Rabu, 10 Agustus 2022

Cerita Selingan: 2 Jam Terkunci di Atap Rumah

 


Niatnya hari ini aku akan melanjutkan serial cerita emak. Namun, kejadian kemarin tak bisa aku lewatkan begitu saja.

Aku pulang dari rumah mama pagi-pagi saat anak-anak berangkat sekolah. Aku siapkan baju si kecil dan sarapan. Setelah itu aku pun naik ke tangga untuk mengambil pakaian yang sudah lama kering di atas. Sekalian aku mau menjemur pakaian lain yang sudah beres dicuci. Aku pun membawa pakaian basah itu ke atas.

Atas saranku, suami pun bolak-balik tangga untuk menyimpan galon-galon bekas yang ceritanya akan ditanami macam-macam tanaman.

Pakaian di jemuran sudah kering dan sebagian ada yang jatuh oleh angin. Wajar sudah hampir seminggu pakaian-pakaian itu tidak terjamah olehku. Aku kembali menjemur pakaian yang sudah dia keranjang itu. Alhamdulillah selesai.

Saat aku hendak turun membawa pakaian yang kering, aku curiga. Kenapa pintunya tertutup rapat. Aku tak enak hati. Benar saja pintunya terkunci. Aku gedor-gedor. Percuma. Tak ada orang di rumah. Suamiku sudah pergi ke bengkelnya.

Di situ aku berusaha husnuzan. Oh, mungkin suamiku lupa mengunci pintu. Walau pikiran negatif muncul di benakku. Dia sengaja mengunci pintu. Tega sekali.

Aku masih berusaha tenang, dan berkali-kali beristigfar. Ini kali kedua aku terkunci di tempat ini. Pertama, karena anak sulungku yang marah padaku karena tidak mau disuruh ini itu. Dia kesal dan sengaja mengunci pintu. Katanya sih lupa, tidak dibuka lagi dan dengan santainya main ke luar rumah dengan teman-temannya.

Untungnya hari itu aku bawa ponselku. Aku menelepon suamiku, lalu bantuan pun datang. Sementara hari ini aku tak bawa apa-apa. Ponsel tertinggal di bawah.

Sambil menunggu aku melipat-lipat pakaian sekeranjang penuh itu sampai selesai. Belum ada tanda-tanda ada manusia yang datang.

Sebenarnya, aku terhubung dengan tetangga di sebelah yang  asih saudara. Tinggal melangkah saja, sudah bisa masuk ke rumah itu. Namun, percuma jam segitu tak ada orang di sana.

Aku mencoba memejam mata, tidur di lenganku sambil terduduk. Aku dengar suara Uwak yang biasa mengurus sawah di bawah. Aku akan teriak minta tolong, "Wak, tolong bukakan pintu tangga!" tapi saat kulihat tidak jelas. Aku takut saat kupanggil justru orang lain.

Kuurungkan niatku. Kembali ke saung dan merenung. Sebegitu menjengkelkan kah diriku sampai-sampai dikunci berjam-jam di sini. Aku masih bisa menahan air mata.

Biasanya suami bolak-balik rumah, tapi ini tidak ada. Si bungsu pun sepertinya anteng di rumah neneknya. Biasanya seperti setrikaan, ke sana kemari.

"Neng! Neng!" terdengar sahutan di bawah.
Aku tak menjawab. Langsung menuju pintu itu dan menggedor-gedor. Dugdugdug.

Pintu pun terbuka. Di atas sana sudah membayangkan seperti di drama-drama televisi atau di buku-buku fiksi. Apakah aku akan memeluk yang sudah menyelamatkanku dan menangis di bahunya. Ternyata itu hanya fiksi belaka. Berbeda dengan realita yang ada. Yang ada hanya kesal saja.

"Dari tadi di sini?" uacapnya datar.
Aku pun membawa keranjang berisi pakaian yang sudah rapi. Lelaki mungkin makhluk yang benar-benar tidak peka. Sudah tadi bawa keranjang pakaian basah sendiri, dikunci di atas, bawain kek keranjangnya. Di situ pecahlah tangis. Sedih campur kesal, dan kecewa.

Di atas tadi sudah pengen pipis, sakit perut. Untung masih bisa di tahan. Anginnya besar, lagi kurang sehat dan batuk-batuk. Turun tangga langsung menuju kamar mandi. Sekalian siap-siap ada kegiatan pengajian rutin di jamaah. Pastinya sudah terlambat.

"Hampura, aslina teu sadar aya neng di sana. 'Minta maaf, aslinya tidak sadar ada neng' "

Katanya kebiasaan kalau sudah dari atas refleks mengunci pintu.

Aku tidak meresponsnya. Masih marah.

Sorenya, ia bilang lagi, "Aku terus terngiang-ngiang merasa berdosa, beneran gak sengaja mengunci pintu."

***Selesai
#panahkompilasi6
#komunitasliterasi
#komunitasliterasipemudipersis
#penamuslimah
#panahkompilasi
#pemudiroadtomuktamar
#kolektifkolaboratif
#pemudicerdasberakhlakulkarimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar