Minggu, 26 April 2020

Belajar Shaum

Mempunyai anak saleh dan salehah merupakan cita-cita semua orang tua, termasuk saya tentunya. Alhamdulillah, kami tinggal di lingkungan yang islami. Jadi, sangat mendukung perkembangan dan kecerdasan spiritual anak-anak.

Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang baik dalam mendidik anak dalam beribadah. Salah satunya adalah belajar shaum. Secara tidak langsung juga mengajarkan anak untuk bangun lebih awal, belajar merasakan lapar sehingga akan peka terhadap sesamanya yang kekurangan, belajar pula menahan nafsu, dll.

Menginjak tiga hari shaum, alhamdulillah anak saya yang pertama--Fatiya yang baru berumur 8 tahun masih konsisten dengan ibadah shaumnya. Hanya berat di hari pertama. Wajar saja, orang dewasa pun merasakan hal yang sama di hari pertama shaum. Ditambah si sulung hari itu sedang tidak enak badan. Malam sebelumnya asmanya kambuh. Beberapa keluhan dilontarkan: capeklah, lapar, haus, dll. Namun, alhamdulillah bisa dilalui dengan baik. Semoga bisa konsisten sampai akhir ramadhan.

Selalu berdoa untuk anak-anak kita, robbii hablii minassholihiin. Semoga mereka menjadi wasilah kita menuju surgaNya. Aamiin.. Yarobal 'alamiin.

Sabtu, 25 April 2020

Akhirnya bisa beli buku dari uang tabungan


Akhirnya bisa beli buku dari uang tabungan.
Liburan di tengah pandemi sungguh tidak menyenangkan. Sebenarnya bukan liburan, tapi belajar di rumah. Apapun namanya, yang jelas anak-anak sepanjang hari berada di rumah. Bosan? Tentu saja.

Apa yang harus dilakukan? Main di luar tidak boleh. Mengerjakan tugas di rumah sangat menjenuhkan. Apalagi sering ada bentrok dengan orang tua yang tugasnya bertambah, yaitu menjadi guru di rumah selama phisical distancing dan #di rumah aja. Bahkan, orang tua yang pekerjaannya guru pun biasanya kewalahan menghadapi sangat anak.

Di tengah kebosanan tersebut, Fatiya mengeluh. Kalau saja ada buku untuk dibaca. Saya sarankan membaca ulang pun tak mau. Katanya sudah diulang beberapa kali.

Sampai suatu hari, emaknya lihat diskon novel anak di toko buku online. Kebetulan bisa COD alias bayar di tempat. Si anak pun berinisiatif untuk membongkar celengannya. Isi celengan itu

Jumat, 24 April 2020

Dalam Nama Terselip Doa


Picture by Tim BSB
Designed by Canva

Apalah arti sebuah nama? Begitu kata peribahasa. Bagaimana menurut kalian? Namun, menurut saya nama itu penting. Apalagi dalam Islam. Nama adalah doa. Doa dari orang tua untuk anaknya tercinta. Tentunya doa-doa terbaik. Maka memberikan nama untuk buah hati harus sungguh-sungguh. Jangan asal-asalan.

Setiap keluarga punya ciri khas dalam memberikan nama-nama untuk anak-anak mereka. Misalnya, setiap anak diberikan nama belakang yang sama. Biasanya diambil dari nama ayahnya. Nama anak-anak bisa juga diberikan huruf awalan yang sama atau bahkan setiap katanya dengan awalan huruf yang sama atau ciri khas lainnya yang unik.

Kebetulan keluarga kecil saya memberikan nama-nama anak dengan awalan huruf "F" Kenapa "F"? karena masing-masing nama kami (saya dan suami) terselip huruf "F". Fadillah dan Fajar. Nama panggilan kami juga dari huruf F. Fillah dan Fajar. Maka anak-anak kami pun diawali oleh huruf F dan diakhiri dengan nama belakang suami: Shiddieq.

Anak pertama: Fatiya Sharliz Raihana Shiddieq (Fatiya)
Anak kedua: Faiqa Najma Aqilla Shiddieq (Aqilla)

Berikutnya anak ketiga, kadung harus awalan huruf F lagi dan buntutnya nama belakang bapaknya. Tak biasanya, belum menyiapkan nama. Padahal bayi sudah lahir. Sudah banyak yang nanya siapa namanya. Menebak-nebak nama dari huruf F, dll. Hehe.. Nanti dulu, emaknya belum mood. Lagian masih ada waktu sampai hari ketujuh.

Lahir di suasana pandemi, tidak lantas ikut-ikutan memberi nama berhubungan dengan makhluk kecil yang tak terlihat itu. Emak pun buka paririmbon dan diskusi dengan si sulung. Tercetuslah nama ini:

Fadya Rasyidatul Jaziya Shiddieq (Jaziya) 

Fadya: Yang menyelamatkan
Rasyidatul: Cerdas, yang mendapat petunjuk
Jaziya: Pemberian
Shiddieq: Yang membenarkan

Arti lengkapnya, silakan gabungkan sendiri. Hehe.. Kurang lebih begini,
Pemberian (dari Allah) yang menyelamatkan, cerdas, dan yang membenarkan.

Nama tersebut merupakan doa kami, semoga anak pemberian Allah ini akan menyelamatkan kedua orang tua dan orang-orang sekitarnya dengan kecerdasan dan petunjuk dari Allah, serta selalu terdepan dalam membenarkan yang haq. Sehingga kita semua bisa berkumpul di surgaNya. Aamiin.. Ya robbal 'alamiin.

Kamis, 02 April 2020

Buku Pertama Fatiya


Picture by canva

Sebelumnya sudah saya bahas buku apa pertama yang saya belikan untuk Fatiya. Ya, Buku bergambar Princess Lathifa dan Sepeda Roda Tiga karya Yulia Nurul Irawan. Kebetulan penulisnya adalah sahabat saya saat kuliah di UPI. Cerita yang sederhana, tapi sangat ngena buat anak-anak. Sifat khas yang kebanyakan ada pada anak-anak, yaitu cengeng. Sedikit-sedikit menangis, jatuh menangis, ingin sesuatu menangis, dll. Maka dalam buku ini menunjukkan bahwa cengeng itu tidak baik. Satu lagi pelajaran hidup, bahwa kita harus menjadi pribadi yang mudah memaafkan orang lain.

Fatiya sangat senang sekali dengan buku ini. Ke mana-mana dia bawa. Sampai kalimat-kalimat dalam buku ia salin di buku hariannya. Saat itu memang ia belum lancar membaca. Namun, ini sangat membantu sampai lancar membaca. Alhamdulillah.

Awalnya, dibacakan selanjutnya ia baca sendiri. Saya ingat sekali pertama saya belikan novel anak. Ia bawa-bawa ke mana pun, bahkan saat main ke luar sm rumah. Sampai  habiskan satu novel. Ada salah seorang keluarga yang penasaran bertanya, "Disuruh mamah ya baca buku? "
Fatiya pun bingung menjawab, "Enggak! "
Memang saya tidak pernah memaksa untuk membaca buku. Saya hanya memberi contoh sering membaca buku dan memberi fasilitas anak-anak untuk membaca buku.

Kalau ke pasar minggu, yang dibeli buku. Fatiya sampai menyisihkan uang jajan untuk menabung dan hasilnya untuk beli buku. Selain memang punya jatah buku kalau sedang ada uang lebih. Kalau emaknya beli buku, anak-anak juga harus punya jatah juga buku masing-masing.
Sampai hari ini tidak terhitung banyak buku anak-anak.

Mungkin karena saya pun berpikir buku itu penting dari keperluan lainnya, seperti pakaian atau barang lain. Kalau untuk beli buku tidak perlu berpikir banyak seperti kalau mau beli kebutuhan kain. Maka Fatiya pun begitu. Kalau ada buku bagus, merengek minta dibelikan, tak apa kalau harus menggunakan uang saku atau tabungannya.

Beberapa kali ikut ke pameran buku di Landmark Braga, yang lain asyik nonton pertunjukan, Fatiya malah asyik baca buku yang dibelinya. Waktunya pulang buku-bukunya sudah habis dibaca. Alhasil, minta dibeliin buku lain lagi. Kadang kewalahan juga. Seperti saat ini sedang pandemi yang mengharuskan kita diam di rumah. Fatiya merengek minta buku baru. Semoga selalu ada rezekinya ya buat beli buku lagi. Pun semoga istiqomah gemar membaca buku dan bisa memetik hasil dari manfaatnya membaca buku.

Sabtu, 28 Maret 2020

Shiddieq Family's Birth Plan



  • Nama: Ilmi Fadillah
  • Umur: 30 tahun
  • Golongan Darah: A+
  • Pendidikan: S1
  • Pekerjaan: Guru
  • Nama Suami: M. Fajar Shiddieq
  • Umur: 31 tahun
  • Pekerjaan: Wiraswasta
  • Alamat: Kp. Cikeueueus RT 07 RW 06 Desa Rahayu Kecamatan Margaasih Kab. Bandung
  • G.P.A:
  • Hpht: 16 Juli 2019
  • HPL: 23 April 2020/14 April 2020 (USG) 
  • Penolong Persalinan: Bidandari Bumi Sehat Bahagia
  • Makanan Favorit: Semua suka yang penting halal dan toyyib
  • Alergi obat-obatan: -
  • Alergi makanan: -
  • Riwayat kesehatan diri: -
  • Riwayat kesehatan suami: -
  • Riwayat Kehamilan: Saya pernah dua kali hamil dan melahirkan. Kedua persalinan yang saya alami cukup penuh drama. Pertama 39 menuju 40 minggu dan kedua tepat di 41 minggu. Meski harapan bisa lahiran di bidan dekat rumah, ternyata qodarullah persalinan pertama dan kedua di Rumah Bersalin Permata Hati, ditangani oleh dokter Adiwarti Suhardi. Keduanya tidak spontan karena pembukaan tidak bertambah-tambah. Akhirnya dokter memutuskan untuk menginduksi untuk menambah pembukaan sampai bukaan lengkap. Alhamdulillah anak pertama dan kedua dilahirkan normal dan selamat dengan banyak jahitan. Anak pertama lahir 21 September 2011, Bb 3,65 kg dan Tb 51 cm dengan lebih dari 12 jahitan. Anak kedua lahir 04 Juli 2015 dengan Bb 2,85 kg Tb 48 cm dengan 10 jahitan saja.

  • ‌Suasana: Terang
  • ‌Aroma Terapi: Jasmine
  • ‌Pendamping Persalinan: Suami
  • ‌Pijat: Endorpine-oksitosin
  • ‌Terapi: kompres vagina
  • ‌Suara speaker: murottal Muhammad Toha Al Junayd
  • Terapi lain: Birthing Ball, Rebozo, dan lain-lain yang bisa membuat persalinan lancar dan nyaman

Kala 2
  • ‌diinformasikan saat kepala bayi krowning
    ‌Melakukan IMD
  • ‌Posisi sesuai kesepakatan yang nyaman bagi ibu bersalin


Kala 3
  • ‌IMD selama 1 jam setelah bayi lahir atau disesuaikan
  • ‌Plasenta tidak langsung dipotong
  • ‌Pemotongan tali pusar oleh bidan disaksikan suami
  • ‌Penyuntikan Oxitosin jika diperlukan saat pelepasan placenta


Kala 4
  • ‌Diberikan vitamin K
  • ‌Diberikan salep mata
  • ‌Diberikan vaksin HbO
Demikian rencana persalinan ini dibuat atas dasar pemahaman dan telah dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya, semoga persalinan ini sesuai dengan harapan kami.
Calon Ibu,

Ilmi Fadillah
Calon Ayah,

M. Fajar Shiddieq


Catatan: sumber format birthplan @bumisehatbahagia

Kamis, 26 Maret 2020

Anakku Jadi Kecanduan Buku

By Canva

Setiap anak memang unik, termasuk anak pertama saya. Kekurangan mereka justru bisa jadi kelebihan yang mengagumkan. Jika kita asah dengan benar.

Fatiya memang penakut, khususnya jika mendengarkan cerita. Ternyata, saya tahu belakangan bahwa ia punya imajinasi yang tinggi, menjangkau masa depan yang lebih jauh dari yang lain. Hal tersebut berdasarkan tes sidik jari yang dilakukan saat usianya 7 tahun. Kami pun paham kenapa dia seakan takut saat tengah mendengar cerita. Fatiya jauh membayangkan cerita tersebut lebih dari anak lain.

Mungkin ini terlambat, tapi peribahahasa mengingatkan, "Better late than never". Saya belikan buku untuk Fatiya. Buku pertamanya, berjudul Princes Lathifa dan Sepeda Roda Tiga. Buku anak yang ditulis oleh teman saya saat kuliah. Saya langsung order dari penulisnya biar dapat bonus tanda tangan dan kata penyemangat. Sebenarnya bukunya buku balita, berbentuk boardbook. Namun, menurut saya masih cocok untuk anak SD. Dan saya pilih boardbook agar awet, tidak mudah sobek. Benar saja, sekarang diwariskan ke adiknya, Aqilla.

Dari buku pertama, berlanjut ke buku-buku berikutnya. Mulai dari buku yang dipajang di pasar-pasar minggu sampai toko buku, dan pameran buku. Setiap ada uang lebih saya sisihkan untuk membeli buku, beberapa untuk saya sendiri dan beberapa lagi untuk anak-anak. Masing-masing punya jatah.

Fatiya pun mulai kecanduan buku. Kalau tidak dijatah, dia bisa ambil buku saya untuk dibaca. Sempat kecolongan, dia baca novel Aroma Karsa.

Rabu, 25 Maret 2020

Gegara Covid 19

Gambar dari Canva

Gejala-gejala yang dialami oleh orang yang terpapar virus Corona di antaranya, batuk, sakit tenggorokan, demam, dan sesak. Seputar sistem pernapasan. Menurut ahli virologi menambahkan, virus tersebut bisa juga menyerang sistem pencernaan. Di antaranya bisa menimbulkan diare pada penderitanya.

Di tengah situasi seperti ini, tentu saja membuat orang-orang waswas. Pun saya. Saat suatu malam merasakan sakit tenggorokan. Saya takut, parno. Jangan-jangan corona. Naudzubillah.. Tsumma naudzubillah. Besoknya langsung minum air hangat campur lemon dan sari kurma. Alhamdulillah langsung sembuh.

Hal yang sama kalau terjadi pada anggota keluarga yang lain. Saat suami batuk-batuk. Saya langsung tanya, "Aa batuk? Sudah lama?"

Suami agak risih menjawab, "Apa sih takut aa Corona ya?! "

Anak-anak yang susah diberi tahu jaga asupan makanan, eh sudah sekali disuruh makan nasi. Bahkan, kecolongan jajan es krim, permen, atau jajanan lainnya yang menyebabkan batuk atau pilek. Kan parno juga. Saya cekokin setiap hari ekstrafood, sari kurma, dan lemon (dari neneknya).

Demikian juga pada keluarga saya yang lain, yang tidak serumah. Susah mengontrol mereka. Mamah Bapak yang masih saja keluar rumah, dengan alasan ada keperluan penting. Adik-adik yang juga bandel masih keluar rumah. Malah di tengah pandemi nonton sepak bola ke stadion. Katanya terakhir sebelum PSSI melarang pertandingan.

Belum lagi kakak yang tinggal di beda provinsi. Syukurnya, kakak lebih waspada. Ditambah daerah Jawa Timur masih bersih. Satu lagi yang bikin sedih. Adik yang tengah kerja di Malaysia. Sudah seminggu sakit dan gejalanya dicurigai terpapar.

Adik yang lahir berdekatan langsung denganku memang agak hati-hati, tapi juga agak berlebihan. Maklum jauh dari orang tua. Biasanya segala hal diurus mamah. Sekarang jauh. Saat di grup mamah mengirim file paspor dan nomor kontak bosnya di sana, katanya bisa dihubungi kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tetiba air mata turun deras tak bisa dibendung.

Tak ada perkembangan kondisi kesehatannya, adik pun memutuskan ke rumah sakit untuk periksa. Niatnya ya berobat biasa, rawat jalan. Eh malah diintrogasi. Tentu saja gugup. Apalagi saat pergi ke rumah sakit hanya sendirian. Bos dan teman-temannya enggan mengantar karena rasa takut pula.

Introgasi pun selesai, dan adik harus dicek Covid. Kata mereka, adik terus termasuk yang harus dicek, ya mungkin karena gejala yang muncul. Kami sekeluarga menyemangati dan mendoakan, termasuk saya. Semua meyakinkan agar berpikir positif dan akan sembuh. Harapan kami cuman satu: hasil tes negatif.

Saya pun sambil waswas, tapi alhamdulillah Wa syukrulillah. Hasilnya memang negatif. Lebih cepat dibanding yang dijanjikan. Katanya kalau positif, hasil keluar 24 jam. Jika negatif 3-4 jam baru keluar. Faktanya, hasil keluar hanya sehari dan NEGATIF.

Kami tahu Engkau melindungi kami. Ya Allah, selalu lindungi kami dari penyakit berbahaya. Segera musnahkan makhluk bernama Covid 19 itu. Datangkanlah kebaikan-kebaikan ya Allah, bersama bulan suci Ramadhan. Aamiin.. Allahumma aamiin..