Nisa benar-benar berbeda dengan perempuan lainnya yang kau kenal. Kau sangat menghormatinya. Kau sangat menjaganya. Kau tak berani memeluk atau mencium Nisa, seperti yang kau lakukan sebelumnya pada semua mantanmu. Bahkan, memegang tangannya pun kau enggan. Itulah makna cinta yang sebenarnya. Cinta yang kau tak sadari adanya. Cinta tanpa kau sadari telah mulai tumbuh di hatimu. Cinta itu menjaga pasanganmu. Tak melakukan hal yang diharamkan sebelum akad terucap. 

Kau pun mengunjungi rumah orang tua Nisa. Malam itu kau resmi melamar Nisa. Kau akhirnya memutuskan menyudahi masa dudamu. Di ruang tamu, kau duduk berpegang lutut. Ibu Nisa sangat ramah. Entah ayahnya.

“Kamu yang mau melamar Nisa?” tanya kecut ayah Nisa.

“Iya, Om,” jawabmu gugup.

Kau dan Nisa saling memandang. Tersenyum getir. 

***

T A M A T

Minggu, 18 Juni 2023

[Cerpen] Perkara Sandal Jepit oleh Imi Fadhil


Gambar: canva apk.

Suasana di aula benar-benar khidmat. Sebentar lagi Dya akan melafalkan satu kalimat sakral, "Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar tersebut, tunai! "

“Stop! Aku yang seharusnya berada di samping Dya.” 

Semua mata tertuju padaku, termasuk Dya dan calon mempelai wanita itu. Sayangnya, itu hanya lamunanku saja. Mungkin, peristiwa seperti itu, hanya ada di drama-drama televisi saja.

Nyatanya, Dya mantap sekali mengucap kalimat itu hanya dengan satu kali tarikan napas. Sekelilingnya berteriak, SAH! Semua menyambut dengan penuh syukur. Aku pun harus begitu. Setelah Ijab-kabul terucap Dya menengok senyum ke arahku. Aku balas dengan senyum kecil lagi. Ijab-kabul itu ternyata benar-benar bukan menghalalkanku dengan Dya. Namun, aku harus bahagia kalau sahabatku bahagia.

Setelah sesi foto-foto pengantin selesai, aku memberanikan diri naik ke pelaminan, mengucapkan doa dan selamat pada sepasang yang tengah berbahagia. Aku salami pengantin perempuan, lalu pengantin laki-laki yang tak lain adalah sahabat karibku tanpa bersentuhan. Kami sama-sama tahu adab bergaul dengan orang yang bukan mahrom. 

"Makasih, ya Ul! sudah datang, "sambut Dya basa-basi.

Aku hanya balas senyum.

"Kok sendiri?" lanjut Dya tertawa seenaknya.

"Emang, harus sama siapa?" Aku ikut tertawa. Tepatnya, menertawakan diri sendiri yang jomblo.

Aku tak sempat makan prasmanan. Sebenarnya, tidak tertarik sama sekali. Aku langsung cabut pake motor matikku, Si Fino. Teringat sudah waktunya Zuhur dan belum salat. Aku mampir ke masjid Salman.

Aku membuka kaus kaki dan khimar segiempatku yang panjang. Aku berwudu. Masyaallah, nikmatnya cuaca yang panas tersiram air. Sungguh sejuk sampai ke hati. Aku berdiri dua rakaat salat sunah, lalu empat rakaat salat wajib. Setelah salam, tetiba air mata ini tak terbendung. Sekalian aku adukan rasa ini pada pemiliknya. Kurang lebih satu jam aku mengalirkan rasa. Alhamdulillah, hatiku makin sejuk. Plong rasanya. Walau bekas tangisan ini menjadikan mataku sembab. Aku tak peduli.

Waktunya aku pulang, tapi sebentar, "mana sandalku?"

Aku cari ke sana kemari. Barangkali aku lupa meletakkan sandal itu. Nihil. Tak ada di mana-mana.

"Nyari apa, Neng?" tanya seorang satpam.

"Sandal saya tidak ada, Pak. Sandal warna coklat."

"Astaghfirullah, ada lagi yang ambil." gerutu Pak Satpam.

"Oh, begitu ya, Pak."

Kusapu halaman masjid dengan mataku. Kulihat hanya sepasang sandal jepit lusuh dan kotor berwarna merah yang ada. Mau tidak mau aku harus memakainya. Kuambil lalu kupakai. Eh, tapi ternyata sandalnya putus. Aku ingat bawa peniti di kantongku. Aku coba pasang di bawah sandalnya. 

Aku mencoba jalan seperti biasa. Belum sampai ke parkiran, tapi sandal sudah putus lagi. Aku coba benarkan penitinya kembali. Hidupku kini memang bak sandal yang putus ini.

"Afwan, pakai saja punyaku." Orang asing menyodorkan sandalnya.

Aku pandangi dia dengan sinis.

"Memang sama-sama sandal jepit, tapi punyaku tidak putus," tambahnya.

"Baik, aku pinjam ya sandal cantikmu," ucapku datar. Dalam hatiku merasa sangat aneh. Laki kok pake sandal pink? 

Lelaki berbadan tinggi tegap itu pun tersenyum tipis. Mengeluarkan kertas notes, lalu menuliskan sesuatu.

"Kalau sudah selesai pinjamnya kembalikan ke alamat ini, ya!" pintanya sambil menyodorkan kertas itu.

"O.K.E. Oke, Tuan!" tegasku agak ketus. Aku kira dia benar-benar baik, dasar pelit, pikirku.

"Panggil saja Faaz," tawarnya.

"Baik, Pak Faaz," kataku.

"Emang aku keliatan tua, ya?" gerutunya.

"Apa dong gak enak kalau langsung manggil nama, Gimana kalau Om, Adek, Mas ... " kata-kataku dipotongnya.

"Nah … nah, itu saja, Mas. Lebih enak kedengerannya." ujarnya.

"Iya, iya ... Baik, Mas Faaz. Terima kasih. Sandalnya aku pinjam ya."

Sandalnya agak kebesaran pada kakiku, tapi lebih baik dari pada sandal putus itu. Aku pun menuju Si Fino dan tancap gas menuju rumah.

Beberapa minggu ini aku benar-benar sibuk. Kuliah, kegiatan kampus, dan mengajar les. Aku pulang selepas Isya. Kupandangi sandal jepit kebesaran yang bertengger di rak sepatu di teras rumah. Lucu juga mengingat kisah sandal putus itu. Kupikir lagi, Mas Faaz ganteng juga. Astaghfirullah! Aku tundukkan kembali pandangan dan hatiku. Aku tak mau kecewa lagi.

Telanjur janji, aku akan mengantarkan sandal jepit itu besok. Kurogoh dompetku, kertas dengan tulisan bertinta biru itu masih terlipat rapi. Tulisannya bagus juga nih. 

Aku parkiran Si Fino di sebuah halaman rumah bercat hijau. Di sekeliling rumah itu ditanami pohon-pohon rindang. Teduh. Di halaman tersebut anak perempuan tengah menyapu halaman. Sepertinya orang yang tidak asing bagiku.

"Assalamu'alaikum!"

Gadis itu menengok ke arahku, membalas salam, "Wa'alaikum salam warahmatullah.. "

"Aul!"

"Syifa!"

Aku pun mencium pipi kanan dan kirinya. Syifa adalah teman kampusku hanya berbeda kelas. Kami hanya sekadar kenal saja.

"Ini benar rumah Mas Faaz?"

"Iiiyaaa, kok tau Mas Faaz?!" Syifa mengernyitkan dahinya.

Aku menyodorkan sekantong kantong kertas berisi sandal jepit Mas Faaz.

"Tapi, Mas Faaz lagi gak di rumah. Dia ke kampus, ngajar."

"Nitip ini aja, bilangin makasih ke Mas Faaz. Aku langsung pulang saja, mau ngeles ke Antapani," pamitku.

"Ini kan sandalku," keluh Syifa yang samar-damar terdengar olehku. Aku tak peduli.

***

Sebulan kemudian, selepas pulang Ujian akhir Semester (UAS) di kampus. Kulihat ada sedan terparkir di halaman rumahku. Aku penasaran siapa tamu yang datang hari itu.

"Assalamu'alaikum... "

Bapak, ibu, dan empat orang asing duduk bersama di ruang tamu. Empat orang itu memandangku bersamaan. Mas Faaz, Syifa, dan dua orang lagi sepertinya adalah orang tua mereka. Ada apa ini?

Aku benar-benar tidak paham apa yang sedang terjadi.

Ibu merangkulku, "Kamu sudah siap menikah?"

Aku makin tak mengerti.

***

TAMAT

Cerpen ini merupakan salah satu cerpen hasil nulis bareng nulisyuk!

BIONARASI

Penulis bisa dikunjungi di instagram dengan nama @imifadhil, seorang ibu bahagia dari tiga putri. Menulis adalah salah satu cara mengalirkan rasa agar tetap waras dalam menghadapi nano-nano kehidupan.

Jumat, 19 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 12: Kepulangan

 

Fenomena Gerhana Matahari total sangat jarang terjadi. Terakhir, terjadi 21 tahun sebelumnya. Antara takjub akan kuasa Allah dan takut apakah Allah masih memberikan kita kesempatan untuk hidup. Ya, kalau Allah berkehendak dunia bisa hancur saat itu juga. 


Pada hari itu disunahkan untuk salat, zikir, dan sedekah. Aku sudah berniat salat ke masjid. Namun, kabar duka hadir di tengah kami. Suami Wak Iyam yang sudah lama terkena stroke, meninggalkan kami untuk selamanya.


Kami pun bertolak ke Sumedang dengan kendaraan roda empat agar kami semua bisa ikut. Jalanan sungguh berbeda sari biasanya. Matahari yang harusnya menyinari bumi, terhalang oleh rembulan dengan sempurna menjadikan langit lebih gelap dari seharusnya.


Jalanan lenggang membuat perjalanan kami lancar tanpa hambatan. Hanya menempuh waktu dua jam saja. Kami masih sempat menyalatkan beliau. Sementara para pria ikut sampai menguburkan.


Wak Iyam begitu terlihat tegar. Ikhlas denahn segala ketentuan Sang Pemilik hidup. Namun, kami bermaksud membawa pulang Emak ke Bandung. Dengan dalih, Wak Iyam harus banyak istirahat. 


Kali ini Emak pun ikut apa saran kami. Kondisi Emak tidak se sehat dulu, tapi wajahnya begitu segar dan makin bersinar-bersinar. Aku sempat beberapa menginap di rumah Ibu. Kata Ibu, Emak hari itu mau mandi. Ibu pun memandikan Emak.


Di tengah kondisinya yang sudah uzur, tapi masih peduli dan memerhatikan aku--cucunya.

"Cu, sudah makan?"

"Iya, Mak."

"Nyi.." panggil Emak ke Ibu. "Suruh si teteh makan. Dari tadi belum terlihat makan."

"Sudah besar, Mak. Bisa ambil sendiri kalau sudah lapar."

"Kasian, takut lapar. Lagi nyusuin pula"


Dasar Emak. Cerewetnya masih sama saja. Emak juga ingin menggendong buyutnya--anakku yang masih bayi.


"Sini, simpan bayinya di pangkuan Emak."

Emak tampak senang tak terkira. Sayang, memori itu hanya direkam oleh netra dan otakku saja. Aku pun pulang seperti biasa. 


Hari Ahad, aku seharusnya berangkat untuk lomba menulis di daerah Pamengpeuk. Namun, suami tak mengizinkan. 


Hari itu, hati ini tak enak, tidak karuan. Entah kenapa. Padahal siang itu ramai pesan di grup kalau tulisanku terpilih jadi juara 3. Namun, telepon pamanku ke nomor ponsel suami membuatku tidak fokus. Apalagi saat ekspresi wajahmya berubah. Emak sesak lagi, dan Ibu dan anak-anak Emak hendak membawanya ke rumah sakit.


Tak lama, telepon berdering kembali. Raut wajah suamiku lebih kaget dari telepon pertama.


"Innalillahi wainna ilaihi roji'un"


Mendengar kabar pahit itu. Maunya aku berteriak. Meratap. Namun, Emak pastilah sedih bila aku seperti itu. 


"Mi, ini hadiah dan pialanya. Selamat ya!" ucap kakak iparku yang mewakiliku mengambil piala.


Aku mengambilnya dengan air mata bercucuran sembari sesenggukan. 


Kata Ibu, sengaja tak memberitahuku saat hendak membawa Emak ke rumah sakit. Itu mau Emak agar aku tak khawatir. Baju terakhir yang Emak kenakan adalah kain pemberian terakhir dariku yang dijahit Bapak. 


Begitu berat merangkai kata, menggali kembali duka masa itu. Tangan ini sampai kaku untuk menulis bagian ini. Hapus. Tulis. Hapus lagi. Bagaimana menuliskannya. Aku harus mulai dari mana. Aku bingung. Sungguh, bagian tersulit bagiku untuk mengenang kembali episode kehilangan ini. 

*selesai


#PanahKompilasi14

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah



Kamis, 18 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 11: Kepindahan

 


Hari itu, hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Dokter yang menjelaskan langsung. Emak menderita penyakit yang lumayan berat. Dadanya sering sesak karena ada gangguan di paru-paru. Dadany juga sering terasa bergetar karena jantungnya bermasalah. Mungkin faktor usia juga memengaruhi.

Tentunya Emak sangat sedih. Pun kami sebagain anak dan cucu Emak. Namun, kami berusaha berhusnuzan. Berprasangka baik pada Allah Swt. Agar Emak pun tidak berkecil hati dan berputus asa pada hidupnya.

Operasi tidak bisa dilakukan, seperti dulu saat tulang pergelangan tangan Emak patah. Emak terlalu sepuh dan tekanan darahnya tinggi sehingga rawan sekali ditindak operasi. Emak berikhtiar ke dokter dan rumah sakit lain. Hasil pemeriksaan dan keterangan dokter berbeda. Aku tidak paham, yang jelas kali ini bisa membuat Emak lebih bersemangat hidup.

Emak pun berencana untuk titirah 'tinggal sementara di tempat lain'. Biasanya ke tempat yang lebih sepi, jauh dari keramaian kota. Jauh di pedesaan yang sejuk. Emak memilih tinggal bersama anak perempuan sulungnya di Sumedang.

Keluarga di Bandung sepakat untuk kesehatan Emak yang lebih baik. Sesekali kami berkunjung ke sana melihat kondisi Emak. Apalagi saat Idulfitri. Keluarga besar kami berkumpul di sana.

Berbeda dari biasanya, hari itu Emak meminta berfoto bersama. Biasanya susah sekali mengabadikan momen berharga seperti itu. Kami pun bergantian berfoto bersama Emak.

Wajah Emak sangat bersih, putih, dan memancarkan sinar. Tampak terekam. Jelas dalam hasil jepretan kamera salah satu ponsel kami.

"Mak, pulang ke Bandung yuk!" ajak kami.
Sayang sekali Emak menolak. Katanya, enak di kampung. Tiis ceuli herang panon.

Di sana pun Emak sempat beberapa kali ke dokter dengan keluhan yang sama. Tadinya, kami khawatir pada Wak Iyam, yang mengurus Emak di sana. Selain mengurus Emak, suaminya juga sakit stroke tidak bisa apa-apa. Namun, kami pun tidak memaksa kehendak Emak. Syukurnya, ada anak dan cucu Wak Iyam yang membantu mengurus dua orang pasien itu.

Mungkin Emak masih betah, nanti kalau sudah bosan, pasti nanti minta dijemput. Apalagi Emak meninggalkan Uwak, anaknya yang lumpuh tak bisa apa-apa, yang tinggal bersama kami, di rumah ibu.

*bersambung ke bagian 12 insya Allah
#PanahKompilasi13
#komunitasliterasi
#komunitasliterasipemudipersis
#penamuslimah
#panahkompilasi
#pemudiroadtomuktamar
#kolektifkolaboratif
#pemudicerdasberakhlakulkarimah


Rabu, 17 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 10: Rumah Sakit

 


Aku masih di kampus. Ada kegiatan himpunan yang rutin aku ikuti di pusat kegiatan kampus (PKM). Padahal matahari sudah terbenam di sebelah Barat. Langit menggelap, lampu gedung-gedung dihidupkan menambah indah Kota Bandung. Keramaian lampu-lampu tak mengurangi pikiranku yang kalut. Permasalahan pribadi, tugas kampus, dan himpunan berkeliaran di otakku.

Ponselku bergetar, memang seringkali mode hening aku hidupkan saat kuliah. Hanya getaran beberapa kali, tanda short massage service (SMS) masuk ponsel merah Nokia-ku

Aku eja isi pesan itu, untuk memastikan pesan tak enak itu benar-benar mendarat di ponselku.
"Emak masuk rumah sakit, pulang!"
Pesan dari Ibu mengguncangku. Tadi pagi saat berangkat kuliah Emak tidak  apa-apa.

"Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Hasan Sadikin."

Kebetulan letak rumah sakit itu dekat dengan kampusku. Aku hanya tinggal satu kali naik angkot.

"Aku langsung ke rumah sakit. Ruang mana nomor berapa?"

Setelah nama ruangan kupegang, aku langsung meluncur ke tempat Emak. Kabarnya, Emak sempat dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat karena teras sesak di dadanya. Emak perlu perawatan serius harus dirawat inap. Beruntung, tak lama Emak langsung dapat kamar.

Aku memang terbiasa bolak-balik ke rumah sakit untuk menunggui pasien. Belum lama ini Ibu dirawat karena operasi pemasangan gips di kakinya. Jadi, aku tak butuh waktu lama untuk menemukan ruangan Emak.

"Bapak pulang saja, biar aku di sini nungguin Emak."
Bapak mengiakan, lalu pulang untuk istirahat.

Emak terlihat senang karena aku menemaninya di ruangan. Dulu penjagaan keamanan belum ketat. Di ruangan itu ada beberapa ranjang kosong. Aku tidur di ranjang pasien yang kosong di pinggir ranjang Emak.
Besok pemeriksaan laboratorium untuk Emak, agar ketahuan penyakit apa yang Emak derita. Esok pagi pun aku harus pulang dulu untuk mandi dan ganti baju karena ada jadwal kuliah.

*bersambung ke bagian 11 insyaallah

#PanahKompasi12
panahkompilasi10
#komunitasliterasi
#komunitasliterasipemudipersis
#penamuslimah
#panahkompilasi
#pemudiroadtomuktamar
#kolektifkolaboratif
#pemudicerdasberakhlakulkarimah

Selasa, 16 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 9: Tentang Makanan


Emak yang berasal dari daerah, senang sekali mengolah makanan tradisional. Walau sudah lama tinggal di Bandung, Emak masih melestarikan budaya tersebut. Aku suka membantu Emak, mencicipinya meski masih mentah.


Dulu beragam makanan yang sering Emak olah. Di antaranya, makanan asin seperti rengginang, kicimpring, dan ulen atau makanan manis seperti sasagon atau dodol kacang merah. Emak juga suka membuat, nasi tutug oncom, oyek (makanan olahan dari singkong yang direndam), urap singkong, urap talas bogor.


Seharusnya, budaya mengolah makanan tradisional dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, kekinian orang-orang semakin dimanjakan dengan hal yang serba instan. Tinggal beli, tak perlu repot mengolah. 


Namun, ada yang Ibu lestarikan sampai sekarang, yaitu membuat ulen. Makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan. Beras ketan putih atau hitam. Beras ketan hitam agak susah dicari, jadi seringnya menggunakan beras ketan putih.


Saat takbir tak henti digaungkan, ketupat, opor ayam, tumis kentang dan cabai tak lengkap tanpa ulen menemani. Setiap saudara, tetangga dekat dan jauh berkumpul hanya mencari satu makanan itu: Ulen. 


Selain makanan tradisional, Emak pun senang mengolah makanan lain untuk camilan. Telur gabus asin dan manis, sumpia asin dan manis, kue seroja asin. Emak senang sekali mencetak makanan itu dengan yang ukuran besar-besar. Katanya, agar cepat selesai, saat dimakan pun cepat kenyang.


Walaupun suka mengolah makanan tradisional, Emak pun ternyata suka camilan modern. Pastinya, aku yang mengenalkannya. Kalau aku punya uang lebih, aku belikan Emak coklat silverqueen atau es krim. Kalau Emak sedang marah, kecewa, atau perasaan tak enak lainnya padaku Emak akan berubah baik lagi. Aku kangen Emak. 


*bersambung ke bagian 10 insyaallah


#panahkompilasi11

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah


Minggu, 14 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 8: Ikhtiar Sehat

 


Emak mengerang kesakitan. Tangannya bengkak. Beruntunglah, rumah Wak Dede pun berhasil ditemukan. Emak istirahat di rumah itu. Tukang pijat datang untuk mengobati Emak. Katanya, Emak baik-baik saja.


Aku, Ibu, dan Bapak, serta adik-adik pun pulang. Sementara Emak menginap beberapa hari di rumah Wak Dede. Aku pamit masih dengan penuh rasa bersalah. Emak berusaha menghiburku, "Pulang saja, Emak tak apa-apa." Ekspresinya menahan nyeri. Aku tahu Emak pasti sangat kesakitan. 


Tidak sampai seminggu Emak pun dijemput pulang, untuk diperiksa kembali ke dokter. Hasil rontgent menunjukkan tulang pergelangan tangan Emak patah. Entah, karena terlambat atau Emak terlalu berisiko kalau dioperasi.


Emak pun memilih pengobatan tradisional. Aku yang sering mengantar Emak berobat. Naik dan turun angkot untuk ikhtiar agar Emak sehat kembali. Berbulan-bulan masih tak ada perubahan yang signifikan. Emak pun memutuskan untuk berhenti dan mencari pengobatan alternatif lain. Apa pun kata orang, Emak coba. Asal masih masuk akal dan tidak bertentangan dengan syariat. 


Aku benar-benar tak paham. Berobat ke rumah sakit besar pun, Emak hanya disuruh terapi saja. Di tengah keterbatasan Emak. Emak masih saja ingin melakukan pekerjaan rumah. Katanya, pegel kalau diam saja. Sesekali Emak cuci piring satu atau dua bekas makannya. 


"Emak, gak usah..." larangku.

"Gak papa, cuman satu."


Siapa yang tak tega melihat Emak. Mencuci piring dengan satu tangan kirinya. Saat digosok, piringnya muter. Namun, begitulah orang tua. Tidak mau selalu merepotkan anak dan cucunya.


Akhirnya, Emak pun pasrah tak lagi mengobati tangannya itu. Meski sakit selalu tiba-tiba datang. Emak hanya mengompresnya dengan air hangat setiap dini hari sebelum salat malam. Tidak menyembuhkan, tapi setidaknya mengurangi rasa sakitnya. Sejak kecelakaan itu, jemari Emak memang kaku tak bisa digerakkan, seperti mati rasa. Jangankan mengepal, menggerakkan telunjuk ke ibu jari saja tidak sampai. 


Semoga rasa sakit yang kau rasakan bertahun-tahun menjadi penggugur dosa yang mengantar ke surga. Kami sayang Emak. 


*bersambung ke bagian 9 insya Allah

#panahkompilasi10

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah

Sabtu, 13 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 7: Emak Jatuh


 

Setelah ditinggal Bapak Aji, Emak memilih hidup sendiri. Katanya, tak akan ada yang baiknya seperti Bapak Aji. Seiring berjalannya waktu, unggas-unggas Emak pun habis. Begitu juga kontrakan, habis karena dibagikan pada anak-anak Emak.


Dari dulu, Emak tinggal bersama Ibu. Anak Emak yang kelima yang masih ada. Makanya, Emak sudah seperti ibuku yang kedua. Bahkan, aku lebih mengutamakan Emak daripada ibu dalam beberapa hal. Pikirku, Emak sudah uzur. Aku takut tidak bisa menemani Emak sampai akhir hayatnya. Selagi ada aku ingin berbuat baik pada ibu dari ibuku itu.


Aku selalu ikut kalau Emak dan Ibu mengaji. Entah dulu bagaimana mengatur sekolah dan jadwal mengaji mereka. Setelah Subuh, kami bersiap untuk pergi mencari ilmu akhirat. Waktu itu aku masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah. Setiap harinya ada saja dari masjid satu ke masjid yang lain. Seperti haus akan ilmu agama.


Dari masjid terdekat, Uswatun Hasanah, Al-Islam, Al-Amin, As-Syahadah, Gedong Muslimin, Al-Ittihad, dan Al-Islamiyah. Maaf jika aku salah menyebutkan nama masjid tersebut. Aku pun ingat-ingat lupa. 


Emak pun selalu membawaku ke kondangan. Emak juga minta kuantar kalau pergi ke dokter dekat rumah. Aku selalu menuntun Emak walau terkadang aku merasa kewalahan dengan bobotnya. Bayangkan sekali aku yang berbadan mungil, menuntun orang dewasa. Namun, Emak begitu percaya kepadaku. 


Aku pun teringat saat kami hendak berkunjung ke rumah Wak Dede (anak Emak yang keempat) di daerah Cileunyi. Saat itu kami naik bus Damri. Turun dari bus, Bapak sibuk mencari alamat. Bertanya-tanya pada orang-orang yang kami lewati. Sementara Ibu, repot dengan adik-adikku, mengais dan menuntun mereka. Aku dan Emak ada di barisan paling belakang. Aku menuntun Emak, membuntuti Bapak dan Ibu yang ada di depan.


Kami melewati sebuah gunungan pasir. Bapak menaikinya, aku dan Emak pun mengikutinya di belakang. Gunungan pasir itu licin, Emak pun terpeleset lalu jatuh. Badanku yang mungil tak bisa menahan bobot Emak, malah ikutan jatuh menimpa Emak. Aku terperanjat, langsung bangun, kulihat Emak sudah kesakitan. Tangan kanannya sakit dan tidak bisa digerakkan.


*bersambung ke bagian 8 insya Allah

#panahkompilasi9

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah



Artikel: Produktif dari Rumah

 


Sebagai perempuan yang sudah berumah tangga dan punya anak, seringkali keteteran dengan tugas dan kewajibannya di rumah. Pekerjaan rumah seakan tidak pernah ada habisnya. 


Jangankan untuk  beraktivitas di luar, tidak ada waktu dan susah untuk bergerak. Apalagi perijinan susah sekali didapatkan dari suami. Semakin ciutlah untuk bisa bergerak dan bermanfaat untuk orang lain yang lebih luas lagi. Padahal, 



خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ


Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR Ahmad). 


Kita tengok Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yuk! 



Bergerak bukan hanya berpindah tempat, mulai melakukan sesuatu, berusaha giat pun berarti bergerak. 


Selanjutnya, kita cari arti kata produktif. 



Produktif bukan hanya mampu menghasilkan dalam jumlah besar, bisa mendatangkan atau memberi manfaat saja untuk orang lain itu juga produktif. 


Kalau kita mau, banyak lho profesi yang berhubungan dengan kepenulisan (hanya bermodal peka saja) yang bisa tekuni dari rumah.  Apalagi sebagai muslimah kita takut untuk berikhtilat dengan yang bukan mahrom.


1. Penulis Buku

Kita bisa meluangkan waktu di jeda rutinitas kita sebagai istri dan seorang ibu dengan menulis. Apa yang bisa kita tulis? Banyak, bisa fiksi seperti novel atau buku-buku nonfiksi, seperti parenting atau buku-buku motivasi. 


Sekarang kita dimudahkan oleh merambahnya penerbitan indi. Kita bisa mencetak dan mempromosikan buku kita sendiri dengan mudah. 


2. Content Writer

Kita bisa menulis konten untuk pribadi atau untuk akun orang lain. 


3. Copy Writer

Kalau yang senang menulis iklan, profesi ini cocok banget nih untuk, sahabat muslimah.


4. Editor

Siapa nih, di antara kalian yang jeli melihat kesalahan tulisan. Sepertinya profesi ini cocok buat kalian. 


Keempat profesi tersebut bisa dilakukan paruh waktu ya alias freelance. Silakan dipelajari dan cari informasi lagi sebanyak-banyaknya.


Sebagai catatan, jika muslimah itu bekerja, selain kewajibannya di rumah hanya untuk aktualisasi diri karena mencari nafkah adalah kewajiban suami. Kalau nyatanya, dari profesi sambilan yang kita tekuni menghasilkan manfaat lebih berupa materi atau benefit yang lain, itu merupakan bonus yang patut disyukuri. Ayo bergerak dan produktif dari rumah! 


#panahkompilasi8

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah





Kamis, 11 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 6: Mengenal Bapak Aji

 

Aku tak sempat melihat Bapak Aji, yang aku ingat Emak memang sudah sendiri. Katanya, Bapak Aji tutup usia sekitar tahun 1992, saat itu aku baru berusia dua tahun. Wajar memoriku belum mampu mengingat apa pun. Namun, sosok Bapak Aji selalu ada di hati Emak. Aku bisa mengenalnya lebih dekat dari cerita-cerita Emak.


Bapak Aji memang orang yang sabar dan setia. Terbukti dari penantiannya di awal pernikahan yang rela menunggu kesiapan Emak. Beliau juga sangat sabar menghadapi Emak yang bawel dan cerewet. Maklum kebanyakan istri memang seperti itu. Emak saksinya, Bapak Aji tak pernah marah pada Emak atau anak-anaknya. 


Hanya pernah satu kali saja berbicara dengan nada tinggi. Saat Emak ngeyel, terus mengoceh. 

"Gelo kitu sugan jelema teh," tegas Bapak Aji. 

Seusai itu Emak tak pernah berani menantang Bapak Aji lagi. Kapok. 


Setia dengan satu pasangan walau sempat LDR atau LDM cukup lama dengan Emak. Bapak Aji juga sangat mengutamakan pendidikan. Terbukti semua anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan bersekolah di pesantren. Melihat anak-anaknya pergi sekolah setiap hari cukup bagi Bapak Aji. Tak pernah ia melihat hasil rapor mereka. Mungkin, proseslah yang paling penting dari segalanya menurutnya. 


Anak-anak rajin beribadah tanpa disuruh serta berakhlak baik sudah lebih cukup. Kata ibu, Bapak ataupun Emak tak pernah memeriksa buku atau rapos hasil belajar. Bahkan, ibu dulu sering memanipulasi tanda tangan orang tua di rapornya.


Bapak Aji juga seorang aktivis masjid. Salah satu pendiri masjid di lingkungan tempat tinggalnya. Bapak Aji terkenal dengan pribadinya yang tenang dan sabar. Sering dalam berjuang mereka berselisih pendapat, Bapak Aji tak pernah melawan, hanya mengalah dan mengalah. Begitu kesaksian anak-anak lelaki Bapak Aji yang selalau ikut ke masjid. 


Tenang dan tidak grasak-grusuk juga sudah melekat di mana pun Bapak Aji berada. Di tempat kerja Bapak Aji pun begitu. Ia bekerja menjajakan rongsokan di kaki lima. Suatu hari satpol PP datang untuk merazia para pedagang kaki lima. Pedagang lain kalang kabut, membereskan dagangannya dan langsung kabur. Sementara Bapak Aji masih saja tenang. Membereskan satu per satu barang dagangannya. Petugas menggebrak pun Bapak Aji tetap tenang. 


"Takut itu sama Allah, untuk apa takut pada sesama manusia."


Terbukti Bapak Aji selamat dari petugas dan pulang selamat. 


Ada satu lagi prinsip Bapak yang agak nyeleneh, tapi kalau dipikir-pikir lagi memang begitu seharusnya. 


Bapak tak pernah mengucap, punten 'permisi' pada orang-orang yang duduk di pinggir jalan. Kata Bapak, harusnya mereka yang bilang punten karena sudah menghalangi jalanan. Bapak Aji tampak tidak suka pada orang-orang yang suka nongkrong itu. Memang kebanyakan yang mereka lakukan tak berfaedah. Bermain gitar, gaple, bahkan kadang minun-minum (minuman keras). Astaghfirullah.. 


Kami memang belum sempat bertemu denganmu, Bapak Aji. Semoga kita bisa berkumpul di surga-Nya. Amin. 


#panahkompilasi7

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah




Rabu, 10 Agustus 2022

Cerita Selingan: 2 Jam Terkunci di Atap Rumah

 


Niatnya hari ini aku akan melanjutkan serial cerita emak. Namun, kejadian kemarin tak bisa aku lewatkan begitu saja.

Aku pulang dari rumah mama pagi-pagi saat anak-anak berangkat sekolah. Aku siapkan baju si kecil dan sarapan. Setelah itu aku pun naik ke tangga untuk mengambil pakaian yang sudah lama kering di atas. Sekalian aku mau menjemur pakaian lain yang sudah beres dicuci. Aku pun membawa pakaian basah itu ke atas.

Atas saranku, suami pun bolak-balik tangga untuk menyimpan galon-galon bekas yang ceritanya akan ditanami macam-macam tanaman.

Pakaian di jemuran sudah kering dan sebagian ada yang jatuh oleh angin. Wajar sudah hampir seminggu pakaian-pakaian itu tidak terjamah olehku. Aku kembali menjemur pakaian yang sudah dia keranjang itu. Alhamdulillah selesai.

Saat aku hendak turun membawa pakaian yang kering, aku curiga. Kenapa pintunya tertutup rapat. Aku tak enak hati. Benar saja pintunya terkunci. Aku gedor-gedor. Percuma. Tak ada orang di rumah. Suamiku sudah pergi ke bengkelnya.

Di situ aku berusaha husnuzan. Oh, mungkin suamiku lupa mengunci pintu. Walau pikiran negatif muncul di benakku. Dia sengaja mengunci pintu. Tega sekali.

Aku masih berusaha tenang, dan berkali-kali beristigfar. Ini kali kedua aku terkunci di tempat ini. Pertama, karena anak sulungku yang marah padaku karena tidak mau disuruh ini itu. Dia kesal dan sengaja mengunci pintu. Katanya sih lupa, tidak dibuka lagi dan dengan santainya main ke luar rumah dengan teman-temannya.

Untungnya hari itu aku bawa ponselku. Aku menelepon suamiku, lalu bantuan pun datang. Sementara hari ini aku tak bawa apa-apa. Ponsel tertinggal di bawah.

Sambil menunggu aku melipat-lipat pakaian sekeranjang penuh itu sampai selesai. Belum ada tanda-tanda ada manusia yang datang.

Sebenarnya, aku terhubung dengan tetangga di sebelah yang  asih saudara. Tinggal melangkah saja, sudah bisa masuk ke rumah itu. Namun, percuma jam segitu tak ada orang di sana.

Aku mencoba memejam mata, tidur di lenganku sambil terduduk. Aku dengar suara Uwak yang biasa mengurus sawah di bawah. Aku akan teriak minta tolong, "Wak, tolong bukakan pintu tangga!" tapi saat kulihat tidak jelas. Aku takut saat kupanggil justru orang lain.

Kuurungkan niatku. Kembali ke saung dan merenung. Sebegitu menjengkelkan kah diriku sampai-sampai dikunci berjam-jam di sini. Aku masih bisa menahan air mata.

Biasanya suami bolak-balik rumah, tapi ini tidak ada. Si bungsu pun sepertinya anteng di rumah neneknya. Biasanya seperti setrikaan, ke sana kemari.

"Neng! Neng!" terdengar sahutan di bawah.
Aku tak menjawab. Langsung menuju pintu itu dan menggedor-gedor. Dugdugdug.

Pintu pun terbuka. Di atas sana sudah membayangkan seperti di drama-drama televisi atau di buku-buku fiksi. Apakah aku akan memeluk yang sudah menyelamatkanku dan menangis di bahunya. Ternyata itu hanya fiksi belaka. Berbeda dengan realita yang ada. Yang ada hanya kesal saja.

"Dari tadi di sini?" uacapnya datar.
Aku pun membawa keranjang berisi pakaian yang sudah rapi. Lelaki mungkin makhluk yang benar-benar tidak peka. Sudah tadi bawa keranjang pakaian basah sendiri, dikunci di atas, bawain kek keranjangnya. Di situ pecahlah tangis. Sedih campur kesal, dan kecewa.

Di atas tadi sudah pengen pipis, sakit perut. Untung masih bisa di tahan. Anginnya besar, lagi kurang sehat dan batuk-batuk. Turun tangga langsung menuju kamar mandi. Sekalian siap-siap ada kegiatan pengajian rutin di jamaah. Pastinya sudah terlambat.

"Hampura, aslina teu sadar aya neng di sana. 'Minta maaf, aslinya tidak sadar ada neng' "

Katanya kebiasaan kalau sudah dari atas refleks mengunci pintu.

Aku tidak meresponsnya. Masih marah.

Sorenya, ia bilang lagi, "Aku terus terngiang-ngiang merasa berdosa, beneran gak sengaja mengunci pintu."

***Selesai
#panahkompilasi6
#komunitasliterasi
#komunitasliterasipemudipersis
#penamuslimah
#panahkompilasi
#pemudiroadtomuktamar
#kolektifkolaboratif
#pemudicerdasberakhlakulkarimah

Selasa, 09 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 5: Bu Soang

 



Sebuah dongeng pasti menggambarkan zamannya. Emak pun senang memelihara unggas di rumahnya. Ada berbagai macam unggas, di antaranya ayam, bebek, entok, soang (angsa), dan ada juga tongki. Tongki itu unggas yang sangat unik badannya besar melebihi unggas lain, hasil persilangan antara entok jangan dan bebek betina.

Saking banyak ternaknya, Emak sampai dijuluki, "Bu Soang". Saya ingat saat masih di bangku sekolah dasar (SD). Biasa disuruh Emak beli ketupat sayur. Menurutku itu ketupat sayur terenak yang pernah rasakan seumur hidup. Mungkin berlebihan, tapi memang begitu adanya.

Pedangangnya sebaya dengan Emak, mungkin temannya. Saat berbincang dengan si ibu, ternyata ia mengenali Emak. "Oh, cucunya Bu Soang ya?! " Aku pun mengangguk walau sebenarnya merasa bingung.

Di rumah pun aku langsung konfirmasi kenapa Emak dipanggil Bu Soang. Katanya memang karena uang gasnya banyak salah satunya, angsa. Banyak orang-orang mencari dan ingin membeli unggas-unggas Emak. Bahkan, orang-orang yang tinggal jauh dari rumah Emak. Seperti pedagang ketupat ini, rumahnya jauh harus menyebrang jalanan. Namun, dulu berlangganan beli unggas ke tempat Emak.

Di zaman dulu memang sudah mengenal sistem pembagian tugas. Suami bekerja di luar mencari nafkah. Istri di rumah, tapi masih tetap produktif dengan membuka warung kecil, atau beternak unggas. Istri pun bisa membantu ekonomi keluarga tanpa keluar dari fitrahnya sebagai perempuan.

Apalagi menengok zaman lebih dahulu lagi di desa-desa. Yang kebanyakan mata pencahariannya adalah pertanian. Tidak dimungkiri terjadi sampai hari ini. Setiap pagi, suami pergi ke sawah atau ladang. Istri di rumah mengurus anak dan menyiapkan santapan makan siang.

Istri menapi  'memilah beras yang akan dimasak' dan memisahkan benyer dan gabah. Para unggas sudah menanti bagiannya di depannya. Menyantap makanan dari tuannya.

Setelah makanan siap, sang istri mengantarnya ke sawah untuk suaminya. Sepulang itu istri kembali mengurus ternak-ternaknya. Memasukkan ke kandang setelah ternak-ternaknya mencari makan sendiri. Dahulu si unggas dibiarkan mencari makan sendiri. Masih banyak ladang makanan untuk para unggas yang gratis. Misal, di sawah-sawah yang sudah dipanen atau di kebun orang.

Tidak seperti sekarang, para unggas disimpan di kandang diberi pakan instan dari pabrik. Padahal unggas kampung lebih sehat dan rasanya jauh lebih enak.

Kadang, unggas itu disembelih sebagai santapan keluarga atau ada tetangga yang butuh. Bisa sistem barter atau dibayar dengan uang. Tanpa disadari seorang istri pun sudah membantu perekonomian keluarga dengan caranya yang sederhana. Tidak usah menuntut emansipasi, ingin berkarir di luar dan melupakan tugas utamanya.

Perempuan boleh saja bekerja, tapi atas rida dari suaminya. Hanya sebagai aktualisasi diri, bukan mencari nafkah yang bukan kewajibannya. Wallahu a'laam.

#panahkompilasi5
#komunitasliterasi
#komunitasliterasipemudipersis
#penamuslimah
#panahkompilasi
#pemudiroadtomuktamar
#kolektifkolaboratif
#pemudicerdasberakhlakulkarimah