Jumat, 05 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 1: Si Cengek


Aku tinggal bersama nenekku yang kami panggil Emak. Orang yang ramah, periang, selalu tersenyum, dan senang bercerita. Kalau sudah bercerita bisa berjam-jam tak henti-henti. Aku sangat menikmati cerita-ceritanya.

Emak lahir di sekitar tahun 1930. Hidup di zaman Belanda akhir sampai masuk Bangsa Nipon menjajah negeri. Dulu Emak kecil sering dibawa ke sebuah gua agar terhindar dari tembakan atau bom-bom yang diledakkan penjajah barat itu. Ayah Emak bukan orang sembarangan, beliau adalah salah satu tokoh masyarakat. Beliau biasa dipanggil Pak Ulu (mungkin dari kata penghulu). Maka, hidup Emak tidak  terlalu sengsara saat penjajahan. Keluarga mereka tidak memakai baju dari kain goni seperti yang lain yang harus gatal-gatal sekujur badan. Walaupun tidak banyak pakaian, tapi cukup layak dan lebih manusiawi. 

Tak berselang lama, Negeri Sakura datang membawa petakanya sendiri. Emak beruntung masih bisa sekolah di Sekolah Rakyat (SR). Emak bersemangat bercerita memakai bahasa Jepang saat mengisahkan penghormatan pada matahari setiap pagi di sekolah. Anak kecil belum mengerti apa-apa. Ikut saja yang diperintahkan.

Emak bukan anak sekolahan yang pintar, tapi disenangi guru-guru. Emak berbadan pendek dan bulat berisi. Bawaannya lincah dan periang. Entah memang kepribadiannya yang unik atau karena anak dari orang yang berpengaruh di desa tersebut. Setiap perayaan kenaikan kelas, Pak Ulu selalu membahagiakan anak-anak sekolah dan guru-guru dengan membawa banyak makanan: tumpeng, buah-buahan, dan hasil tani yang lain.

Suatu hari Emak kecil berangkat sekolah seperti biasa. Dibekali makanan oleh ibunya (baca: Enek). Emak biasa berangkat sekolah bersama-sama teman yang lain. Munculah ide konyol Emak. Beberapa anak pun manut saja. Mereka tidak sampai ke sekolah, malah bermain-main di sungai dan menyantap bekalnya masing-masing di sana.

Hari berikutnya, guru pun marah. Mencari-cari tahu siapa biang kerok dari masalah itu, yang berani mengajak bolos teman-teman sekelas. Semua terdiam termasuk Emak. Anak yang lain pun tak berani menunjuk Emak. Emak pun lolos dari hukuman. Ada-ada saja.

Emak punya teman sekelas yang sangat pintar, tapi terkenal pelit. Bukan pelit masalah uang, melainkan pelit memberi jawaban ke teman yang lain. Namun, Emak bisa saja mencontek pelajaran darinya. Mereka memanggil anak itu dengan sebutan "Si Cengek". Cengek itu bahasa Sunda artinya cabai rawit, kecil, tapi pedas. Alkisah, datanglah seorang pengawas sekolah mengetes murid-murid. Si Bapak itu mengajukan soal matematika yang cukup sulit. Tak ada satu pun yang bisa menjawab, kecuali murid yang perwakannya kecil dengan percaya diri unjuk tangan.

"Saya, bisa!" 

"Silakan ke depan!"

Ternyata benar saja jawabanya benar.

Pujian pun diberikan pada anak itu, kecil-kecil cabe rawit. 

Emak hanya sekolah SR saja, sementara Si Cengek tumbuh dan berkembang pesat melanjutkan sekolah sampai sekolah tinggi. Konon, ia pun menjadi seorang guru. 

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah

1 komentar: