Selasa, 09 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 4: Lalamunan

 


Sebagian besar kandungan Al-Qur'an adalah berisi tentang kisah. Kisah para nabi atau kisah-kisah orang-orang terdahulu yang sarat akan hikmah. Hal itu menunjukkan bahwa metode kisah sangat menarik bagi manusia.


Emak senang sekali berkisah  tentang hidupnya atau sekadar mendongeng cerita-cerita rakyat yang hidup pada zamannya, yang tersebar dari mulut ke mulut ke berbagai daerah dan turun temurun dari generasi ke generasi sampai sekarang. Menjadi pelajaran dan pandangan hidup masyarakat yang menyimpannya. 


Suatu hari, Emak bercerita seperti biasa. Aku selalu antusias kalau Emak sudah memulai dongengnya. Sebenarnya, Emak berkisah dengan bahasa Sunda, tapi aku coba ceritakan kembali dengan bahasa Indonesia agar lebih dimengerti oleh yang lain. Bisa jadi orang-orang sudah tahu dongeng ini. Sama persis atau berbeda versi. Baiklah, kita mulai saja.


Seorang perempuan setengah baya tengah selonjoran di tengah rumah. Ia mengenakan kebaya dengan kain samping, memakai kerudung yang diselndangkan di kepalanya. Ia baru saja mengambil telur-telur ayam hasil dari kandangnya sendiri. Kurang lebih telur itu ada 20 biji.


Ia simpan dalam sebuah wadah (boboko) dan meletakkannya di atas kain sampingnya. Ia pun mulai melamun, berkhayal suatu hari nanti telur-telur itu menetas menjadi anak ayam. Kemudian menjadi ayam dewasa dan bertelur lagi dan lagi sampai menghasilkan telur yang sangat banyak. 


Telur yang banyak itu, ia bawa ke pasar lalu ia belikan dua ekor domba. Beruntunglah perempuan itu, domba itu tak lama beranak pinak menjadi domba-domba yang gemuk, subur dan banyak.


Ia kembali menjual hasil ternaknya ke pasar. Ia tukar dengan dua ekor sapi. Begitupun sapi itu, tak lama menghasilkan anak-anak sapi yang sehat. Tumbuh dan berkembang dengan baik lagi banyak.


Sapi-sapi itu pun dijual dan hasilnya dibelikan sebuah mobil. Ia sangat sebang karena bisa jalan-jalan dengan kendaraan bermotor beroda empat itu.


Saat tengah mengendalikan setirnya, tiba-tiba orang-orang bergerumul di depannya. Ia pun panik dan spontan menginjak rem dengan kuat.


Ia pun terperanjat lalu tersadar kembali ke realita yang ada. Dua puluh telur itu, sudah pecah berserakan, sebagian mengenai kain sampingnya. Penuh memenuhi ruang tengah itu. Tak ada yang bisa ia perbuat, selain bengong dan menyesali perbuatannya.


Berkhayal dan bermimpi itu boleh bahkan harus setinggi-tingginya. Namun, apa artinya mimpi tanpa realisasi. Hanya akan ada sesal di ujungnya.


*bersambung ke bagian 5 insya Allah


#panahkompilasi4

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar