Selasa, 09 Agustus 2022

Cerita Emak Bagian 5: Bu Soang

 



Sebuah dongeng pasti menggambarkan zamannya. Emak pun senang memelihara unggas di rumahnya. Ada berbagai macam unggas, di antaranya ayam, bebek, entok, soang (angsa), dan ada juga tongki. Tongki itu unggas yang sangat unik badannya besar melebihi unggas lain, hasil persilangan antara entok jangan dan bebek betina.

Saking banyak ternaknya, Emak sampai dijuluki, "Bu Soang". Saya ingat saat masih di bangku sekolah dasar (SD). Biasa disuruh Emak beli ketupat sayur. Menurutku itu ketupat sayur terenak yang pernah rasakan seumur hidup. Mungkin berlebihan, tapi memang begitu adanya.

Pedangangnya sebaya dengan Emak, mungkin temannya. Saat berbincang dengan si ibu, ternyata ia mengenali Emak. "Oh, cucunya Bu Soang ya?! " Aku pun mengangguk walau sebenarnya merasa bingung.

Di rumah pun aku langsung konfirmasi kenapa Emak dipanggil Bu Soang. Katanya memang karena uang gasnya banyak salah satunya, angsa. Banyak orang-orang mencari dan ingin membeli unggas-unggas Emak. Bahkan, orang-orang yang tinggal jauh dari rumah Emak. Seperti pedagang ketupat ini, rumahnya jauh harus menyebrang jalanan. Namun, dulu berlangganan beli unggas ke tempat Emak.

Di zaman dulu memang sudah mengenal sistem pembagian tugas. Suami bekerja di luar mencari nafkah. Istri di rumah, tapi masih tetap produktif dengan membuka warung kecil, atau beternak unggas. Istri pun bisa membantu ekonomi keluarga tanpa keluar dari fitrahnya sebagai perempuan.

Apalagi menengok zaman lebih dahulu lagi di desa-desa. Yang kebanyakan mata pencahariannya adalah pertanian. Tidak dimungkiri terjadi sampai hari ini. Setiap pagi, suami pergi ke sawah atau ladang. Istri di rumah mengurus anak dan menyiapkan santapan makan siang.

Istri menapi  'memilah beras yang akan dimasak' dan memisahkan benyer dan gabah. Para unggas sudah menanti bagiannya di depannya. Menyantap makanan dari tuannya.

Setelah makanan siap, sang istri mengantarnya ke sawah untuk suaminya. Sepulang itu istri kembali mengurus ternak-ternaknya. Memasukkan ke kandang setelah ternak-ternaknya mencari makan sendiri. Dahulu si unggas dibiarkan mencari makan sendiri. Masih banyak ladang makanan untuk para unggas yang gratis. Misal, di sawah-sawah yang sudah dipanen atau di kebun orang.

Tidak seperti sekarang, para unggas disimpan di kandang diberi pakan instan dari pabrik. Padahal unggas kampung lebih sehat dan rasanya jauh lebih enak.

Kadang, unggas itu disembelih sebagai santapan keluarga atau ada tetangga yang butuh. Bisa sistem barter atau dibayar dengan uang. Tanpa disadari seorang istri pun sudah membantu perekonomian keluarga dengan caranya yang sederhana. Tidak usah menuntut emansipasi, ingin berkarir di luar dan melupakan tugas utamanya.

Perempuan boleh saja bekerja, tapi atas rida dari suaminya. Hanya sebagai aktualisasi diri, bukan mencari nafkah yang bukan kewajibannya. Wallahu a'laam.

#panahkompilasi5
#komunitasliterasi
#komunitasliterasipemudipersis
#penamuslimah
#panahkompilasi
#pemudiroadtomuktamar
#kolektifkolaboratif
#pemudicerdasberakhlakulkarimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar