Hari keenam sampai ketujuh aku habiskan dengan bermunajat pada Allah. "Allahu akbar!"
Kukumandangkan takbir di setiap dua pertiga malam. Sebelas rakaat dijalankan dengan tumaninah. Haru biru. Kututup dengan salam. Assalamu'alaikum warahmatullah. Kutengok ke kanan dengan senyum lebar. Betapa tentramnya hati ini. Assalamu'alaikum warahmatullah. Air mataku berlinang mengingat dosa-dosaku. Terutama dosaku pada ibu. Aku teringat sebuah hadits riwayat Imam at-Tirmidzi.
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
Usai salat malam, aku menuju kamar ibu. Aku bersimpuh di hadapannya. Air mata bercucuran semakin deras dan membanjiri mukena ibu.
"Kenapa, Nak?" tanya ibu heran.
"Maafkan aku, Bu! Aku anak yang durhaka."
Hiks! Hiks! Hiks!
"Sudahlah! Ibu senantiasa memaafkanmu, Nak. Bahkan, sebelum kamu meminta maaf. Maafkan ibu juga, tidak bisa sepenuhnya mendukung cita-citamu. Hanya doa terbaik untukmu."
Pagi tampak lebih cerah dari biasa. Langit ikut senang menyaksikan peristiwa hamba Allah yang saling memaafkan.
***
Setahun kemudian.
"Ayo, sekarang giliranmu mengecek." Ahmad menunjuk hidungku.
Aku maju perlahan. Duduk di hadapan layar 14 inch di ruangan kelas. Kulantunkan basmalah dengan penuh keyakinan. Kutekan satu-satu angka di keyboard komputer sesuai dengan nomor peserta yang tertera di kartu. Tak lama munculah di layarnya:
"Selamat, Anda diterima di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia."
***
TAMAT
Rabu, 20 Mei 2020
Senin, 18 Mei 2020
Sesal di Penghujung luka
Dua sampai tiga hari, pikiranku menelusuri kejadian-kejadian beberapa bulan yang lalu. Tepatnya rangkaian ingatan saat tes SNMPTN itu berlangsung, ditambah sebelum dan sesudah tes tersebut.
"Mau pinjamnya berapa?" tanya pegawai BMT.
"Dua ratus ribu rupiah, Teh."
Aku yang tengah duduk di depan meja admin menjawab malu-malu. Lalu aku menjelaskan untuk apa dan ke mana rupiah itu akan aku teruskan. Ahmad--temanku yang merekomendasikan untuk meminjam ke BMT yang berada di halaman sekolah itu. Aku sempat beberapa kali menabung di sana, tapi tak banyak. Tak cukup pula meski sekadar untuk membayar formulir SNMPTN.
Setelah memegang uang pendaftaran, aku pun bersama teman lainnya menuju Universitas Padjajaran, kampus Dipatiukur. Antrean berderet cukup panjang. Beberapa menit mendekati satu jam lamanya, tibalah aku di barisan paling depan. Aku lekas menyerahkan uang yang telah disiapkan dalam saku rok abu-abu. Mbak-mbak cantik itu pun memberikan 1 map kertas dan buku panduan sebesar buku kampus. Hanya lebih tebal. Di dalamnya terdapat formulir isian dan petunjuk serta daftar pilihan perguruan tinggi negeri (PTN) di seluruh Indonesia lengkap dengan jurusannya.
Kala itu hidup penuh dengan ujian. Bukan hanya ujian masuk PTN, tapi juga ujian hidup yang sesungguhnya. Ibu dan bapak mengalami kecelakaan motor yang menyebabkan keduanya tak bisa berjalan. Itu pula yang menyebabkan aku susah dan tak fokus melakukan apa pun.
Tempat tes pun dipilih panitia ujian. Aku kebagian di SMPN 14 di jalan Supratman. Sebelum hari itu tiba, aku harus pastikan tahu di mana ruang dan tempat duduk yang akan kutempati esok harinya.
Biasanya bapak selalu siap sedia mengantarkanku ke mana pun. Namun, tak mungkin untuk kali ini. Aku pun memilih menaiki kendaraan umum. Naik bus Damri jurusan Leuwi Panjang-Cicaheum.
Aku sudah hafal betul lokasi tes karena setiap hari aku lewati kalau pergi atau pulang sekolah. Aku pun turun persis di persimpangan menuju jalan Supratman. Selanjutnya bisa naik angkot sekali lagi untuk tepat sampai di lokasi tujuan.
"Kiri, Mang! Kiri!" ujarku setengah berteriak.
Mang supir pun menggerakkan angkotnya ke pinggir jalan lalu memberhentikannya. Aku rogoh saku celana dan memberikan recehan pada supir angkot.
Aku bergegas memasuki gerbang langsung tertuju pada papan pengumuman yang bertengger di halaman sekolah di balik pohon rindang. Kutelusuri kertas-kertas yang menempel pada papan triplek berlapis putih itu. Ada daftar nama peserta. Ada pula denah lokasi. Setelah menemukan apa yang kucari, aku lekas mencari di mana ruangan itu berada.
"Kamu tes di ruangan mana?" tanyaku seorang gadis manis berkucir kuda yang berdiri di sebelahku memandangi papan besar itu.
"Ruangan 11," balaski menyungging senyum.
"Kebetulan aku juga sama, bareng yuk!" ajaknya.
"Ha ... Hayu!" Aku menerima usulannya agak terbata-bata.
Aku hanya merasa aneh. Aku belum kenal orang itu, begitu pun sebaliknya. Namun, dengan mudahnya dia mengajak orang lain. Tepatnya orang asing. Entahlah, seperti digiring untuk mengikutinya. Aku pun membuntuti gadis itu. Tak salah keputusanku untuk mengekornya. Kami langsung menemukan ruangan yang dicari.
"Nah, ini tempat dudukku." Dia tampak senang menemukannya.
Aku pun tak lama mendapati meja dan kursi panasku. Barisan kedua di ujung sebelah kanan. Ternyata kami duduk bersebelahan. Kebetulan sekali.
"Oh, iya! Perkenalkan saya Sofi." Dia mengulurkan tangannya.
Kuraih tangan hangat itu, "Aku Ilmi! Salam kenal juga."
Tanpa diminta, ia bercerita panjang lebar. Ternyata Sofi adalah alumni SMPN 14. Sofi juga kenal Tama--teman sekolahku yang juga alumni sekolah ini. Bahkan, ia bergosip tentang Tama. Katanya, Tama banyak digandrungi para siswi. Ya, pantas saja Tama memang anak yang tampan, pintar, jago bermain basket, dan pandai bersosialisasi. Termasuk Sofi juga mengagumi sosok Tama juga. Tama sudah tenang masuk ITB dengan beasiswa penuh.
Oke berhenti membicarakan soal Tama. Tidak penting. Bukan tokoh utama dalam cerita ini.
Aku dan Sofi pun berpisah. Sofi sepertinya merasa cukup telah mengetahui tempat duduk untuk tes esok pagi. Sementara aku masih ingin memastikan letak toilet dan musala atau masjid di lingkungan sekolah ini. Siapa tahu aku membutuhkannya besok. Banyak petunjuk di kertas-kertas terpampang tanda panah dan bertuliskan toilet dan musala. Sehingga mudah saja untuk menemukannya.
Aku menuju toilet, lalu menuju musala. Dua rakaat salat syukrul wudhu sukses membuat hati ini tenang. Alhamdulillah. Kulanjutkan dengan memohon kemudahan dan kelancaran untuk tes besok. Aku minta yang terbaik, Robb. Aku selalu ingat nasihat Pak Risydi sebelum tes berlangsung. "Do your best, save the rest for Allah."
Empat ke lima hari mulai merenung dan flasback kejadian sebelumnya. Jauh sebelum tes ujian itu.
"Percuma pinter dan masuk ITB atau UPI, tapi durhaka pada orang tua. Gak akan berkah!" teriak ibu dengan penuh murka.
"Astagfirullah!"
Tetiba aku tebangun. Kalimat itu sungguh mencabik-cabik kalbu. Sampai terbawa mimpi. Ya, itu adalah serapah yang keluar dari mulut wanita mulia. Bagaimana aku bisa mengabaikannya.
Tetiba aku tebangun. Kalimat itu sungguh mencabik-cabik kalbu. Sampai terbawa mimpi. Ya, itu adalah serapah yang keluar dari mulut wanita mulia. Bagaimana aku bisa mengabaikannya.
"Astaghfirullah! Astaghfirullahal 'adziim" Aku mengulang-ulang istigfar. Ampuni aku ya Allah. Maafkan aku ibu. Aku sungguh menyesal.
Minggu, 17 Mei 2020
Luluh Lantak
Di sisi lain meronta. Kufur terhadap kebenaran yang jelas Allah kabarkan. Betapa teganya Allah padaku. Padahal aku sudah berusaha dan mengerahkan semua kemampuanku untuk agar mimpi itu terwujud nyata. Down. Serasa dunia ini akan berakhir. Hancur sehancur-hancurnya.
Itulah yang aku rasakan beberapa saat setelah dinyatakan tidak lulus tes masuk perguruan tinggi negeri.
"Assalamu'alaikum!" ucapku datar sambil membuka pintu rumah.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," balas ibu yang kebetulan sedang berada di ruang tengah.
Samar-samar kudengar doa itu, karena aku bergegas menuju kamar. Kututup pintu dengan kasar. Bleug! Aku mendarat di kasur yang empuk dengan telungkup. Kumatikan telepon genggamku. Kuharap tak ada seorang pun yang mengganggu ratapan hatiku.
Tok! Tok! Tok! suara pintu kamarku diketuk kasar. Tak lama suara lantang merambat menembus kayu jati itu.
"Teteh! Kata ibu makan dulu!"
Itu suara adik bungsuku. Tak mau membuat ibu khawatir, aku teriak dari dalam, "Iya!"
Selama kurang lebih seminggu, aku bersemedi di kamar tidur. Sesekali turun hanya untuk makan sekadar mengisi perut agar tetap sehat dan waras. salat lima waktu? Tentu saja tak pernah kulewatkan. Ya, itu adalah kewajiban yang tak bisa kutinggalkan.
Satu-dua hari, pikiranku masih kosong. Kucoba hidupkan telepon genggamku. Tak lama ada panggilan masuk. Ada panggilan dari Ningrum--teman sekelasku. Aku pun mengangkatnya. Hal yang nantinya kusesali.
"Hallo, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam," jawabnya dari sebrang sana.
Dia menanyakan hasil tesku. Entah memang tidak tahu aku tidak lulus atau hanya kura-kura dalam perahu. Lalu mengabarkan bahwa ia lulus masuk Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Oke, fiks! doi hanya Pamer. Ya Allah, kenapa aku terburu-buru menyimpulkan dan terlalu dini berprasangka buruk padanya.
"Oh, ya! Selamat ya! Barakallahu fiik! Turut bersenang hati." ucapku menutup perbincangan.
Tanpa mendengarkan tanggapannya, kusambung dengan salam dan menutup teleponnya. Bukan hanya menekan tombol bergambar telepon warna merah, tapi aku pun mematikan dan membanting telepon ke kasur.
Itulah yang aku rasakan beberapa saat setelah dinyatakan tidak lulus tes masuk perguruan tinggi negeri.
"Assalamu'alaikum!" ucapku datar sambil membuka pintu rumah.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," balas ibu yang kebetulan sedang berada di ruang tengah.
Samar-samar kudengar doa itu, karena aku bergegas menuju kamar. Kututup pintu dengan kasar. Bleug! Aku mendarat di kasur yang empuk dengan telungkup. Kumatikan telepon genggamku. Kuharap tak ada seorang pun yang mengganggu ratapan hatiku.
Tok! Tok! Tok! suara pintu kamarku diketuk kasar. Tak lama suara lantang merambat menembus kayu jati itu.
"Teteh! Kata ibu makan dulu!"
Itu suara adik bungsuku. Tak mau membuat ibu khawatir, aku teriak dari dalam, "Iya!"
Selama kurang lebih seminggu, aku bersemedi di kamar tidur. Sesekali turun hanya untuk makan sekadar mengisi perut agar tetap sehat dan waras. salat lima waktu? Tentu saja tak pernah kulewatkan. Ya, itu adalah kewajiban yang tak bisa kutinggalkan.
Satu-dua hari, pikiranku masih kosong. Kucoba hidupkan telepon genggamku. Tak lama ada panggilan masuk. Ada panggilan dari Ningrum--teman sekelasku. Aku pun mengangkatnya. Hal yang nantinya kusesali.
"Hallo, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam," jawabnya dari sebrang sana.
Dia menanyakan hasil tesku. Entah memang tidak tahu aku tidak lulus atau hanya kura-kura dalam perahu. Lalu mengabarkan bahwa ia lulus masuk Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Oke, fiks! doi hanya Pamer. Ya Allah, kenapa aku terburu-buru menyimpulkan dan terlalu dini berprasangka buruk padanya.
"Oh, ya! Selamat ya! Barakallahu fiik! Turut bersenang hati." ucapku menutup perbincangan.
Tanpa mendengarkan tanggapannya, kusambung dengan salam dan menutup teleponnya. Bukan hanya menekan tombol bergambar telepon warna merah, tapi aku pun mematikan dan membanting telepon ke kasur.
Sabtu, 16 Mei 2020
Yakin pada takdirNya
Tidak bisa dimungkiri bahwa tak setiap mimpi dan angan-angan kita bisa terwujud. Paling tidak ada dua kemungkinan. Pertama, usaha kita yang belum maksimal. Kedua, Allah memang tidak atau belum memperkenankan. Ya, memang adakalanya satu atau dua permintaan kita tak Allah kabulkan. Betapa pun jerih dan lelah yang kita upayakan. Di situlah pentingnya mengimani rukun iman yang keenam. Hal yang sering kita lafalkan dari bangku taman kanak-kanak. Iman kepada qodho dan qodar.
Di satu sisi, ada keyakinan dan prasangka baik terhadap Sang Khaliq. Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan. Sesuai firmanNya surah Albaqarah ayat 216.
"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Di satu sisi, ada keyakinan dan prasangka baik terhadap Sang Khaliq. Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan. Sesuai firmanNya surah Albaqarah ayat 216.
"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Jumat, 15 Mei 2020
Nonton Drakor Lagi
Nonton Drakor lagi?!😅
Jujur, baru nonton drama Korea lagi setelah sekian lama. Kegabutan saat ngAsi atau pumping menggodaku untuk cari temen biar gak kesepian, terutama pas begadang malam hari. Drama apa ya yang seru? Akhirnya keluar judul ini, Crash Landing on You. Drama ini sampe bikin Nagita Slavina nangis-nangis. Mungkin teman-teman yang lain juga?!
Drama ini sudah cukup lewat sih, tapi gak masalah. Katanya, banyak yang bilang kalau drama yang tayang di TvN ini mengalahkan keseruan DOTS? Ada juga yang bilang kebaperan di DOTS belum terkalahkan. Ya, wajar karena drama ini mengangkat tentang kehidupan tentara dan pasukan khusus maka netizen atau warganet pasti otomatis membandingkan dengan drama sebelumnya yang membahas itu. Namun, di sini saya gak mau banding-bandingkan keduanya. Menurutku sih keduanya punya alur dan keseruan masing-masing. Terus mau bahas apa dong? Krik! Krik!
Konflik yang tidak sederhana dalam drama Korea selalu membuat saya jatuh hati. Begitu juga dengan CLoY, mengangkat tema cinta antara dua negara yang tengah berseteru. Keduanya juga mempunyai masa lalu yang suram dan berat sehingga membuat karakter keduanya berubah dastris.
Oke.. Bersambung ya. Hihi...
Jujur, baru nonton drama Korea lagi setelah sekian lama. Kegabutan saat ngAsi atau pumping menggodaku untuk cari temen biar gak kesepian, terutama pas begadang malam hari. Drama apa ya yang seru? Akhirnya keluar judul ini, Crash Landing on You. Drama ini sampe bikin Nagita Slavina nangis-nangis. Mungkin teman-teman yang lain juga?!
Drama ini sudah cukup lewat sih, tapi gak masalah. Katanya, banyak yang bilang kalau drama yang tayang di TvN ini mengalahkan keseruan DOTS? Ada juga yang bilang kebaperan di DOTS belum terkalahkan. Ya, wajar karena drama ini mengangkat tentang kehidupan tentara dan pasukan khusus maka netizen atau warganet pasti otomatis membandingkan dengan drama sebelumnya yang membahas itu. Namun, di sini saya gak mau banding-bandingkan keduanya. Menurutku sih keduanya punya alur dan keseruan masing-masing. Terus mau bahas apa dong? Krik! Krik!
Konflik yang tidak sederhana dalam drama Korea selalu membuat saya jatuh hati. Begitu juga dengan CLoY, mengangkat tema cinta antara dua negara yang tengah berseteru. Keduanya juga mempunyai masa lalu yang suram dan berat sehingga membuat karakter keduanya berubah dastris.
Oke.. Bersambung ya. Hihi...
Tanya Jawab Bedah Novel Voltage of Love #hanyarindu
Pertanyaan 1
Bismillahirrahmannirrahim
Assalamualaikum bu @Ilmi Fadillah
Yang saya rasa menulis itu ada kalanya bingung gitu, mentok mau nyeritain apa lagi, terus terkadang ada rasa males nih mau ngerjain dulu tugas atau ada kegiatan dulu da akhirnya gak beres, nah bagaimana cara ibu membangun motivasi pada diri ibu sendiri untuk menulis? Dan bagaimana caranya supaya ketika menulis itu tidak mentok udah aja gak mau di lanjut, mohon solusinya🤭
Jazakillah bu🥰 ( Risna Oktapiani, ppi 60 Katapang)
Jawaban:
Wah, maa syaa Allah pertanyaannya. Itu namanya writer's block. Itu bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan penulis senior tanpa kecuali. Bagaimana mengawalinya?
1. Buat outline
Banyak tinggal googling aja. Di outline sudah jelas tergambar cerita dari awal, puncak sampai ending seperti apa yg penulis inginkan. Itu insya Allah akan meminimalisir kebingungan mau menulis apa lagi.
2. Writing time
Buat waktu khusus untuk menulis. Konsisten dengan jadwal menulis itu. Silakan atur sedemikian rupa sehingga kegiatan lain yang tak kalah pentingnya juga tidak terbengkalai.
3. Rehat
Kalau misalnya memang jenuh banget, dan mentok banget. Mungkin memang kita butuh istirahat dulu. Lakukan hal lain yg kita sukai. Misal suka nonton, silakan nonton dulu. Sampai mood membaik.
Banyak lagi sih yg jelas harus tahu penyebab kita mandeg nya kenapa. Setelah diketahui makan bisa dengan mudah diatasi.
Satu lagi tentang motivasi menulis:
Banyak hal sih..
Salah satunya karena saya ingin berbicara pada generasi setelah saya. Misal di VoL, bagaimana Bandung sekitar tahun 2006-2007 bagaimana sekolah dan pembelajaran saat itu. Dengan buku kita bisa berbicara itu tanpa harus berkoar-koar.
Saya takut lupa memori yg indah itu, saya juga takut segera dilupakan kalau saya sudah meninggal nanti.
Maka,
"Menulislah! karena manusia mudah lupa dan dilupakan."
Semoga tidak puas😅
Pertanyaan 2
Apa tantang yang dihadapi ketika menulis ini? Dan bagaimana cara untuk menjaga semangat menulis? (M Al Bani, PPI 45 Rahayu)
Gak ada kesulitan yg berarti sih. Paling di awal saja saat latihan menulis sebelum mulai prolog, vol 1 sampai selesai.
Susahnya membuat prolog yg memikat dan puncak. Sampai dirombak betul tulisan saya. Dibuang dan dibuat baru. Selanjutnya lancar jaya.
Saya paling tidak tega membuat peran antagonis😅 berasa dosa. Namun, saya yakinkan lagi bahwa ini fiksi, jadi gak masalah.
Menjaga semangat ya, dengan menentukan deadline. Dan bayangkan manfaat kalau tulisan kita selesai. Alhamdulillah.. Semangat kembali.
Semoga tidak puas😉
Pertanyaan 3
Bismillah teh il apa alasan teh il bikin novel bergenre romantis? Kenapa ga ngambil genre fiksi ilmiah?
(Jasmine Aulya F, PPI 01 BDG)
Jawabannya karena saya suka genre roman🥰
Karena menulis itu harus hal yg kita sukai maka saya menulis roman. Begitu Jasmine.
Semoga tidak puas😉
Pertanyaan 4
berhubung baru mulai mau curatcoret🤭, kadang suka bingun.. terus suka ragu. terlebih kurang percaya diri dgn apa yg coba saya tulis itu.. entah kenapa.. pdhl saya sudah mencoba "ah bodo amat.. tulisan² saya" 😂 tapi ttep ketika saya mau coba ngepost tulisan saya, sikap itu muncul tiba² dan pasti tulisan itu gak bertahan lama, langsung saya delete lagi terkadang juga saya mengurungkan diri kembali.🙈
gimana yaa cara ngatasi sikap itu🤭😂 (Dina Sumiati, Imarot)
Jawaban:
Dina ini mungkin mengalami proses krisis kepercayaan diri. Ya, sama juga dialami sebagian penulis.
Kita harus memulai, tak apa jelek.. tak apa gak enak dibaca..
Percayalah, tulisan kita akan menjadi lebih baik jika terus dilatih.
Publish, bukan hanya untuk diri sendiri.
Menulis itu bukan masalah teori, tapi lebih ke praktik.
Menulislah seperti anak kecil yang belajar berdiri, berjalan. Apakah dia pernah berhenti semangatnya karena jatuh?
Tentu saja tidak. Kalau dia berhenti maka banyak anak yg tidak bisa berdiri sampai dewasa. Banyak anak yg tidak bisa berjalan setelah dewasa kalau mereka putus asa hanya karena jatuh.
Jangan lupa juga banyak membaca. Membaca juga melatih kita untuk membuat tulisan yg baik itu seperti apa.
Membaca akan memperkaya diksi kita dalam menulis juga.
Sehingga tulisan kita menjadi lebih baik lagi.
Semoga tidak puas Dina😉
Pertanyaan 5
Izin bertanya teh, dulu aku punya keinginan besar buat menerbitkan buku. Tapi, semakin lama aku semakin sibuk di organisasi, keinginan buat ngetik naskah juga semakin berkurang dan pernah berfikir buat stop, atau berhenti dari dunia literasi. Pertanyaannya, gimana sih cara membagi waktu kesibukan kita di dunia nyata sama dunia literasi? Akhir akhir ini juga Yulia lebih milih kewajiban organisasi dan melupakan naskah yang pernah Yulia ketik dulu, gimana masukannya teh? Terimakasih ^^
(Yulia nurfadhillah, SMA Muhammadiyah Cipanas)
Jawaban
Pertanyaan ini sebenarnya mirip dengan pertanyaan pertama dari Risna boleh ditengok lagi.
Yulia ini sudah bagus punya naskah. Selesaikan sayang sekali.
Tadi yg saya bilang harus punya waktu untuk writing time tidak perlu lama. Manfaatkan waktu yang benar-benar luang dan enak untuk menulis. Satu jam cukup sehari. Tidak akan terlalu membuang waktu. Konsisten, insya Allah naskahnya selesai.
Tanya lagi ke hati, buat apa kita nulis? Buat apa nerbitin buku? Luruskan niatnya.. Kalau sudah menemukan niat awal insya Allah kembali semangat.
Dampak kalau tidak menyelesaikan apa? Dampak kalau selesai apa? Apa yg kita peroleh? Silakan direnungkan. Seberapa penting naskah tersebut.
Begitu Yulia, semoga tidak puas😉
Pertanyaan 6
Bismillah..
Teteh saya zidni husna mau bertanya
•Suka dan dukanya bu ilmi saat menulis buku Voltage of love🤭
Juga lesan bagi kita khususnya remaja yang saat ini sedang mengalami masa-masa percintaan (Zidny)
Jawaban:
Suka dukanya apa ya? 🤔
Karena ini pengalaman sukanya saat mengingat masa-masa konyol di SMA. Senyum-senyum sendiri😅
Dukanya keinget juga kisah sedih bagian akhir bener-bener bikin melow saat menulis dan menyunting bagian ini. Sampai bener-bener nangis.
Biar tahu selanjutnya harus baca sendiri..
Remaja sekarang ya? 🤔 jujur ya saya lebih menyukai remaja yg menyimpan cintanya dalam diam.
Karena rasa itu memang tidak bisa dimungkiri, memang pemberian dari Sang Maha.
Namun, kita insya Allah bisa menjaganya jangan sampai diumbar-umbar sampai yg halal tiba. Jodoh kita dunia akhirat. (Cie😅😂)
Manfaatkan masa SMA (Mu'allimin) dengan mencari teman sebanyak-banyaknya. Menjalin persahabatan dan pengalaman seluas-luasnya.
Saya gak pacaran ya waktu sekolah😉 lagi seru-seruan sama teman-teman sama pelajaran😆
Begitu Zidniy semoga tidak puas😊
Pertanyaan 7
Bismillah
Apa hal awal yang memotivasi teh ilmi untuk terjun ke dunia literasi ?
Jika tadi lebih spesifik ke tulis menulisnya, sekarang lebih umum ke dunia literasinya teh, 🙏🏻
(Tia lutvia fadhillah, Ppi 60 Katapang)
Jawaban:
Saya dan dunia literasi seperti jodoh yang tidak bisa ditukar.
Kalau ingat saya pernah bilang saat launching buku ADP. Saya masuk ke literasi karena terpaksa dan dipaksa.
Saat SD saya dijejali novel oleh kakak saya, bacaan dia yg sudah SMA 😅
Novel apa coba yg pertama Yesaya baca sampai habis?
Ketika Mas Gagah Pergi karya Bunda Helvy.
Di situ apa saya suka? Belum.
Di MTs dan SMA nilai Bahasa saya selalu paling tinggi, terutama bahasa Indonesia. Saya suka latihan-latihan soal juga.
Entahlah, masuk pula jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Belum begitu suka. Menulis dan membaca kebanyakan karena tugas😆
Saya belum minat jadi penulis.
Saya kira itu semua konspirasi alam semesta. Memaksa saya terjun ke dunia literasi ini.
Saya pun jadilah guru Bahasa Indonesia. Semakin membuat saya terdesak banyak membaca dan menulis.
Sampai 2017 saya ikut pelatihan menulis online. Katanya kuliah di jurusan bahasa harusnya sudah punya 4 buku karena kurang lebih 4 tahun dihabiskan.
Dari sana saya berazam untuk menjadi penulis.
Banyak membaca banyak berlatih menulis. Ikut pelatihan sana-sini. Ikut lomba,dll.
Lebih serius lagi mewujudkan mimpi jadi penulis.
Dan hasilnya karya-karya yg saya tulis di CV
Begitu, Lutvia. Semoga tidak puas😉
Pertanyaan 8
bismillah...
perkenankan saya untuk bertanya😁
perihal judul buku ini "Voltage of love" atau disingkat "Vol" tentunya kaitannya yaitu genre buku itu sendiri yang bergenre roman, nah selain daripada itu apakah ada filosofi lain terkait penamaan judul buku ini?
terimakasih
(Wijdan Khairul M M, Muallimin PPI 45 Rahayu)
Jawaban:
Akhirnya keluar juga pertanyaan ini.
Voltage of Love
Pertama karena belum ada judul senyeleneh ini. Kenapa saya ambil Bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia karena masyarakat lebih suka dengan istilah asing. Misal: Kopi Hitam dengan Black coffee
Coba rasakan bedanya. Beda kan? Hahaha..
Harganya pun beda kalau Kopi hitam paling mahal 4000 rupiah, kalau Black Coffee bisa sampai 20.000 bahkan lebih. Padahal sejatinya sama.
Voltage itu sebenarnya di ambil dari salah satu bab dalam VoL, arus dan tegangan. Yang istilahnya volt, voltase, atau voltage (Ing)
Di bab tersebut Adeela memang sedang belajar fisika di kelas dengan guru fisika baru yang ia kagumi 🥰 betapa tidak, pintar, ganteng, modis, dan keren. Makanya dari sana asalnya tidak suka jadi suka banget fisika. Yang tadinya duduk paling belakang kalau pelajaran Fisika atau kabur dari kelas, berubah menjadi rebutan bangku paling depan. Ya, disana timbul rasa cinta ke Fisika dan embel-embelnya.
Kebayang kah?
Semoga tidak puas, Wijdan😉
Rabu, 29 April 2020
Testimoni Pembaca Voltage of Love
Testimoni Pembaca Voltage of Love
Apa sih kata mereka yg sudah membaca VoL secara lengkap? Mau tahu atau tahu banget? (Cukup dijawab di dalam hati dulu) 🤭
Apa sih kata mereka yg sudah membaca VoL secara lengkap? Mau tahu atau tahu banget? (Cukup dijawab di dalam hati dulu) 🤭
"Bukunya menarik, kekinian. Cocok untuk kalangan remaja. Buku yang menyajikan kehidupan remaja di sekolah ini membuat kita tahu diantara problematika yang dihadapi oleh para pelajar di masa sekarang, seperti naik turunnya semangat dalam belajar karena lawan jenis, membuat kita tau apa yang mereka rasakan. Dengan penyampaian yang ringan, membuat pembaca mudah memahami dan seakan masuk ke dalam cerita tersebut"
(Albani, Ketua Perak periode 2018-2019)
"Bacaan pulang kerja😎 Makasih Imi Fadhil 🙏🏻sudah menjadikan 3G jadi inspirasi di bukunya, semoga bisa berkarya terus👍🏻"
"Bru baca bbrp chapter dah snyum2 sndiri nih😊"
"yaa bbrp crita trinspirasi dr kisah nyata jdnya bsa nostalgia 😊"
"spoiler dikit: ada cerita ttg genk yg dulu rame d kelas, krna prnh jd saksi hidup jdnya mnarik aja ngikutin alurnya"
"effortless imagination lah 😎"
(Sanditama Bramantika, S.T. alumni ITB)
"Voltage of Love membuat saya
bernostalgia dengan masa remaja. Benar-benar membuat rindu masa itu. Cinta dan persahabatan, menjadi dua kekuatan untuk karya ini. Bacalah dan rasakan sendiri."
(Yovie Kyu, Founder Q-Writing Consulting)
Maaf ya, untuk yg testimoni kedua dari Sandi, benar-benar tidak diedit. Saya mau memang pure, apa adanya 🤗
Jadi semua ya seadanya dari para pembaca😉
Jadi semua ya seadanya dari para pembaca😉
Mungkin cukup sekian penjelasan dari saya. Kalau masih penasaran nanti boleh ditanyakan lewat moderator.
Salam Literasi👆🏻👆🏻
Langganan:
Postingan (Atom)