Minggu, 14 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 8: Ikhtiar Sehat

 


Emak mengerang kesakitan. Tangannya bengkak. Beruntunglah, rumah Wak Dede pun berhasil ditemukan. Emak istirahat di rumah itu. Tukang pijat datang untuk mengobati Emak. Katanya, Emak baik-baik saja.


Aku, Ibu, dan Bapak, serta adik-adik pun pulang. Sementara Emak menginap beberapa hari di rumah Wak Dede. Aku pamit masih dengan penuh rasa bersalah. Emak berusaha menghiburku, "Pulang saja, Emak tak apa-apa." Ekspresinya menahan nyeri. Aku tahu Emak pasti sangat kesakitan. 


Tidak sampai seminggu Emak pun dijemput pulang, untuk diperiksa kembali ke dokter. Hasil rontgent menunjukkan tulang pergelangan tangan Emak patah. Entah, karena terlambat atau Emak terlalu berisiko kalau dioperasi.


Emak pun memilih pengobatan tradisional. Aku yang sering mengantar Emak berobat. Naik dan turun angkot untuk ikhtiar agar Emak sehat kembali. Berbulan-bulan masih tak ada perubahan yang signifikan. Emak pun memutuskan untuk berhenti dan mencari pengobatan alternatif lain. Apa pun kata orang, Emak coba. Asal masih masuk akal dan tidak bertentangan dengan syariat. 


Aku benar-benar tak paham. Berobat ke rumah sakit besar pun, Emak hanya disuruh terapi saja. Di tengah keterbatasan Emak. Emak masih saja ingin melakukan pekerjaan rumah. Katanya, pegel kalau diam saja. Sesekali Emak cuci piring satu atau dua bekas makannya. 


"Emak, gak usah..." larangku.

"Gak papa, cuman satu."


Siapa yang tak tega melihat Emak. Mencuci piring dengan satu tangan kirinya. Saat digosok, piringnya muter. Namun, begitulah orang tua. Tidak mau selalu merepotkan anak dan cucunya.


Akhirnya, Emak pun pasrah tak lagi mengobati tangannya itu. Meski sakit selalu tiba-tiba datang. Emak hanya mengompresnya dengan air hangat setiap dini hari sebelum salat malam. Tidak menyembuhkan, tapi setidaknya mengurangi rasa sakitnya. Sejak kecelakaan itu, jemari Emak memang kaku tak bisa digerakkan, seperti mati rasa. Jangankan mengepal, menggerakkan telunjuk ke ibu jari saja tidak sampai. 


Semoga rasa sakit yang kau rasakan bertahun-tahun menjadi penggugur dosa yang mengantar ke surga. Kami sayang Emak. 


*bersambung ke bagian 9 insya Allah

#panahkompilasi10

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah

Sabtu, 13 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 7: Emak Jatuh


 

Setelah ditinggal Bapak Aji, Emak memilih hidup sendiri. Katanya, tak akan ada yang baiknya seperti Bapak Aji. Seiring berjalannya waktu, unggas-unggas Emak pun habis. Begitu juga kontrakan, habis karena dibagikan pada anak-anak Emak.


Dari dulu, Emak tinggal bersama Ibu. Anak Emak yang kelima yang masih ada. Makanya, Emak sudah seperti ibuku yang kedua. Bahkan, aku lebih mengutamakan Emak daripada ibu dalam beberapa hal. Pikirku, Emak sudah uzur. Aku takut tidak bisa menemani Emak sampai akhir hayatnya. Selagi ada aku ingin berbuat baik pada ibu dari ibuku itu.


Aku selalu ikut kalau Emak dan Ibu mengaji. Entah dulu bagaimana mengatur sekolah dan jadwal mengaji mereka. Setelah Subuh, kami bersiap untuk pergi mencari ilmu akhirat. Waktu itu aku masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah. Setiap harinya ada saja dari masjid satu ke masjid yang lain. Seperti haus akan ilmu agama.


Dari masjid terdekat, Uswatun Hasanah, Al-Islam, Al-Amin, As-Syahadah, Gedong Muslimin, Al-Ittihad, dan Al-Islamiyah. Maaf jika aku salah menyebutkan nama masjid tersebut. Aku pun ingat-ingat lupa. 


Emak pun selalu membawaku ke kondangan. Emak juga minta kuantar kalau pergi ke dokter dekat rumah. Aku selalu menuntun Emak walau terkadang aku merasa kewalahan dengan bobotnya. Bayangkan sekali aku yang berbadan mungil, menuntun orang dewasa. Namun, Emak begitu percaya kepadaku. 


Aku pun teringat saat kami hendak berkunjung ke rumah Wak Dede (anak Emak yang keempat) di daerah Cileunyi. Saat itu kami naik bus Damri. Turun dari bus, Bapak sibuk mencari alamat. Bertanya-tanya pada orang-orang yang kami lewati. Sementara Ibu, repot dengan adik-adikku, mengais dan menuntun mereka. Aku dan Emak ada di barisan paling belakang. Aku menuntun Emak, membuntuti Bapak dan Ibu yang ada di depan.


Kami melewati sebuah gunungan pasir. Bapak menaikinya, aku dan Emak pun mengikutinya di belakang. Gunungan pasir itu licin, Emak pun terpeleset lalu jatuh. Badanku yang mungil tak bisa menahan bobot Emak, malah ikutan jatuh menimpa Emak. Aku terperanjat, langsung bangun, kulihat Emak sudah kesakitan. Tangan kanannya sakit dan tidak bisa digerakkan.


*bersambung ke bagian 8 insya Allah

#panahkompilasi9

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah



Artikel: Produktif dari Rumah

 


Sebagai perempuan yang sudah berumah tangga dan punya anak, seringkali keteteran dengan tugas dan kewajibannya di rumah. Pekerjaan rumah seakan tidak pernah ada habisnya. 


Jangankan untuk  beraktivitas di luar, tidak ada waktu dan susah untuk bergerak. Apalagi perijinan susah sekali didapatkan dari suami. Semakin ciutlah untuk bisa bergerak dan bermanfaat untuk orang lain yang lebih luas lagi. Padahal, 



خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ


Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR Ahmad). 


Kita tengok Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yuk! 



Bergerak bukan hanya berpindah tempat, mulai melakukan sesuatu, berusaha giat pun berarti bergerak. 


Selanjutnya, kita cari arti kata produktif. 



Produktif bukan hanya mampu menghasilkan dalam jumlah besar, bisa mendatangkan atau memberi manfaat saja untuk orang lain itu juga produktif. 


Kalau kita mau, banyak lho profesi yang berhubungan dengan kepenulisan (hanya bermodal peka saja) yang bisa tekuni dari rumah.  Apalagi sebagai muslimah kita takut untuk berikhtilat dengan yang bukan mahrom.


1. Penulis Buku

Kita bisa meluangkan waktu di jeda rutinitas kita sebagai istri dan seorang ibu dengan menulis. Apa yang bisa kita tulis? Banyak, bisa fiksi seperti novel atau buku-buku nonfiksi, seperti parenting atau buku-buku motivasi. 


Sekarang kita dimudahkan oleh merambahnya penerbitan indi. Kita bisa mencetak dan mempromosikan buku kita sendiri dengan mudah. 


2. Content Writer

Kita bisa menulis konten untuk pribadi atau untuk akun orang lain. 


3. Copy Writer

Kalau yang senang menulis iklan, profesi ini cocok banget nih untuk, sahabat muslimah.


4. Editor

Siapa nih, di antara kalian yang jeli melihat kesalahan tulisan. Sepertinya profesi ini cocok buat kalian. 


Keempat profesi tersebut bisa dilakukan paruh waktu ya alias freelance. Silakan dipelajari dan cari informasi lagi sebanyak-banyaknya.


Sebagai catatan, jika muslimah itu bekerja, selain kewajibannya di rumah hanya untuk aktualisasi diri karena mencari nafkah adalah kewajiban suami. Kalau nyatanya, dari profesi sambilan yang kita tekuni menghasilkan manfaat lebih berupa materi atau benefit yang lain, itu merupakan bonus yang patut disyukuri. Ayo bergerak dan produktif dari rumah! 


#panahkompilasi8

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah





Kamis, 11 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 6: Mengenal Bapak Aji

 

Aku tak sempat melihat Bapak Aji, yang aku ingat Emak memang sudah sendiri. Katanya, Bapak Aji tutup usia sekitar tahun 1992, saat itu aku baru berusia dua tahun. Wajar memoriku belum mampu mengingat apa pun. Namun, sosok Bapak Aji selalu ada di hati Emak. Aku bisa mengenalnya lebih dekat dari cerita-cerita Emak.


Bapak Aji memang orang yang sabar dan setia. Terbukti dari penantiannya di awal pernikahan yang rela menunggu kesiapan Emak. Beliau juga sangat sabar menghadapi Emak yang bawel dan cerewet. Maklum kebanyakan istri memang seperti itu. Emak saksinya, Bapak Aji tak pernah marah pada Emak atau anak-anaknya. 


Hanya pernah satu kali saja berbicara dengan nada tinggi. Saat Emak ngeyel, terus mengoceh. 

"Gelo kitu sugan jelema teh," tegas Bapak Aji. 

Seusai itu Emak tak pernah berani menantang Bapak Aji lagi. Kapok. 


Setia dengan satu pasangan walau sempat LDR atau LDM cukup lama dengan Emak. Bapak Aji juga sangat mengutamakan pendidikan. Terbukti semua anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan bersekolah di pesantren. Melihat anak-anaknya pergi sekolah setiap hari cukup bagi Bapak Aji. Tak pernah ia melihat hasil rapor mereka. Mungkin, proseslah yang paling penting dari segalanya menurutnya. 


Anak-anak rajin beribadah tanpa disuruh serta berakhlak baik sudah lebih cukup. Kata ibu, Bapak ataupun Emak tak pernah memeriksa buku atau rapos hasil belajar. Bahkan, ibu dulu sering memanipulasi tanda tangan orang tua di rapornya.


Bapak Aji juga seorang aktivis masjid. Salah satu pendiri masjid di lingkungan tempat tinggalnya. Bapak Aji terkenal dengan pribadinya yang tenang dan sabar. Sering dalam berjuang mereka berselisih pendapat, Bapak Aji tak pernah melawan, hanya mengalah dan mengalah. Begitu kesaksian anak-anak lelaki Bapak Aji yang selalau ikut ke masjid. 


Tenang dan tidak grasak-grusuk juga sudah melekat di mana pun Bapak Aji berada. Di tempat kerja Bapak Aji pun begitu. Ia bekerja menjajakan rongsokan di kaki lima. Suatu hari satpol PP datang untuk merazia para pedagang kaki lima. Pedagang lain kalang kabut, membereskan dagangannya dan langsung kabur. Sementara Bapak Aji masih saja tenang. Membereskan satu per satu barang dagangannya. Petugas menggebrak pun Bapak Aji tetap tenang. 


"Takut itu sama Allah, untuk apa takut pada sesama manusia."


Terbukti Bapak Aji selamat dari petugas dan pulang selamat. 


Ada satu lagi prinsip Bapak yang agak nyeleneh, tapi kalau dipikir-pikir lagi memang begitu seharusnya. 


Bapak tak pernah mengucap, punten 'permisi' pada orang-orang yang duduk di pinggir jalan. Kata Bapak, harusnya mereka yang bilang punten karena sudah menghalangi jalanan. Bapak Aji tampak tidak suka pada orang-orang yang suka nongkrong itu. Memang kebanyakan yang mereka lakukan tak berfaedah. Bermain gitar, gaple, bahkan kadang minun-minum (minuman keras). Astaghfirullah.. 


Kami memang belum sempat bertemu denganmu, Bapak Aji. Semoga kita bisa berkumpul di surga-Nya. Amin. 


#panahkompilasi7

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah




Rabu, 10 Agustus 2022

Cerita Selingan: 2 Jam Terkunci di Atap Rumah

 


Niatnya hari ini aku akan melanjutkan serial cerita emak. Namun, kejadian kemarin tak bisa aku lewatkan begitu saja.

Aku pulang dari rumah mama pagi-pagi saat anak-anak berangkat sekolah. Aku siapkan baju si kecil dan sarapan. Setelah itu aku pun naik ke tangga untuk mengambil pakaian yang sudah lama kering di atas. Sekalian aku mau menjemur pakaian lain yang sudah beres dicuci. Aku pun membawa pakaian basah itu ke atas.

Atas saranku, suami pun bolak-balik tangga untuk menyimpan galon-galon bekas yang ceritanya akan ditanami macam-macam tanaman.

Pakaian di jemuran sudah kering dan sebagian ada yang jatuh oleh angin. Wajar sudah hampir seminggu pakaian-pakaian itu tidak terjamah olehku. Aku kembali menjemur pakaian yang sudah dia keranjang itu. Alhamdulillah selesai.

Saat aku hendak turun membawa pakaian yang kering, aku curiga. Kenapa pintunya tertutup rapat. Aku tak enak hati. Benar saja pintunya terkunci. Aku gedor-gedor. Percuma. Tak ada orang di rumah. Suamiku sudah pergi ke bengkelnya.

Di situ aku berusaha husnuzan. Oh, mungkin suamiku lupa mengunci pintu. Walau pikiran negatif muncul di benakku. Dia sengaja mengunci pintu. Tega sekali.

Aku masih berusaha tenang, dan berkali-kali beristigfar. Ini kali kedua aku terkunci di tempat ini. Pertama, karena anak sulungku yang marah padaku karena tidak mau disuruh ini itu. Dia kesal dan sengaja mengunci pintu. Katanya sih lupa, tidak dibuka lagi dan dengan santainya main ke luar rumah dengan teman-temannya.

Untungnya hari itu aku bawa ponselku. Aku menelepon suamiku, lalu bantuan pun datang. Sementara hari ini aku tak bawa apa-apa. Ponsel tertinggal di bawah.

Sambil menunggu aku melipat-lipat pakaian sekeranjang penuh itu sampai selesai. Belum ada tanda-tanda ada manusia yang datang.

Sebenarnya, aku terhubung dengan tetangga di sebelah yang  asih saudara. Tinggal melangkah saja, sudah bisa masuk ke rumah itu. Namun, percuma jam segitu tak ada orang di sana.

Aku mencoba memejam mata, tidur di lenganku sambil terduduk. Aku dengar suara Uwak yang biasa mengurus sawah di bawah. Aku akan teriak minta tolong, "Wak, tolong bukakan pintu tangga!" tapi saat kulihat tidak jelas. Aku takut saat kupanggil justru orang lain.

Kuurungkan niatku. Kembali ke saung dan merenung. Sebegitu menjengkelkan kah diriku sampai-sampai dikunci berjam-jam di sini. Aku masih bisa menahan air mata.

Biasanya suami bolak-balik rumah, tapi ini tidak ada. Si bungsu pun sepertinya anteng di rumah neneknya. Biasanya seperti setrikaan, ke sana kemari.

"Neng! Neng!" terdengar sahutan di bawah.
Aku tak menjawab. Langsung menuju pintu itu dan menggedor-gedor. Dugdugdug.

Pintu pun terbuka. Di atas sana sudah membayangkan seperti di drama-drama televisi atau di buku-buku fiksi. Apakah aku akan memeluk yang sudah menyelamatkanku dan menangis di bahunya. Ternyata itu hanya fiksi belaka. Berbeda dengan realita yang ada. Yang ada hanya kesal saja.

"Dari tadi di sini?" uacapnya datar.
Aku pun membawa keranjang berisi pakaian yang sudah rapi. Lelaki mungkin makhluk yang benar-benar tidak peka. Sudah tadi bawa keranjang pakaian basah sendiri, dikunci di atas, bawain kek keranjangnya. Di situ pecahlah tangis. Sedih campur kesal, dan kecewa.

Di atas tadi sudah pengen pipis, sakit perut. Untung masih bisa di tahan. Anginnya besar, lagi kurang sehat dan batuk-batuk. Turun tangga langsung menuju kamar mandi. Sekalian siap-siap ada kegiatan pengajian rutin di jamaah. Pastinya sudah terlambat.

"Hampura, aslina teu sadar aya neng di sana. 'Minta maaf, aslinya tidak sadar ada neng' "

Katanya kebiasaan kalau sudah dari atas refleks mengunci pintu.

Aku tidak meresponsnya. Masih marah.

Sorenya, ia bilang lagi, "Aku terus terngiang-ngiang merasa berdosa, beneran gak sengaja mengunci pintu."

***Selesai
#panahkompilasi6
#komunitasliterasi
#komunitasliterasipemudipersis
#penamuslimah
#panahkompilasi
#pemudiroadtomuktamar
#kolektifkolaboratif
#pemudicerdasberakhlakulkarimah

Selasa, 09 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 5: Bu Soang

 



Sebuah dongeng pasti menggambarkan zamannya. Emak pun senang memelihara unggas di rumahnya. Ada berbagai macam unggas, di antaranya ayam, bebek, entok, soang (angsa), dan ada juga tongki. Tongki itu unggas yang sangat unik badannya besar melebihi unggas lain, hasil persilangan antara entok jangan dan bebek betina.

Saking banyak ternaknya, Emak sampai dijuluki, "Bu Soang". Saya ingat saat masih di bangku sekolah dasar (SD). Biasa disuruh Emak beli ketupat sayur. Menurutku itu ketupat sayur terenak yang pernah rasakan seumur hidup. Mungkin berlebihan, tapi memang begitu adanya.

Pedangangnya sebaya dengan Emak, mungkin temannya. Saat berbincang dengan si ibu, ternyata ia mengenali Emak. "Oh, cucunya Bu Soang ya?! " Aku pun mengangguk walau sebenarnya merasa bingung.

Di rumah pun aku langsung konfirmasi kenapa Emak dipanggil Bu Soang. Katanya memang karena uang gasnya banyak salah satunya, angsa. Banyak orang-orang mencari dan ingin membeli unggas-unggas Emak. Bahkan, orang-orang yang tinggal jauh dari rumah Emak. Seperti pedagang ketupat ini, rumahnya jauh harus menyebrang jalanan. Namun, dulu berlangganan beli unggas ke tempat Emak.

Di zaman dulu memang sudah mengenal sistem pembagian tugas. Suami bekerja di luar mencari nafkah. Istri di rumah, tapi masih tetap produktif dengan membuka warung kecil, atau beternak unggas. Istri pun bisa membantu ekonomi keluarga tanpa keluar dari fitrahnya sebagai perempuan.

Apalagi menengok zaman lebih dahulu lagi di desa-desa. Yang kebanyakan mata pencahariannya adalah pertanian. Tidak dimungkiri terjadi sampai hari ini. Setiap pagi, suami pergi ke sawah atau ladang. Istri di rumah mengurus anak dan menyiapkan santapan makan siang.

Istri menapi  'memilah beras yang akan dimasak' dan memisahkan benyer dan gabah. Para unggas sudah menanti bagiannya di depannya. Menyantap makanan dari tuannya.

Setelah makanan siap, sang istri mengantarnya ke sawah untuk suaminya. Sepulang itu istri kembali mengurus ternak-ternaknya. Memasukkan ke kandang setelah ternak-ternaknya mencari makan sendiri. Dahulu si unggas dibiarkan mencari makan sendiri. Masih banyak ladang makanan untuk para unggas yang gratis. Misal, di sawah-sawah yang sudah dipanen atau di kebun orang.

Tidak seperti sekarang, para unggas disimpan di kandang diberi pakan instan dari pabrik. Padahal unggas kampung lebih sehat dan rasanya jauh lebih enak.

Kadang, unggas itu disembelih sebagai santapan keluarga atau ada tetangga yang butuh. Bisa sistem barter atau dibayar dengan uang. Tanpa disadari seorang istri pun sudah membantu perekonomian keluarga dengan caranya yang sederhana. Tidak usah menuntut emansipasi, ingin berkarir di luar dan melupakan tugas utamanya.

Perempuan boleh saja bekerja, tapi atas rida dari suaminya. Hanya sebagai aktualisasi diri, bukan mencari nafkah yang bukan kewajibannya. Wallahu a'laam.

#panahkompilasi5
#komunitasliterasi
#komunitasliterasipemudipersis
#penamuslimah
#panahkompilasi
#pemudiroadtomuktamar
#kolektifkolaboratif
#pemudicerdasberakhlakulkarimah

Cerita Emak Bagian 4: Lalamunan

 


Sebagian besar kandungan Al-Qur'an adalah berisi tentang kisah. Kisah para nabi atau kisah-kisah orang-orang terdahulu yang sarat akan hikmah. Hal itu menunjukkan bahwa metode kisah sangat menarik bagi manusia.


Emak senang sekali berkisah  tentang hidupnya atau sekadar mendongeng cerita-cerita rakyat yang hidup pada zamannya, yang tersebar dari mulut ke mulut ke berbagai daerah dan turun temurun dari generasi ke generasi sampai sekarang. Menjadi pelajaran dan pandangan hidup masyarakat yang menyimpannya. 


Suatu hari, Emak bercerita seperti biasa. Aku selalu antusias kalau Emak sudah memulai dongengnya. Sebenarnya, Emak berkisah dengan bahasa Sunda, tapi aku coba ceritakan kembali dengan bahasa Indonesia agar lebih dimengerti oleh yang lain. Bisa jadi orang-orang sudah tahu dongeng ini. Sama persis atau berbeda versi. Baiklah, kita mulai saja.


Seorang perempuan setengah baya tengah selonjoran di tengah rumah. Ia mengenakan kebaya dengan kain samping, memakai kerudung yang diselndangkan di kepalanya. Ia baru saja mengambil telur-telur ayam hasil dari kandangnya sendiri. Kurang lebih telur itu ada 20 biji.


Ia simpan dalam sebuah wadah (boboko) dan meletakkannya di atas kain sampingnya. Ia pun mulai melamun, berkhayal suatu hari nanti telur-telur itu menetas menjadi anak ayam. Kemudian menjadi ayam dewasa dan bertelur lagi dan lagi sampai menghasilkan telur yang sangat banyak. 


Telur yang banyak itu, ia bawa ke pasar lalu ia belikan dua ekor domba. Beruntunglah perempuan itu, domba itu tak lama beranak pinak menjadi domba-domba yang gemuk, subur dan banyak.


Ia kembali menjual hasil ternaknya ke pasar. Ia tukar dengan dua ekor sapi. Begitupun sapi itu, tak lama menghasilkan anak-anak sapi yang sehat. Tumbuh dan berkembang dengan baik lagi banyak.


Sapi-sapi itu pun dijual dan hasilnya dibelikan sebuah mobil. Ia sangat sebang karena bisa jalan-jalan dengan kendaraan bermotor beroda empat itu.


Saat tengah mengendalikan setirnya, tiba-tiba orang-orang bergerumul di depannya. Ia pun panik dan spontan menginjak rem dengan kuat.


Ia pun terperanjat lalu tersadar kembali ke realita yang ada. Dua puluh telur itu, sudah pecah berserakan, sebagian mengenai kain sampingnya. Penuh memenuhi ruang tengah itu. Tak ada yang bisa ia perbuat, selain bengong dan menyesali perbuatannya.


Berkhayal dan bermimpi itu boleh bahkan harus setinggi-tingginya. Namun, apa artinya mimpi tanpa realisasi. Hanya akan ada sesal di ujungnya.


*bersambung ke bagian 5 insya Allah


#panahkompilasi4

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah