Minggu, 18 Juni 2023

[Cerpen] Perkara Sandal Jepit oleh Imi Fadhil


Gambar: canva apk.

Suasana di aula benar-benar khidmat. Sebentar lagi Dya akan melafalkan satu kalimat sakral, "Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar tersebut, tunai! "

“Stop! Aku yang seharusnya berada di samping Dya.” 

Semua mata tertuju padaku, termasuk Dya dan calon mempelai wanita itu. Sayangnya, itu hanya lamunanku saja. Mungkin, peristiwa seperti itu, hanya ada di drama-drama televisi saja.

Nyatanya, Dya mantap sekali mengucap kalimat itu hanya dengan satu kali tarikan napas. Sekelilingnya berteriak, SAH! Semua menyambut dengan penuh syukur. Aku pun harus begitu. Setelah Ijab-kabul terucap Dya menengok senyum ke arahku. Aku balas dengan senyum kecil lagi. Ijab-kabul itu ternyata benar-benar bukan menghalalkanku dengan Dya. Namun, aku harus bahagia kalau sahabatku bahagia.

Setelah sesi foto-foto pengantin selesai, aku memberanikan diri naik ke pelaminan, mengucapkan doa dan selamat pada sepasang yang tengah berbahagia. Aku salami pengantin perempuan, lalu pengantin laki-laki yang tak lain adalah sahabat karibku tanpa bersentuhan. Kami sama-sama tahu adab bergaul dengan orang yang bukan mahrom. 

"Makasih, ya Ul! sudah datang, "sambut Dya basa-basi.

Aku hanya balas senyum.

"Kok sendiri?" lanjut Dya tertawa seenaknya.

"Emang, harus sama siapa?" Aku ikut tertawa. Tepatnya, menertawakan diri sendiri yang jomblo.

Aku tak sempat makan prasmanan. Sebenarnya, tidak tertarik sama sekali. Aku langsung cabut pake motor matikku, Si Fino. Teringat sudah waktunya Zuhur dan belum salat. Aku mampir ke masjid Salman.

Aku membuka kaus kaki dan khimar segiempatku yang panjang. Aku berwudu. Masyaallah, nikmatnya cuaca yang panas tersiram air. Sungguh sejuk sampai ke hati. Aku berdiri dua rakaat salat sunah, lalu empat rakaat salat wajib. Setelah salam, tetiba air mata ini tak terbendung. Sekalian aku adukan rasa ini pada pemiliknya. Kurang lebih satu jam aku mengalirkan rasa. Alhamdulillah, hatiku makin sejuk. Plong rasanya. Walau bekas tangisan ini menjadikan mataku sembab. Aku tak peduli.

Waktunya aku pulang, tapi sebentar, "mana sandalku?"

Aku cari ke sana kemari. Barangkali aku lupa meletakkan sandal itu. Nihil. Tak ada di mana-mana.

"Nyari apa, Neng?" tanya seorang satpam.

"Sandal saya tidak ada, Pak. Sandal warna coklat."

"Astaghfirullah, ada lagi yang ambil." gerutu Pak Satpam.

"Oh, begitu ya, Pak."

Kusapu halaman masjid dengan mataku. Kulihat hanya sepasang sandal jepit lusuh dan kotor berwarna merah yang ada. Mau tidak mau aku harus memakainya. Kuambil lalu kupakai. Eh, tapi ternyata sandalnya putus. Aku ingat bawa peniti di kantongku. Aku coba pasang di bawah sandalnya. 

Aku mencoba jalan seperti biasa. Belum sampai ke parkiran, tapi sandal sudah putus lagi. Aku coba benarkan penitinya kembali. Hidupku kini memang bak sandal yang putus ini.

"Afwan, pakai saja punyaku." Orang asing menyodorkan sandalnya.

Aku pandangi dia dengan sinis.

"Memang sama-sama sandal jepit, tapi punyaku tidak putus," tambahnya.

"Baik, aku pinjam ya sandal cantikmu," ucapku datar. Dalam hatiku merasa sangat aneh. Laki kok pake sandal pink? 

Lelaki berbadan tinggi tegap itu pun tersenyum tipis. Mengeluarkan kertas notes, lalu menuliskan sesuatu.

"Kalau sudah selesai pinjamnya kembalikan ke alamat ini, ya!" pintanya sambil menyodorkan kertas itu.

"O.K.E. Oke, Tuan!" tegasku agak ketus. Aku kira dia benar-benar baik, dasar pelit, pikirku.

"Panggil saja Faaz," tawarnya.

"Baik, Pak Faaz," kataku.

"Emang aku keliatan tua, ya?" gerutunya.

"Apa dong gak enak kalau langsung manggil nama, Gimana kalau Om, Adek, Mas ... " kata-kataku dipotongnya.

"Nah … nah, itu saja, Mas. Lebih enak kedengerannya." ujarnya.

"Iya, iya ... Baik, Mas Faaz. Terima kasih. Sandalnya aku pinjam ya."

Sandalnya agak kebesaran pada kakiku, tapi lebih baik dari pada sandal putus itu. Aku pun menuju Si Fino dan tancap gas menuju rumah.

Beberapa minggu ini aku benar-benar sibuk. Kuliah, kegiatan kampus, dan mengajar les. Aku pulang selepas Isya. Kupandangi sandal jepit kebesaran yang bertengger di rak sepatu di teras rumah. Lucu juga mengingat kisah sandal putus itu. Kupikir lagi, Mas Faaz ganteng juga. Astaghfirullah! Aku tundukkan kembali pandangan dan hatiku. Aku tak mau kecewa lagi.

Telanjur janji, aku akan mengantarkan sandal jepit itu besok. Kurogoh dompetku, kertas dengan tulisan bertinta biru itu masih terlipat rapi. Tulisannya bagus juga nih. 

Aku parkiran Si Fino di sebuah halaman rumah bercat hijau. Di sekeliling rumah itu ditanami pohon-pohon rindang. Teduh. Di halaman tersebut anak perempuan tengah menyapu halaman. Sepertinya orang yang tidak asing bagiku.

"Assalamu'alaikum!"

Gadis itu menengok ke arahku, membalas salam, "Wa'alaikum salam warahmatullah.. "

"Aul!"

"Syifa!"

Aku pun mencium pipi kanan dan kirinya. Syifa adalah teman kampusku hanya berbeda kelas. Kami hanya sekadar kenal saja.

"Ini benar rumah Mas Faaz?"

"Iiiyaaa, kok tau Mas Faaz?!" Syifa mengernyitkan dahinya.

Aku menyodorkan sekantong kantong kertas berisi sandal jepit Mas Faaz.

"Tapi, Mas Faaz lagi gak di rumah. Dia ke kampus, ngajar."

"Nitip ini aja, bilangin makasih ke Mas Faaz. Aku langsung pulang saja, mau ngeles ke Antapani," pamitku.

"Ini kan sandalku," keluh Syifa yang samar-damar terdengar olehku. Aku tak peduli.

***

Sebulan kemudian, selepas pulang Ujian akhir Semester (UAS) di kampus. Kulihat ada sedan terparkir di halaman rumahku. Aku penasaran siapa tamu yang datang hari itu.

"Assalamu'alaikum... "

Bapak, ibu, dan empat orang asing duduk bersama di ruang tamu. Empat orang itu memandangku bersamaan. Mas Faaz, Syifa, dan dua orang lagi sepertinya adalah orang tua mereka. Ada apa ini?

Aku benar-benar tidak paham apa yang sedang terjadi.

Ibu merangkulku, "Kamu sudah siap menikah?"

Aku makin tak mengerti.

***

TAMAT

Cerpen ini merupakan salah satu cerpen hasil nulis bareng nulisyuk!

BIONARASI

Penulis bisa dikunjungi di instagram dengan nama @imifadhil, seorang ibu bahagia dari tiga putri. Menulis adalah salah satu cara mengalirkan rasa agar tetap waras dalam menghadapi nano-nano kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar