Kamis, 11 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 6: Mengenal Bapak Aji

 

Aku tak sempat melihat Bapak Aji, yang aku ingat Emak memang sudah sendiri. Katanya, Bapak Aji tutup usia sekitar tahun 1992, saat itu aku baru berusia dua tahun. Wajar memoriku belum mampu mengingat apa pun. Namun, sosok Bapak Aji selalu ada di hati Emak. Aku bisa mengenalnya lebih dekat dari cerita-cerita Emak.


Bapak Aji memang orang yang sabar dan setia. Terbukti dari penantiannya di awal pernikahan yang rela menunggu kesiapan Emak. Beliau juga sangat sabar menghadapi Emak yang bawel dan cerewet. Maklum kebanyakan istri memang seperti itu. Emak saksinya, Bapak Aji tak pernah marah pada Emak atau anak-anaknya. 


Hanya pernah satu kali saja berbicara dengan nada tinggi. Saat Emak ngeyel, terus mengoceh. 

"Gelo kitu sugan jelema teh," tegas Bapak Aji. 

Seusai itu Emak tak pernah berani menantang Bapak Aji lagi. Kapok. 


Setia dengan satu pasangan walau sempat LDR atau LDM cukup lama dengan Emak. Bapak Aji juga sangat mengutamakan pendidikan. Terbukti semua anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan bersekolah di pesantren. Melihat anak-anaknya pergi sekolah setiap hari cukup bagi Bapak Aji. Tak pernah ia melihat hasil rapor mereka. Mungkin, proseslah yang paling penting dari segalanya menurutnya. 


Anak-anak rajin beribadah tanpa disuruh serta berakhlak baik sudah lebih cukup. Kata ibu, Bapak ataupun Emak tak pernah memeriksa buku atau rapos hasil belajar. Bahkan, ibu dulu sering memanipulasi tanda tangan orang tua di rapornya.


Bapak Aji juga seorang aktivis masjid. Salah satu pendiri masjid di lingkungan tempat tinggalnya. Bapak Aji terkenal dengan pribadinya yang tenang dan sabar. Sering dalam berjuang mereka berselisih pendapat, Bapak Aji tak pernah melawan, hanya mengalah dan mengalah. Begitu kesaksian anak-anak lelaki Bapak Aji yang selalau ikut ke masjid. 


Tenang dan tidak grasak-grusuk juga sudah melekat di mana pun Bapak Aji berada. Di tempat kerja Bapak Aji pun begitu. Ia bekerja menjajakan rongsokan di kaki lima. Suatu hari satpol PP datang untuk merazia para pedagang kaki lima. Pedagang lain kalang kabut, membereskan dagangannya dan langsung kabur. Sementara Bapak Aji masih saja tenang. Membereskan satu per satu barang dagangannya. Petugas menggebrak pun Bapak Aji tetap tenang. 


"Takut itu sama Allah, untuk apa takut pada sesama manusia."


Terbukti Bapak Aji selamat dari petugas dan pulang selamat. 


Ada satu lagi prinsip Bapak yang agak nyeleneh, tapi kalau dipikir-pikir lagi memang begitu seharusnya. 


Bapak tak pernah mengucap, punten 'permisi' pada orang-orang yang duduk di pinggir jalan. Kata Bapak, harusnya mereka yang bilang punten karena sudah menghalangi jalanan. Bapak Aji tampak tidak suka pada orang-orang yang suka nongkrong itu. Memang kebanyakan yang mereka lakukan tak berfaedah. Bermain gitar, gaple, bahkan kadang minun-minum (minuman keras). Astaghfirullah.. 


Kami memang belum sempat bertemu denganmu, Bapak Aji. Semoga kita bisa berkumpul di surga-Nya. Amin. 


#panahkompilasi7

#komunitasliterasi

#komunitasliterasipemudipersis

#penamuslimah

#panahkompilasi

#pemudiroadtomuktamar

#kolektifkolaboratif

#pemudicerdasberakhlakulkarimah




Tidak ada komentar:

Posting Komentar